📑 Daftar Isi

Gugatan Kolektif Tesla di Belanda Soal FSD Makin Serius

Gugatan Kolektif Tesla di Belanda Soal FSD Makin Serius

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Gugatan hukum terhadap Tesla di Belanda terkait klaim sistem Full Self-Driving (FSD) semakin serius. Lebih dari 7.100 pemilik mobil listrik telah bergabung dalam aksi kolektif yang menuduh perusahaan mobil listrik Amerika itu menjanjikan teknologi otonom yang tidak bisa dipenuhi oleh kendaraan mereka.

Aksi hukum ini berfokus pada model Tesla lama yang dilengkapi dengan Hardware 3. Para pemilik kendaraan listrik (EV) yang terdampak berargumen bahwa Tesla menjual teknologi tersebut dengan janji palsu. Inisiatif hukum dimulai pada April 2026 dengan 3.000 peserta di minggu pertama dan kini telah berkembang menjadi lebih dari 7.100 pemilik EV yang terverifikasi.

Sebuah firma hukum terkemuka Belanda, Kennedy Van der Laan, mendukung kasus ini. Penggagas kampanye, pemilik Tesla asal Belanda Mischa Sigtermans, akan mengalihkan kasus ini ke dalam yayasan formal yang akan mewakili pemilik secara hukum berdasarkan undang-undang aksi kolektif Belanda. Undang-undang tersebut terbukti efektif melawan perusahaan multinasional besar.

Dua Kelompok Pemilik yang Dirugikan

Tindakan hukum ini mewakili dua kelompok spesifik pemilik Tesla. Pertama, penyelenggara berargumen bahwa setiap kendaraan pra-Hardware 4 kehilangan nilai karena Tesla menjanjikan perangkat bawaan mampu menangani otonomi penuh. Klaim ini mencakup semua pemilik Hardware 3, baik yang membeli perangkat lunak tambahan maupun tidak.

Kedua, pemilik yang membayar ekstra untuk paket Full Self-Driving menginginkan uang mereka kembali. Di Belanda, paket ini pernah berharga hingga €6.400. Sebuah kalkulator online kini memungkinkan pemilik menghubungkan data registrasi kendaraan mereka dari otoritas jalan raya Belanda, RDW, untuk memperkirakan potensi pembayaran mereka.

Baca Juga:

Bukti Dokumen Pemerintah

Dokumen pemerintah yang dipublikasikan melalui permintaan kebebasan informasi menjadi masalah serius bagi Tesla. Catatan RDW menunjukkan bahwa Tesla tidak pernah mengajukan sistem Hardware 3 untuk pengujian atau persetujuan regulasi. Ini secara langsung bertentangan dengan informasi yang sebelumnya dibagikan Tesla kepada pelanggannya.

Perusahaan telah meninggalkan kesan kepada pemilik bahwa regulator Eropa menolak sistem lama dan Tesla mengajukan banding atas keputusan tersebut. Namun, catatan publik membuktikan bahwa Tesla tidak pernah mencoba proses persetujuan untuk peralatan lama tersebut.

Sebaliknya, catatan resmi menunjukkan kronologi yang berbeda. Tesla mengajukan permohonan persetujuan tipe Eropa pada 5 November 2024. Perusahaan secara khusus membatasi ruang lingkup dan pengaturan pengujian ke Hardware 4 yang lebih baru. RDW akhirnya memberikan persetujuan untuk versi perangkat lunak otonom yang diawasi pada 10 April 2026, tetapi secara eksklusif untuk kendaraan dengan H4 yang lebih baru.

Pada 13 Mei 2026, RDW mengonfirmasi secara tertulis bahwa tidak ada catatan permohonan, penolakan, atau banding yang melibatkan sistem Hardware 3 yang lebih lama. Kasus pencurian data sebelumnya mungkin berbeda, tetapi kali ini bukti dokumenter sangat memberatkan Tesla.

Pengakuan Keterbatasan Hardware 3

Keterbatasan teknis juga mendukung kasus hukum ini. Selama panggilan pendapatan kuartal pertama 2026, eksekutif Tesla mengakui bahwa Hardware 3 tidak dapat mencapai penggerakan otonom tanpa pengawasan. Elon Musk sendiri mengonfirmasi bahwa sistem tersebut menderita kekurangan bandwidth memori. Keterbatasan perangkat keras ini sudah ada sejak mobil listrik meninggalkan pabrik.

Pembaruan perangkat lunak di dunia nyata menyoroti kesenjangan perangkat keras. Tesla meluncurkan perangkat lunak otonom yang diawasi di Belgia, Denmark, Estonia, dan Lituania. Di setiap negara, perangkat lunak hanya beroperasi pada kendaraan yang dilengkapi Hardware 4. Mobil listrik yang lebih tua tidak mendapatkan fitur tersebut. Peluncuran ini mengonfirmasi bahwa perangkat lunak membutuhkan komponen pemrosesan yang lebih baru, meskipun Tesla meyakinkan pembeli selama bertahun-tahun bahwa EV lama mereka sudah memiliki semua peralatan yang diperlukan.

Tekanan pada Klaim Keamanan

Pabrikan mobil juga mendapat tekanan besar terkait klaim keamanannya. Pada 15 Juni 2026, laporan berita mengungkapkan bahwa Tesla mungkin telah memberikan data keselamatan yang tidak akurat kepada otoritas Eropa, termasuk RDW. Peneliti keselamatan lalu lintas independen meninjau angka-angka tersebut dan menyimpulkan bahwa Tesla membesar-besarkan kinerja keselamatan perangkat lunaknya.

Sepuluh dari sebelas ahli menyatakan bahwa materi pemasaran melaporkan keamanan sistem secara berlebihan sekitar tiga kali lipat dari kemampuan aktualnya. Ini menambah daftar panjang masalah hukum yang dihadapi Tesla, termasuk gugatan orangtua korban terkait kecelakaan Autopilot.

Biaya Hukum dan Dampak Global

Tindakan hukum di Belanda tidak akan membebani peserta secara langsung di muka. Sebuah perusahaan pembiayaan litigasi khusus sedang bernegosiasi untuk menanggung biaya hukum. Sebagai imbalannya, pemberi dana akan menerima persentase tertentu dari uang jika pengadilan memutuskan melawan Tesla.

Karena undang-undang perlindungan konsumen Eropa umumnya lebih ketat daripada peraturan di Amerika Serikat, para ahli otomotif percaya kasus ini dapat memaksa Tesla untuk menangani keluhan serupa dari jutaan pemilik EV di seluruh dunia yang membeli mobil dengan janji yang sama. Elon Musk kini harus menghadapi konsekuensi dari janji FSD yang belum terpenuhi di Eropa.

Kasus ini menjadi preseden penting bagi industri mobil listrik global. Jika Tesla kalah, perusahaan mungkin harus memberikan kompensasi kepada pemilik Hardware 3 di seluruh Eropa. Keputusan pengadilan Belanda akan diawasi ketat oleh regulator dan konsumen di negara lain.

Komentar

Belum ada komentar.