Logo dan ilustrasi konsep Global Methanol Electric Ecosystem Alliance dengan latar peta dunia

Global Methanol Electric Ecosystem Alliance Resmi Dibentuk, Diketuai Geely

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Sebuah aliansi global untuk mendorong adopsi teknologi kendaraan listrik berbahan bakar metanol secara resmi dibentuk di Beijing, China. Global Methanol Electric Ecosystem Alliance diinisiasi oleh Chebaihui Research Institute dan melibatkan pemain kunci industri seperti Geely, Chery, serta lembaga penelitian dan energi.

Pembentukan aliansi ini diumumkan dalam forum 2026 Intelligent Electric Vehicle Development High-Level Forum yang berlangsung pada 11 April 2024. Tujuan utamanya adalah membangun platform kerja sama industri metanol-elektrik global yang berkelanjutan.

Aliansi akan mencakup berbagai entitas mulai dari produsen kendaraan, komponen inti, perusahaan energi, hingga lembaga penelitian dan organisasi industri. Fokusnya adalah menciptakan ekosistem industri yang terbuka dan saling menguntungkan untuk mempercepat adopsi teknologi metanol di seluruh dunia.

Beberapa anggota perwakilan pertama yang telah bergabung antara lain China Automotive Technology and Research Center (CATARC), Kementerian Perindustrian dan Teknologi Informasi China (MIIT) Methanol Vehicle Promotion and Application Expert Guidance Committee, Global Methanol Industry Association (GMIA), serta perusahaan otomotif seperti Geely Farizon New Energy Commercial Vehicle, Bosch Intelligent Mobility Group China, Chery Commercial Vehicle, Jianghuai Automobile (JAC), dan Weifu High-Technology.

Dari sisi akademisi dan energi, Hong Kong Polytechnic University dan Dayang Long Petroleum juga termasuk dalam daftar anggota pendiri. Kegiatan pertama aliansi, bertajuk “Methanol Electric Forum 2026”, rencananya akan digelar di Hong Kong pada Juni 2024 mendatang.

Dalam forum yang sama, Chairman Geely Holding Group, Li Shufu, menyampaikan presentasi yang menyoroti potensi bahan bakar metanol. Ia mengungkapkan bahwa kepadatan energi metanol setara dengan lebih dari sepuluh kali kepadatan energi baterai lithium-ion.

“Dengan kata lain, untuk kemampuan angkut yang sama, berat kendaraan baterai lithium setara dengan dua kali berat kendaraan listrik metanol. Semakin berat kendaraan, konsumsi energinya tentu lebih tinggi,” ujar Li Shufu, seperti dikutip dari pernyataan resminya.

Ia mengakui bahwa kendaraan listrik baterai lithium-ion telah digunakan secara luas di China dengan hasil yang baik dan disukai pengguna. Namun, perbandingan berat yang signifikan tersebut menunjukkan bahwa kendaraan listrik metanol masih menyimpan potensi pengembangan dan riset yang cukup besar.

Pembentukan Global Methanol Electric Ecosystem Alliance menandai upaya terstruktur industri untuk menjadikan metanol sebagai salah satu pilihan energi alternatif di sektor transportasi, khususnya untuk kendaraan listrik. Teknologi ini dianggap dapat melengkapi dominasi kendaraan listrik baterai dengan keunggulan tertentu, seperti isu berat dan waktu pengisian bahan bakar.

Keberadaan aliansi yang melibatkan banyak pemain dari hulu ke hilir ini diharapkan dapat mempercepat standardisasi, penelitian, dan komersialisasi kendaraan serta infrastruktur pendukung berbasis metanol di pasar global.