📑 Daftar Isi

Ilustrasi Microsoft Edge dengan latar belakang Windows 11 yang menunjukkan praktik desain berbahaya untuk menghalangi pengguna beralih browser

Microsoft Makin Agresif Halangi Pengguna Windows 11 Beralih ke Browser Lain

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Riset Mozilla ungkap Microsoft makin agresif halangi pengguna Windows 11 beralih ke browser lain
  • Berbagai praktik desain berbahaya masih terjadi termasuk interferensi visual, tipuan pemilihan default, tipuan kata-kata, dan dark patterns
  • Copilot sering membuka tautan di Edge meskipun browser default pengguna berbeda
  • Kotak centang sudah terpilih untuk sinkronisasi data ke Edge
  • Browser default direset saat migrasi dari Windows 10 ke 11
  • Google Chrome jadi istilah paling sering dicari di Bing
  • Edge sebenarnya browser baik berbasis Chromium dengan efisiensi daya lebih baik
  • Microsoft punya sejarah kasus antimonopoli tahun 1998 terkait Internet Explorer

Telset.id – Riset terbaru dari Mozilla mengungkap bahwa Microsoft semakin agresif menggunakan praktik desain berbahaya untuk menghalangi pengguna Windows 11 beralih ke browser lain. Temuan ini menunjukkan bahwa berbagai taktik manipulatif yang sebelumnya dikritik justru semakin parah, bukan membaik.

Dalam laporannya, Mozilla menemukan bahwa Microsoft masih menerapkan berbagai bentuk “harmful design” atau desain berbahaya yang bertujuan untuk “tidak mengizinkan orang mengunduh dan memasang browser alternatif, mengaturnya sebagai default, atau terus menggunakannya sebagai default tanpa gangguan yang merugikan.”

Praktik ini menjadi sorotan tajam karena Microsoft memiliki riwayat panjang dalam kasus antimonopoli. Pada tahun 1998, perusahaan sempat digugat karena membundel Internet Explorer dengan Windows dan mempersulit pemasangan browser kompetitor. Kini, pola serupa kembali terulang dengan taktik yang lebih modern dan canggih.

Temuan Riset Mozilla: Berbagai Bentuk Desain Berbahaya

Mozilla mendokumentasikan sejumlah praktik manipulatif yang masih terjadi di Windows 11. Berikut adalah beberapa temuan utama:

Interferensi Visual: Saat mencari browser lain untuk diunduh di Microsoft Edge, masih muncul banner “All you need is right here” yang menyesatkan. Begitu juga ketika pengguna mengunjungi halaman unduhan Chrome, banner promosi Edge tetap muncul.

Tipuan Pemilihan Default: Tombol untuk mengganti browser default di layar pengaturan tersedia, tetapi tidak semua jenis file ikut dialihkan. Artinya, pengguna mungkin mengira telah berhasil mengganti browser default, padahal masih ada celah yang membuat beberapa file tetap terbuka di Edge.

Tipuan Kata-kata: Frasa seperti “Use Microsoft’s recommended browser settings” dan “You’re almost done setting up your PC” masih digunakan untuk membingungkan pengguna. Kata-kata ini dirancang agar pengguna merasa perlu mengikuti rekomendasi Microsoft.

Dark Patterns: Pada layar pengaturan yang muncul beberapa hari setelah instalasi, opsi yang menguntungkan Edge ditampilkan sebagai tombol biru besar dan mencolok. Sementara itu, opsi untuk mempertahankan pengaturan yang sudah ada ditampilkan dalam teks abu-abu yang lebih kecil dan tidak mencolok.

Selain itu, Mozilla juga menemukan praktik lain seperti Copilot yang membuka tautan di Edge meskipun browser default pengguna adalah browser lain, kotak centang yang sudah terpilih untuk menyinkronkan data ke Edge, serta pengaturan ulang browser default saat pengguna melakukan migrasi dari Windows 10 ke Windows 11.

Menariknya, “Google Chrome” menjadi salah satu istilah yang paling sering dicari di Bing, mesin pencari milik Microsoft. Hal ini menunjukkan betapa tingginya minat pengguna untuk beralih dari Edge, namun terhalang oleh berbagai rintangan yang sengaja dibuat.

Ironisnya, Edge sebenarnya adalah browser yang baik. Berbasis Chromium, Edge mendukung ekstensi yang sama dengan Chrome namun memiliki efisiensi daya yang lebih baik. Namun, praktik agresif ini justru merusak reputasi browser tersebut.

Jika Microsoft ingin bersaing, seharusnya mereka fokus membangun produk yang lebih baik, bukan menghalangi pengguna untuk memilih.

Riset Mozilla ini menjadi pengingat bahwa pengguna perlu lebih waspada terhadap berbagai taktik manipulatif yang diterapkan oleh perusahaan teknologi. Meskipun pengguna yang gigih mungkin bisa melewati rintangan ini, praktik semacam ini tetap tidak dapat dibenarkan.

Microsoft seharusnya belajar dari sejarah. Kasus antimonopoli tahun 1998 seharusnya menjadi pelajaran berharga bahwa praktik bisnis yang tidak sehat pada akhirnya akan merugikan perusahaan itu sendiri. Daripada terus menerapkan patch keamanan dan perbaikan, Microsoft seharusnya fokus pada pengalaman pengguna yang lebih baik.

Dalam dunia yang semakin kompetitif, pengguna memiliki banyak pilihan. Fitur terbaru yang ditawarkan Microsoft tidak akan berarti jika pengguna merasa dipaksa untuk menggunakannya.

Pada akhirnya, praktik desain berbahaya ini hanya akan mendorong pengguna untuk mencari alternatif yang lebih menghargai kebebasan memilih. Jika Microsoft ingin sukses, mereka harus membangun kepercayaan, bukan menghalangi.

Microsoft Edge open on a laptop with the browser's app listing page open on a smartphone in front of it

Microsoft Edge

Microsoft Edge wants you to stay as a user

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.