Telset.id – Kia memulai program car-sharing remote pertama di Korea Selatan dengan menggunakan van listrik PV5. Pilot project ini mulai beroperasi pada Kamis (Oktober 2026) di Pangyo, Provinsi Gyeonggi, dan akan berjalan hingga akhir tahun. Kia menyebut layanan berbagi kendaraan ini sebagai yang pertama di Korea Selatan yang memakai teknologi remote driving.
Program ini menjadi langkah konkret Kia setelah menerima pengecualian khusus untuk regulatory sandbox remote driving dari Kementerian Tanah, Infrastruktur, dan Transportasi Korea pada April lalu. Sebelumnya, pada November 2025, Kia membentuk Remote Driving Consortium bersama Socar, KT, dan startup autonomous driving SUM, sekaligus menampilkan demonstrasi remote driving pertama di jalan publik oleh merek domestik Korea.
Mekanisme layanannya cukup sederhana. Pengguna yang berminat dapat memesan kendaraan melalui aplikasi khusus. Setelah reservasi masuk, van listrik Kia tersebut bergerak sendiri menuju lokasi yang diminta tanpa pengemudi, mengandalkan teknologi remote driving. Pengguna lalu bisa mengemudikan PV5 sesuai kebutuhan dan memarkirnya di lokasi yang diinginkan. Setelah itu, seorang remote driver akan membawa kendaraan kembali ke garasi menggunakan koneksi nirkabel 4G atau 5G.

Konsorsium dan Pembagian Peran
Untuk pilot service yang diluncurkan pekan ini, Kia, SUM, Mobiops, dan Korea Road Traffic Authority tergabung dalam sebuah konsorsium. Provinsi Gyeonggi, KT, UMOS ONE, Next Generation Convergence Technology Research Institute, serta Gyeonggi Automobile Rental Business Association mendukung proyek ini sebagai organisasi mitra.
Pembagian tugasnya jelas. Kia menyediakan van PV5 sekaligus mengawasi jalannya proyek. SUM mengembangkan solusi remote driving, sementara Mobiops menangani operasional layanan. Korea Road Traffic Authority membantu proses tinjauan regulasi. Selama masa pilot, para mitra akan memverifikasi teknologi remote driving dan kelayakan operasional layanan dalam kondisi dunia nyata.
Kia menilai program ini dapat membantu pelaku bisnis meningkatkan efisiensi dan mengurangi beban memiliki armada kendaraan sendiri. Selain itu, layanan ini dinilai praktis karena pengguna bisa mengambil dan mengembalikan kendaraan sesuai keinginan tanpa harus terikat lokasi garasi.
Baca Juga:
Jejak Regulasi dan Target Komersialisasi
Perjalanan Kia menuju layanan ini tidak instan. Setelah mendapat pengecualian regulatory sandbox pada April, Kia menandatangani MOU dengan KT dan SUM pada Juli untuk mendorong komersialisasi teknologi remote driving. Kia menargetkan layanan ini bisa diluncurkan dalam waktu satu tahun.
Data yang dikumpulkan selama masa uji coba akan menjadi bahan bagi Kia untuk terus menyempurnakan teknologi. Perusahaan berencana memperluas layanan pada 2027 guna mempercepat komersialisasi layanan remote driving berbasis PV5. Langkah ini menempatkan Kia di garis depan pengembangan remote driving di Korea Selatan, sejalan dengan tren kendaraan listrik yang makin terhubung dengan infrastruktur jaringan.
Pengembangan teknologi seperti ini menuntut dukungan konektivitas dan komputasi yang andal, wilayah yang juga bergerak cepat di segmen perangkat konsumen. Sebagai gambaran, pasar gadget tanah air turut diramaikan oleh perangkat berperforma tinggi seperti RedMagic 12 Pro+ yang mengandalkan chipset kelas atas untuk kebutuhan komputasi berat.
Di sisi lain, isu hak cipta dan otomasi juga menjadi perhatian publik, misalnya poster AI yang menuai kecaman ilustrator. Sementara itu, industri pertahanan mencatat dinamika tersendiri lewat ekspor drone militer yang menunjukkan adopsi teknologi otonom makin luas.
Kembali ke Pangyo, pilot project Kia menjadi ujian nyata bagi remote driving di jalan publik Korea Selatan. Selama beberapa bulan ke depan, konsorsium akan mengukur sejauh mana teknologi ini mampu menjalankan operasional car-sharing secara konsisten. Hasil verifikasi itulah yang akan menentukan apakah layanan berbasis PV5 ini siap diperluas pada 2027.





Komentar
Belum ada komentar.