Setelah lebih dari setengah abad, dunia hampir menyaksikan kembali manusia meluncur ke orbit Bulan. Namun, mimpi itu harus tertunda sedikit lebih lama. Misi Artemis II, penerbangan berawak pertama NASA ke Bulan sejak era Apollo, yang sempat diincar untuk lepas landas awal Maret, kini resmi batal untuk jendela peluncuran tersebut. Sebuah masalah teknis yang tampaknya sepele—aliran helium yang terputus—memaksa roket raksasa Space Launch System (SLS) untuk mundur dari landasan peluncuran. Ini adalah pengingat nyata bahwa dalam eksplorasi antariksa, detail sekecil apa pun bisa menjadi penghalang besar.
Artemis II bukan sekadar misi biasa. Ini adalah batu loncatan krusial menuju pendaratan manusia berikutnya di Bulan, dan yang pertama dengan awak internasional yang mencakup astronaut Kanada. Setelah suksesnya misi Artemis 1 tanpa awak, semua mata tertuju pada keempat awak yang telah menjalani pelatihan intensif. Persiapan di Kennedy Space Center berjalan dengan tempo yang dipercepat, bahkan sempat menargetkan peluncuran lebih awal. Namun, seperti sering terjadi dalam misi kompleks, rencana terbaik harus berhadapan dengan realitas teknis yang tak terduga.
Insiden ini terjadi di ujung proses persiapan yang panjang, tepat setelah uji latihan basah (wet dress rehearsal) yang sukses diselesaikan. Tiba-tiba, harapan untuk meluncur pada 6 Maret pun menguap. Kini, pertanyaannya adalah: seberapa cepat NASA bisa mengatasi masalah ini, dan apakah jendela peluncuran April masih bisa diselamatkan?
Masalah Helium yang Menggagalkan Peluncuran Maret
Masalahnya bermula pada dini hari 21 Februari, saat tim operasi NASA mengamati adanya “aliran helium yang terputus” ke tahap atas roket SLS, yang disebut Interim Cryogenic Propulsion Stage (ICPS). Meski terdengar teknis, peran helium dalam misi ini sangat vital. Gas mulia ini digunakan untuk mempertahankan kondisi lingkungan yang tepat untuk mesin tahap atas dan, yang lebih kritis, untuk menekan tangki propelan hidrogen dan oksigen cair. Tanpa aliran helium yang stabil, sistem propulsi kritis untuk perjalanan ke Bulan tidak dapat beroperasi dengan aman.
Yang menarik, sistem yang sama ini berfungsi dengan baik selama uji latihan basah yang baru saja berakhir pada 19 Februari. Namun, saat tim mencoba mengoperasikannya dalam konfigurasi normal pasca-uji, masalah muncul. NASA dengan cepat mengaktifkan metode cadangan untuk menjaga kondisi tahap atas, menjaga roket dalam konfigurasi aman, namun kerusakan pada jadwal sudah terjadi. Administrator NASA Bill Nelson, melalui platform X, dengan tegas menyatakan bahwa proses rollback (pengembalian) roket ke Vehicle Assembly Building (VAB) akan “mengeliminasi jendela peluncuran Maret dari pertimbangan.”
Baca Juga:
Perjalanan Panjang Kembali ke Hanggar
Kini, roket SLS dan kapsul Orion yang menaunginya harus menempuh perjalanan sejauh empat mil kembali ke VAB. Proses ini bukan sekadar memindahkan kendaraan biasa. Ini adalah operasi rumit yang memakan waktu berjam-jam, di mana roket setinggi lebih dari 98 meter itu harus diangkut dengan sangat hati-hati oleh crawler-transporter raksasa. NASA menjadwalkan perjalanan mundur ini pada 24 Februari.
Di dalam VAB, para insinyur akan melakukan diagnosis mendalam untuk menemukan akar masalah aliran helium tersebut. Apakah ini sekadar masalah katup yang macet, kebocoran pada saluran, atau sesuatu yang lebih kompleks pada sistem pneumatik? Hanya investigasi terperinci yang bisa menjawabnya. Setelah penyebab ditemukan, tim harus melakukan perbaikan, menguji solusinya, dan kemudian mempersiapkan roket untuk kembali ke landasan peluncuran. Semua ini memakan waktu yang tidak sedikit.
Dalam pernyataan resminya, NASA berusaha optimis, menyatakan bahwa upaya saat ini “berpotensi mempertahankan jendela peluncuran April, tergantung pada hasil temuan data, upaya perbaikan, dan bagaimana jadwal terwujud dalam hari dan minggu mendatang.” Kata “berpotensi” di sini mengandung beban yang berat, mengisyaratkan bahwa April pun bukan jaminan.
Dampak pada Kru Artemis II yang Sudah Masuk Karantina
Ironisnya, insiden ini terjadi hanya sehari setelah keempat astronaut misi Artemis II—Komandan Reid Wiseman, Pilot Victor Glover, Spesialis Misi Christina Koch, dan astronaut Badan Antariksa Kanada Jeremy Hansen—secara resmi memasuki masa karantina. Karantina pra-penerbangan adalah protokol standar untuk melindungi kesehatan awak dari penyakit sebelum misi penting. Dengan dibatalkannya peluncuran Maret, NASA menyatakan bahwa para astronaut tersebut telah keluar dari karantina. Mereka pasti mengalami roller coaster emosi, dari persiapan puncak kembali ke mode menunggu.
Kru ini mewakili era baru eksplorasi. Christina Koch, misalnya, akan menjadi wanita pertama yang terbang ke orbit Bulan. Keikutsertaan Jeremy Hansen juga menandai kolaborasi internasional yang erat. Mereka adalah wajah dari ambisi Artemis, dan penundaan ini tentu menjadi ujian kesabaran. Namun, seperti misi antariksa lainnya, keselamatan adalah yang utama. Tidak ada yang mau mengambil risiko dengan sistem yang bermasalah, terutama dalam misi sekompleks penerbangan ke Bulan. Sejarah panjang eksplorasi, termasuk misi seperti Soyuz MS-27 ke ISS, selalu mengutamakan prinsip ini.
Jejak Panjang Penundaan dan Harapan untuk April
Penundaan terbaru ini adalah babak lain dalam perjalanan berliku program Artemis. Awal tahun ini, NASA sebenarnya mengumumkan percepatan timeline, memajukan Artemis II yang sebelumnya ditargetkan April 2026. Target kemudian bergeser ke awal Februari, lalu melesat ke Maret akibat masalah selama uji latihan basah. Kini, target bergeser lagi, mungkin ke April. Pola ini mengingatkan kita bahwa dalam pengembangan teknologi antariksa mutakhir, prediksi jadwal sering kali lebih merupakan seni daripada ilmu pasti.
Apakah April masih realistis? Itu sangat bergantung pada sifat perbaikan. Jika masalahnya sederhana dan terlokalisir, ada peluang. Namun, jika memerlukan penggantian komponen besar atau modifikasi desain, penundaan bisa lebih lama. NASA berjanji akan mengadakan briefing media minggu ini untuk memberikan penjelasan lebih detail. Dunia, termasuk para penggemar antariksa dan komunitas sains, akan menunggu dengan penuh harap.
Meski tertunda, semangat eksplorasi tidak boleh padam. Misi seperti Artemis II adalah tentang mendorong batas kemanusiaan. Setiap hambatan yang diatasi menambah pengetahuan dan ketangguhan untuk langkah berikutnya, termasuk misi pendaratan di Bulan. Seperti pengalaman astronaut yang pulang setelah lama di luar angkasa, perjalanan pulang-pergi ke Bulan penuh dengan tantangan yang harus dipecahkan satu per satu. Untuk saat ini, semua yang bisa kita lakukan adalah mengamati, belajar, dan berharap agar tim NASA segera menemukan solusi. Perjalanan kembali ke Bulan mungkin harus menunggu, tetapi akhirnya, ia akan tiba.

