Telset.id – Kebijakan yang mewajibkan sel baterai buatan Uni Eropa berpotensi menambah biaya hingga €2.100 pada mobil listrik dengan baterai 60 kWh. Angka itu muncul dalam policy brief Bruegel bertanggal 22 September yang dikutip Euronews, dan menjadi peringatan bahwa proteksi industri bisa berujung pada tagihan yang harus ditanggung konsumen.
Bruegel menghitung dampaknya secara sederhana. Mewajibkan sel buatan UE menaikkan biaya produksi dari €50 menjadi €85 per kilowatt-jam. Kalikan dengan kapasitas 60 kWh, hasilnya €2.100. Pembeli bisa membayar lebih jika produsen mobil meneruskan biaya tersebut ke harga jual.
Laporan itu menilai proteksi terhadap produsen yang sudah mapan berisiko membebani konsumen dan pembayar pajak. Bruegel menyarankan proteksi bersifat sementara, sekaligus memberi pabrikan Eropa waktu membangun mobil listrik yang lebih murah. Persoalannya, baterai lokal memang lebih mahal diproduksi, dan selisihnya harus ditutup oleh seseorang.
Beban Tambahan dan Celah Penghematan
Selain baterai, persyaratan baja rendah karbon yang diusulkan bisa menambah €200 lagi. Di sisi lain, penyederhanaan homologasi kendaraan diperkirakan menghemat sekitar €61 per mobil menurut laporan tersebut. Namun semua angka ini belum final. Yang akhirnya dibayar pembeli bergantung pada bentuk akhir aturan, subsidi pemerintah, dan seberapa besar biaya ekstra dilimpahkan pabrikan.
Terlepas dari detailnya, mereka yang membeli di segmen paling terjangkau akan paling terpukul. Bagi konsumen yang menghitung setiap euro, perbandingan harga seperti dalam duel Vivo X300 Pro versus Google Pixel 9 Pro mungkin terasa lebih mudah dicerna ketimbang kenaikan biaya baterai yang tidak terlihat di lembar spesifikasi.
Tekanan untuk melindungi industri Eropa nyata adanya. Produksi mobil UE turun 19% sejak 2019, sementara pembeli membeli 2,2 juta mobil baru lebih sedikit pada 2025 dibanding 2019. Sektor otomotif secara luas menyerap sekitar 14 juta tenaga kerja. Bruegel juga mencatat ekspor yang masih berjalan dan investasi sekitar €3 miliar per kuartal untuk pabrik baterai dan EV.
Meski begitu, laporan itu menyoroti kekhawatiran bahwa Eropa perlahan kehilangan teknologi, pemasok, dan pelanggan luar negeri. Di Paris motor show tahun ini, merek China membawa perangkat lunak yang menarik, interior penuh gadget mewah, dan teknologi pengisian canggih, sementara pabrikan Eropa bersandar pada sejarah dan desain. BMW iX3 dan GLC listrik Mercedes menunjukkan Eropa bisa melawan, tetapi emblem yang familiar tak lagi mudah menjual mobil seperti dulu.
Produksi Baterai Lokal dan Dilema Proteksi
Produksi baterai lokal menjadi komponen yang sangat penting, tetapi terbukti sulit dibangun di Eropa. Kegagalan Northvolt, mundurnya Porsche dari manufaktur di Cellforce, dan pabrik ACC yang ditunda menunjukkan betapa sulitnya menandingi biaya China. Bahkan baterai yang dibuat di Eropa sering bergantung pada peralatan dan pengetahuan dari Asia.
Bea tambahan Eropa atas EV China, yang bisa mencapai 35,3%, menyasar mobil listrik penuh dan mengecualikan plug-in hybrid. Bruegel menyoroti impor BEV dari China yang mendatar sementara impor hybrid melonjak. Laporan itu juga mengutip riset Prancis yang menemukan EV yang tak masuk subsidi pembelian mengalami penurunan penjualan 60% dibanding model yang memenuhi syarat, berpotensi memperlambat adopsi secara keseluruhan dan menegaskan bahwa subsidi memang berpengaruh.
Baca Juga:
Bruegel menyebut kesepakatan dengan China untuk sementara membatasi jumlah mobil listrik dan plug-in hybrid yang dikirim ke Eropa bisa membantu. Langkah itu memberi pabrikan Eropa lebih banyak waktu mengembangkan EV yang lebih murah. Kesepakatan tersebut akan memiliki tanggal berakhir yang jelas, dan pembatasan bisa diperketat jika China melanggarnya. Namun dengan lebih sedikit mobil China yang tersedia, harga bisa jadi lebih mahal.
Eropa sebelumnya membatasi impor mobil Jepang, dan Kanada kini membatasi impor EV China. Keduanya menunjukkan trade-off yang sama: melindungi pabrikan lokal bisa membuat mobil lebih mahal bagi pembeli. Pola serupa terlihat di pasar konsumen lain, misalnya ketika GameStop jual PS5 bekas di atas harga resmi, yang menunjukkan harga bisa melambung ketika pasokan dan pilihan terbatas.
Investasi asing bisa membantu Eropa mengejar ketertinggalan, menurut penulis laporan. Perusahaan Korea Selatan sudah memiliki 65% kapasitas manufaktur sel baterai Eropa, dan perusahaan China memiliki 55% kapasitas yang sedang dibangun. Pabrik Eropa membutuhkan keahlian dari luar itu agar bisa berfungsi.
Dengan gambaran tersebut, kebijakan baterai lokal bukan sekadar soal kedaulatan industri, melainkan soal siapa yang membayar. Bruegel menempatkan konsumen di ujung rantai biaya, sementara pabrikan Eropa masih berjuang menekan harga produksi agar mampu bersaing.





Komentar
Belum ada komentar.