Telset.id – Sebuah BYD Atto 1 kehilangan roda belakang kanannya di Jakarta Barat pada 2 November 2026 setelah dilaporkan menghantam pembatas jalan beton. Insiden ini menjadi sorotan karena menyentuh pertanyaan yang lebih besar: seberapa konsisten kualitas EV China yang kini diproduksi massal di Indonesia? Pengemudi mengaku kendaraan masih berjalan satu hingga dua kilometer sebelum as roda belakang patah dan roda terlepas.
Rekaman insiden beredar di media sosial Indonesia dengan keterangan “Kualitas EV China merata”, memancing perdebatan warganet soal daya tahan kendaraan listrik asal Tiongkok. Sebelas petugas Dinas Perhubungan dan personel kepolisian kota membantu proses evakuasi. Operasi pemulihan berlangsung dua tahap: kru menarik kendaraan dari bagian depan untuk membersihkan lajur aktif, lalu memindahkan rig pemulihan dan mengangkat as belakang ke dolly empat roda.

Kronologi dan Konteks Kendaraan
Insiden terjadi sekitar pukul 04.00 WIB di Jalan Ring Road Raya, dekat pintu keluar tol Kapuk-Kamal, Cengkareng. Pengemudi dilaporkan mendengar beberapa bunyi logam keras sebelum roda terlepas, setelah indikator peringatan muncul di dasbor. Roda belakang yang lepas sempat tersangkut di kolong setelah menghantam pembatas beton. Kru meletakkan roda belakang kanan yang terlepas di cradle pemulihan di samping kendaraan.
Di Tiongkok, model ini dijual sebagai BYD Seagull, sementara di beberapa pasar Amerika Latin dikenal sebagai Dolphin Mini. Atto 1 merupakan hatchback listrik penggerak roda depan berbasis e-Platform 3.0 BYD. Spesifikasi Indonesianya mencantumkan suspensi depan MacPherson strut dan setup belakang torsion beam. Varian Dynamic berbobot 1.225 kg, sedangkan Premium 1.280 kg. Keduanya memakai Blade battery milik BYD.
BYD awalnya mengimpor Atto 1 ke Indonesia dari Tiongkok sebelum produksi lokal dimulai di pabrik Subang, Jawa Barat, pada Juli 2026. Perusahaan meresmikan pabrik tersebut pada September dan mengumumkan akan menghentikan impor kendaraan utuh. Unit impor maupun rakitan lokal masih mungkin beredar, tetapi BYD belum mengungkap asal produksi kendaraan yang terlibat insiden 2 November tersebut.
Baca Juga:
Laporan lokal menyebut kerusakan sebagai as roda belakang yang patah. Namun, komponen persis yang gagal dan apakah benturan yang dilaporkan menjadi penyebabnya masih belum jelas. Sebagai konteks, lini Seagull generasi kedua juga menjadi perhatian pasar Indonesia menyusul sejumlah pembaruan yang diklaim lebih besar.
Respons BYD dan Kasus Jaecoo J5
PT BYD Motor Indonesia menyatakan tim aftersales-nya berkoordinasi dengan pemilik kendaraan untuk mengatur inspeksi menyeluruh. Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia, kepada Kompas Otomotif mengatakan informasi awal yang diterima perusahaan mengindikasikan benturan keras terhadap pembatas jalan atau trotoar. Panjaitan juga menjelaskan bahwa garansi kendaraan BYD mencakup kegagalan yang berkaitan dengan kualitas komponen. Dalam kasus ini, pemilik dilaporkan berharap asuransi perusahaan menangani perbaikan. BYD belum merilis temuan inspeksi atau mengonfirmasi komponen mana yang gagal.

Dua hari berselang, sebuah Jaecoo J5 EV kehilangan seluruh assembly roda depan kanannya di Jakarta Pusat pada 4 November. Setelah inspeksi teknis, Jaecoo Indonesia menyatakan kendaraan tersebut menghantam trotoar dan pembatas jalan sebelum roda terlepas. Perusahaan melaporkan kerusakan pada bumper depan kanan, fender, dan pintu penumpang, tetapi tidak menemukan indikasi cacat produk sebagai penyebab insiden.
Kedua kasus Jakarta melibatkan kendaraan dan produsen berbeda, dan tidak satu pun menetapkan penyebab teknis yang sama. Meski demikian, keduanya menghidupkan kembali perbandingan dengan recall as roda belakang Chery Omoda 5 di Malaysia pada 2024 yang mencakup 8.878 kendaraan karena kekhawatiran pada pengelasan as belakang. Kampanye tersebut menangani isu proses manufaktur yang dilaporkan, sedangkan dua insiden Jakarta melibatkan benturan dengan infrastruktur pinggir jalan.
Insiden ini muncul saat BYD memperluas kehadiran manufakturnya di Indonesia. Pabrik Subang di Jawa Barat diresmikan pada 3 September 2026 setelah investasi yang dilaporkan mencapai Rp 11,7 triliun (sekitar 700 juta dolar AS). Fasilitas tersebut memiliki kapasitas produksi tahunan yang diumumkan hingga 150.000 kendaraan. Sejumlah pemberitaan juga menyoroti peluncuran Seagull sebagai bagian dari ekspansi lini produk di pasar domestik.
Sampai temuan inspeksi resmi dirilis, penyebab pasti insiden Atto 1 belum dapat dipastikan. Yang tersisa adalah pertanyaan terbuka: apakah kasus ini murni akibat benturan, atau ada persoalan komponen yang perlu dijelaskan produsen. Bagi konsumen, kejelasan hasil inspeksi akan menjadi indikator penting kualitas EV China yang kini dirakit di dalam negeri.





Komentar
Belum ada komentar.