Telset.id – Maextro V800, minivan mewah China seharga USD150.000 atau sekitar Rp2,4 miliar, gagal dalam pengujian pengereman darurat independen. Tiga unit terpisah mengalami kegagalan bracket pedal rem saat simulasi pengereman dari kecepatan 100 kilometer per jam. Temuan ini menjadi pukulan telak bagi citra mobil listrik China yang selama ini dipuji karena rasio harga terhadap nilai.
China memang dikenal sebagai surga mobil listrik murah. Insentif pemerintah yang besar membuat konsumen bisa membeli EV lengkap dengan harga setengah dari model Barat. Produsen tahu pembeli ingin segalanya dengan harga terendah, tapi kualitas—terutama fitur keselamatan paling dasar—tidak boleh dikorbankan. Logikanya, membeli mobil mewah seharusnya membebaskan pemilik dari masalah yang tak terbayangkan di tahun 2026. Logika itu runtuh bersama bracket pedal rem Maextro V800.
Dalam pengujian independen yang dilakukan jurnalis Dongchedi, bukan satu, bukan dua, tapi tiga mobil terpisah mengalami kegagalan bracket pedal rem saat pengemudi mensimulasikan pengereman darurat dari 62 mil per jam atau setara 100 kilometer per jam. Dongchedi dengan tepat mencatat bahwa situasi ini sebenarnya tidak ekstrem, dan pedal rem yang gagal berfungsi adalah hal yang tidak dapat diterima. Perlu ditegaskan, pedal remnya sendiri tidak patah, melainkan bracket tempat pedal tersebut berporos.
Desain Bracket Jadi Biang Kerok
Mount atau dudukan pedal rem Maextro V800 terbuat dari polypropylene dengan 40 persen glass fiber. Material ini sebenarnya tidak jarang di dunia otomotif. Masalahnya, Maextro mengadopsi desain bracket yang aneh dan bisa memicu kegagalan. Menurut catatan CarNewsChina, tidak ada cukup penguat atau reinforcement di dalam bracket tersebut. Selain itu, jarak antara titik poros dan pusat pedal rem cukup panjang, yaitu 5,1 inci atau sekitar 130 milimeter. Kombinasi dua faktor ini membuat bracket rentan patah saat menerima beban pengereman keras.
Ironisnya, kegagalan seperti ini bahkan tidak bisa diterima pada mobil entry-level, apalagi pada flagship seharga USD150.000. Maextro V800 diposisikan sebagai minivan mewah dengan segudang fitur canggih. Ada steer-by-wire, mesin kopi built-in, layar proyektor retractable 41,6 inci, sistem audio 41 speaker, dan jendela yang dioperasikan dengan gestur tangan. Semua kemewahan itu menjadi tidak berarti ketika pedal rem yang paling dasar pun gagal menjalankan fungsinya.
Dari sisi dapur pacu, Maextro V800 merupakan extended-range EV atau EV dengan rentang jelajah diperpanjang. Minivan ini mengandalkan baterai CATL berkapasitas 65 kilowatt-jam yang menyalurkan daya ke konfigurasi dual-motor dengan tenaga 523 horsepower atau setara 390 kilowatt. Mesin bensin 1,5 liter berperan sebagai generator untuk sistem tegangan tinggi dan secara fisik tidak terhubung ke roda. Spesifikasi teknis ini menegaskan posisi V800 sebagai kendaraan premium, bukan sekadar minivan biasa.
Pihak Maextro akhirnya merespons temuan tersebut. Automaker menyatakan tidak mengetahui adanya kegagalan bracket pedal rem pada mobil yang sudah sampai ke tangan pelanggan. Meski demikian, Maextro berjanji akan mengoptimalkan desain bracket tersebut dan menawarkan upgrade gratis kepada pemilik. Langkah ini menunjukkan pengakuan tidak langsung bahwa ada masalah pada desain, meski klaim tidak ada laporan dari pelanggan tetap menjadi tameng komunikasi perusahaan.
Kasus Maextro V800 menjadi pengingat bahwa kemewahan tidak otomatis berarti kualitas. Pasar mobil listrik China memang agresif dalam hal harga dan fitur, tapi insiden ini menunjukkan bahwa pengujian independen tetap krusial untuk mengungkap kelemahan yang tidak terlihat di brosur. Bagi konsumen, terutama di segmen premium, verifikasi pihak ketiga menjadi benteng terakhir sebelum mempercayakan keselamatan pada klaim pabrikan.
Bagi industri, insiden ini bisa menjadi titik evaluasi. Standar keselamatan dasar seperti bracket pedal rem seharusnya tidak menjadi kompromi, terlepas dari harga jual kendaraan. Jika mobil seharga USD150.000 saja bisa gagal dalam simulasi pengereman yang tidak ekstrem, pertanyaan tentang kontrol kualitas di lini produksi mobil listrik China menjadi relevan untuk dibahas lebih lanjut.





Komentar
Belum ada komentar.