Telset.id – Data terbaru dari Uni Eropa mengungkap bahwa emisi karbon dioksida (CO2) kendaraan hybrid plug-in (PHEV) di dunia nyata mencapai 145 gram per kilometer pada 2024, enam kali lebih tinggi dari angka resmi pabrikan. Temuan ini memicu konflik terbuka antara lembaga riset dan asosiasi otomotif yang menolak perubahan aturan pengukuran yang lebih realistis.
Analisis terbaru dari Transport & Environment (T&E) yang menggunakan data 220.000 kendaraan PHEV di Eropa menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Melalui sistem pemantauan konsumsi bahan bakar terpasang (OBFCM) yang diwajibkan di Eropa, data riil menunjukkan bahwa emisi PHEV justru meningkat dari 138 gCO2/km di 2023 menjadi 145 gCO2/km di 2024, atau naik 5% dalam satu tahun. Angka ini hanya 14% lebih rendah dibandingkan rata-rata emisi kendaraan berbahan bakar fosil yang mencapai 169 g/km.
Yang lebih memprihatinkan, celah antara emisi dunia nyata dan hasil uji laboratorium semakin melebar setiap tahun sejak pemantauan dimulai pada 2021. Sementara emisi aktual naik 5%, angka resmi pabrikan justru turun sekitar 15% pada periode yang sama. PHEV yang terdaftar pada 2024 tercatat memiliki angka resmi hanya 24 g/km, jauh dari realita di jalan raya.
Akar Masalah Utility Factor
Penyebab utama kesenjangan ini terletak pada apa yang disebut “utility factor” atau faktor utilitas. Ini adalah perhitungan yang digunakan pemerintah untuk mengestimasi seberapa sering pengemudi menggunakan mode baterai dibandingkan mesin bensin. Sayangnya, asumsi ini jauh dari kenyataan karena banyak pemilik PHEV yang tidak rutin mengisi daya baterai dan lebih sering mengandalkan mesin pembakaran.
Ketua program kendaraan listrik T&E, Lucien Mathieu, menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar soal angka, tetapi juga merugikan konsumen. “Plug-in hybrids adalah salah satu aksi greenwashing terbesar industri otomotif – dipasarkan sebagai solusi ramah lingkungan, namun memberikan dampak lingkungan yang berat dalam praktiknya. Ini juga penipuan besar bagi konsumen yang harus membayar jauh lebih banyak untuk bahan bakar dari yang diiklankan,” ujarnya.
Padahal, PHEV dirancang sebagai teknologi transisi yang menawarkan fleksibilitas dua sumber tenaga. Namun kompleksitas mekanis dan kecenderungan pengguna untuk tidak mengisi daya membuat kendaraan ini jauh lebih kotor dari yang diklaim. Bahkan saat beroperasi dalam mode listrik murni, beberapa studi menunjukkan PHEV tetap menggunakan bensin tiga kali lebih banyak dari yang seharusnya.
Baca Juga:
Lobi Industri Menghambat Regulasi
Uni Eropa sebenarnya telah merencanakan pembaruan faktor utilitas agar hasil uji laboratorium lebih mendekati kondisi nyata. Aturan baru dijadwalkan mulai berlaku bertahap sejak 2025, dengan koreksi lanjutan yang diharapkan pada 2027. Namun, para pembuat mobil secara konsisten melobi untuk memperlemah atau bahkan membatalkan perubahan ini.
Pemasok powertrain Horse, yang menentang perubahan perhitungan emisi PHEV, menerbitkan makalah pada awal Maret berjudul “How tighter PHEV utility factor requirements will harm the auto industry.” Kekhawatiran utamanya adalah bahwa peringkat CO2 yang lebih realistis akan membuat PHEV semakin sulit dijual. Sementara itu, ACEA (Asosiasi Produsen Mobil Eropa) juga menginginkan koreksi faktor utilitas berikutnya dibatalkan.
Dampak dari penolakan ini sangat besar. Sebuah laporan sebelumnya memperkirakan bahwa pengakuan emisi PHEV yang lebih rendah dari kenyataan telah membantu para pembuat mobil menghindari denda miliaran euro. Ini terjadi karena angka CO2 yang lebih rendah membantu produsen memenuhi target emisi rata-rata armada kendaraan mereka, meskipun emisi dunia nyata jauh lebih tinggi.
Persaingan dengan China dan Masa Depan EV
Data ACEA menunjukkan bahwa PHEV menyumbang hampir 10% dari seluruh registrasi kendaraan penumpang baru di Uni Eropa pada paruh pertama 2026. Popularitas ini membuat kebijakan emisi PHEV menjadi semakin krusial, terutama dalam konteks persaingan global kendaraan listrik.
Mathieu menekankan bahwa industri China bergerak cepat dalam mengembangkan EV murni dan pangsa pasarnya terus meningkat di Eropa. “Jika Eropa ingin tetap kompetitif dalam perlombaan EV global melawan China, Eropa harus menolak setiap upaya untuk memperlemah faktor utilitas,” tegasnya. Menunda investasi pada mobil listrik murni demi mempertahankan “nilai tambah” PHEV hanya akan mempercepat ketertinggalan Eropa.
Keputusan penting akan diambil melalui debat Dewan Uni Eropa yang dijadwalkan pada 12 Oktober, diikuti dengan pemungutan suara di parlemen pada November. T&E mendesak para pembuat kebijakan untuk menolak tuntutan industri otomotif. Perubahan perhitungan emisi memang tidak akan membuat PHEV mengonsumsi lebih sedikit bahan bakar, tetapi akan mempersulit produsen untuk mengklaim pengurangan emisi yang hanya ada di atas kertas.
Setelah bertahun-tahun peringatan tentang emisi PHEV yang tidak realistis, langkah koreksi ini tampaknya sudah sangat terlambat. Sejarah Dieselgate seharusnya menjadi pelajaran bahwa angka uji yang dimanipulasi tidak mengubah fakta polusi di dunia nyata. Baik dampak kesehatan masyarakat maupun kontribusi terhadap perubahan iklim tidak peduli dengan angka yang dicurangi pabrikan.





Komentar
Belum ada komentar.