Telset.id – Raksasa baterai asal China, CATL, mengklaim bahwa pabrikan otomotif Amerika Serikat telah menguji baterai baru yang dirancang khusus untuk pikap listrik. Klaim ini disampaikan langsung oleh Chief Technology Officer unit bisnis internasional CATL, Zhu Lingbo, kepada Financial Times. Namun, hingga berita ini diturunkan, CATL belum mengungkap spesifikasi baterai, jadwal produksi, maupun identitas pabrikan AS yang melakukan pengujian tersebut.
Pernyataan Zhu menjadi sinyal bahwa CATL masih melihat pasar pikap listrik Amerika sebagai lahan bisnis besar, meski harus berhadapan dengan tekanan geopolitik yang disebutnya “very intense”. Ia menyebut Amerika menawarkan “huge business” bagi perusahaan. Salah satu jalan masuk yang disebut Zhu adalah melisensikan teknologi tersebut kepada produsen lokal AS agar baterai bisa diproduksi di dalam negeri.
CATL mendeskripsikan baterai ini sebagai sel “tall” atau bertubuh tinggi yang dirancang spesifik untuk karakter pikap Amerika. Sayangnya, laporan Financial Times tidak memuat rincian soal kimia sel, dimensi, performa, maupun tenggat produksi. Tidak ada pula nama pelanggan yang sudah menyepakati penggunaan baterai tersebut. Artinya, klaim pengujian ini masih berstatus pernyataan satu pihak tanpa verifikasi independen.
Jejak Lisensi CATL di Pabrik Amerika
Sebenarnya, model bisnis lisensi bukan hal baru bagi CATL di Amerika. Ford disebut akan menggunakan sel LFP buatan Michigan yang diproduksi dengan teknologi CATL untuk pikap listrik Fathom yang akan datang. Belum jelas apakah sel Ford tersebut berkaitan dengan desain baterai pikap yang baru diungkap ini, tetapi skema kerja sama itu menunjukkan bagaimana teknologi CATL bisa masuk ke pikap Amerika tanpa harus mengimpor produk jadi.
Preseden lain datang dari Tesla, yang memproduksi LFP di Nevada. Namun, fasilitas Tesla tersebut secara resmi memproduksi sel untuk produk penyimpanan energi, bukan untuk kendaraan. Pola ini menegaskan bahwa jalur lisensi menjadi opsi realistis bagi CATL untuk menembus pasar AS. Sebelumnya, dalam konteks elektrifikasi kendaraan niaga, CATL juga telah menjalin kemitraan serupa di Eropa, termasuk lewat kerja sama logistik Eropa bersama DHL Group.
Ambisi CATL di Amerika juga bukan hal baru. Chairman perusahaan, Robin Zeng, pernah menyatakan kesediaan membangun pabrik di AS jika diizinkan. Namun, hambatan politik tetap kuat. Tarif yang sangat tinggi, persyaratan lokalisasi yang ketat, hingga potensi larangan keamanan membatasi ruang gerak perusahaan China di pasar Amerika, terlepas dari keunggulan biaya dan teknologi yang mereka miliki.
Baca Juga:
Tekanan Politik dan Jadwal Diplomasi
Pada Januari 2025, pemerintah Amerika Serikat menetapkan CATL sebagai perusahaan dengan dugaan keterkaitan militer. CATL dengan tegas membantah penetapan tersebut dan menyatakan akan menantangnya, termasuk melalui jalur hukum bila perlu. Penetapan ini menambah lapisan hambatan bagi rencana ekspansi CATL, karena status tersebut bisa memengaruhi kepercayaan mitra dan proses regulasi di AS.
Pernyataan Zhu muncul menjelang agenda diplomasi penting. Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan berbicara dengan He Lifeng dari China di New York, dan ada pula rencana pertemuan puncak antara Donald Trump dan Xi Jinping di Washington. Setelah bertemu di Beijing pada Mei, kedua pemimpin diperkirakan membahas AI, pasokan rare earth, serta tenggat November untuk gencatan dagang antara kedua negara. Konteks ini membuat pernyataan CATL tidak bisa dibaca terpisah dari negosiasi dagang yang sedang berjalan.
Pengalaman Ford memperlihatkan dua sisi sekaligus: daya tarik teknologi CATL untuk membuat EV lebih murah dan menciptakan lapangan kerja manufaktur di Amerika, namun tetap menuai oposisi dari pemerintahan Trump. Baterai pikap CATL bisa menempuh jalur serupa, tetapi memproduksinya di Amerika belum tentu menyelesaikan perdebatan soal asal teknologi dan apakah penggunaannya bisa diterima.
Di sisi lain, CATL terus memperluas portofolio produknya di segmen kendaraan niaga dan infrastruktur pengisian daya. Perusahaan ini bahkan meluncurkan solusi penukaran baterai untuk truk listrik Eropa lewat Swaptopus untuk truk bersama Octopus Energy. Langkah ini menunjukkan bahwa strategi CATL tidak hanya bergantung pada pasar Amerika, tetapi juga pada ekosistem global yang lebih luas.
Dari sisi kompetisi, dominasi CATL di pasar baterai juga mulai menghadapi tantangan dari pelanggannya sendiri. Li Auto, misalnya, dilaporkan akan meninggalkan CATL dan beralih ke baterai in-house mulai September 2026. Langkah ini menandakan bahwa produsen mobil semakin ingin menguasai rantai pasok baterai mereka sendiri, sebuah tren yang bisa memengaruhi posisi CATL di pasar global dalam jangka panjang.
Dengan semua dinamika ini, klaim bahwa baterai pikap CATL sudah diuji oleh pabrikan AS tetap menjadi pernyataan yang menarik namun belum terverifikasi. Tanpa spesifikasi, tanpa nama mitra, dan tanpa jadwal produksi, publik hanya bisa menunggu apakah jalur lisensi benar-benar akan terwujud atau kembali tersandung tembok politik di Washington.





Komentar
Belum ada komentar.