📑 Daftar Isi

Ilustrasi chip memori dari produsen China CXMT dan YMTC yang menjadi pusat kontroversi keamanan nasional AS

AS Larang Apple Beli Chip Memori China, Ini Dampaknya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Anggota parlemen AS mendesak larangan pembelian chip memori dari CXMT dan YMTC oleh perusahaan AS seperti Apple.
  • Apple melobi pemerintah AS untuk mendapatkan akses ke chip CXMT di tengah krisis pasokan DRAM global.
  • CXMT masuk daftar hitam militer China, YMTC masuk Daftar Entitas, namun pembelian belum sepenuhnya dilarang.
  • Para legislator khawatir pembelian ini akan mendukung militer China dan melemahkan kapasitas produksi Barat.
  • Mereka mendesak koordinasi dengan Jepang, Korea Selatan, dan UE untuk mencegah CXMT dan YMTC menguasai rantai pasokan sekutu.

Telset.id – Ketegangan antara Amerika Serikat dan China di sektor semikonduktor kembali memanas. Anggota parlemen AS kini mendesak pemerintah untuk melarang perusahaan seperti Apple membeli chip memori dari produsen China, CXMT dan YMTC. Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran akan risiko keamanan nasional dan potensi pelemahan industri dalam negeri.

Dalam sebuah surat kepada Menteri Perdagangan Howard Lutnick, Ketua Komite China DPR AS dari Partai Republik, John Moolenaar, bersama Anggota Kongres dari Partai Demokrat, George Whitesides, meminta agar perusahaan AS dilarang membeli semikonduktor dari perusahaan yang masuk dalam daftar hitam militer China Pentagon atau Daftar Entitas Departemen Perdagangan. Mereka juga mendesak CXMT untuk segera dimasukkan ke dalam Daftar Entitas dan memberlakukan pembatasan tambahan pada YMTC.

“Ketergantungan pada produsen memori China menciptakan risiko yang tidak dapat diterima bagi keamanan nasional AS, keamanan ekonomi, dan keamanan rantai pasokan,” demikian bunyi surat tersebut, seperti dikutip dari laporan Financial Times.

Apple Lobi Pemerintah AS untuk Akses Chip CXMT

Langkah para legislator ini muncul di tengah upaya Apple yang gencar melobi pemerintahan Donald Trump untuk mendapatkan izin membeli chip memori dari CXMT. Permintaan Apple ini didorong oleh krisis pasokan DRAM global yang parah, yang diperparah oleh ekspansi infrastruktur AI yang sangat pesat.

Menariknya, beberapa pemasok modul memori dan SSD bermerek seperti Corsair dan Patriot Memory sudah lama menggunakan DRAM dari CXMT dan 3D NAND dari YMTC. Hal ini menunjukkan bahwa produk-produk China tersebut sebenarnya sudah merasuki rantai pasokan perusahaan Barat.

“Kami khawatir bahwa Apple dan perusahaan teknologi AS lainnya berusaha membeli memori dari produsen semikonduktor China, termasuk yang memiliki hubungan dengan militer China,” tulis Moolenaar dan Whitesides dalam surat mereka.

Risiko Strategis di Balik Pembelian Chip Memori China

Meskipun CXMT sudah masuk dalam daftar hitam militer China Pentagon dan YMTC sudah masuk dalam Daftar Entitas Departemen Perdagangan, aturan tersebut tidak sepenuhnya melarang perusahaan AS seperti Apple membeli produk mereka. Namun, ada risiko politik yang signifikan yang harus ditanggung.

Secara teknis, perusahaan AS masih bisa membeli chip dari CXMT dan YMTC untuk produk yang dijual di China atau negara lain, dan terus menggunakan pemasok tradisional untuk produk yang ditujukan ke pasar AS. Untuk mencegah praktik ini, Moolenaar dan Whitesides mendesak pemerintah AS untuk berkoordinasi dengan Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa. Tujuannya adalah untuk mencegah CXMT dan YMTC memanfaatkan kelangkaan pasokan saat ini untuk membangun diri mereka dalam rantai pasokan negara-negara sekutu.

Para legislator AS berargumen bahwa pembelian dari produsen memori China secara tidak langsung dapat mendukung teknologi yang dapat diterapkan pada militer China. “Produsen memori China terkemuka semuanya terkait erat dengan militer China; dengan demikian, setiap pembelian memori oleh perusahaan AS akan secara langsung mensubsidi pengembangan teknologi dual-use kritis ini oleh Tentara Pembebasan Rakyat,” tegas surat tersebut.

Moolenaar dan Whitesides juga memperingatkan bahwa CXMT dan YMTC bisa mengulangi skenario yang pernah terjadi di pasar tenaga surya, baja, telekomunikasi, dan kendaraan listrik China. Yakni, menggunakan subsidi negara untuk menjatuhkan pesaing asing, melemahkan investasi mereka, dan pada akhirnya mengeksploitasi ketergantungan yang dihasilkan untuk keuntungan strategis.

Penggunaan memori China sekarang, menurut mereka, bisa secara permanen melemahkan kapasitas produksi Barat dan membuat Barat bergantung secara strategis pada China untuk komponen penting infrastruktur AI.

Ketegangan ini menjadi pengingat akan pentingnya kemandirian teknologi. Isu serupa juga pernah menimpa platform media sosial seperti TikTok yang dituding terkait dengan China, seperti yang dibahas dalam artikel Bantah Terkait China, TikTok Kirim Surat ke Parlemen AS. Selain itu, kekhawatiran akan penyalahgunaan teknologi juga menjadi perhatian global, sebagaimana diulas dalam artikel AS Khawatir Dampak Penyalahgunaan Teknologi AI Deepfake.

Langkah tegas AS ini menandai eskalasi baru dalam perang chip antara dua negara adidaya. Keputusan akhir ada di tangan pemerintahan Trump, yang harus mempertimbangkan kepentingan keamanan nasional di satu sisi, dan kebutuhan industri teknologi yang bergantung pada pasokan memori global di sisi lain.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.