Pernahkah Anda merasa algoritma media sosial favorit Anda tiba-tiba berubah menjadi kacau, atau konten yang Anda unggah seolah berbicara pada tembok kosong? Rasa frustrasi semacam ini tampaknya sedang melanda jutaan pengguna di Amerika Serikat. Ketika raksasa teknologi mengalami cegukan teknis, dampaknya bisa memicu gelombang migrasi digital yang tak terduga. Fenomena inilah yang sedang terjadi pada platform video pendek paling populer di dunia saat ini, TikTok, yang tengah menghadapi masa-masa sulit.
Entitas TikTok yang baru dibentuk di Amerika Serikat mengawali langkahnya dengan jalan yang sangat terjal. Aplikasi ini terus didera berbagai masalah teknis yang memengaruhi algoritma rekomendasi, jumlah penayangan (view counts), hingga fitur-fitur krusial lainnya. Situasi ini bukan sekadar gangguan kecil; ini adalah turbulensi yang membuat kenyamanan pengguna terganggu secara signifikan. Data terbaru menunjukkan bahwa pengguna tidak hanya mengeluh di kolom komentar, tetapi mereka mulai mengambil tindakan drastis dengan menghapus aplikasi tersebut dari perangkat mereka.
Di tengah kekacauan yang melanda sang raksasa, sebuah nama baru muncul ke permukaan dan mencuri perhatian publik: UpScrolled. Aplikasi independen ini tiba-tiba melihat lonjakan minat yang luar biasa dalam beberapa hari terakhir. Bak oase di tengah gurun, UpScrolled hadir di saat para kreator dan penikmat konten merasa jenuh dengan ketidakpastian teknis yang ditawarkan oleh platform lama. Pergeseran perilaku pengguna ini menandakan adanya kerinduan akan platform yang lebih stabil dan adil.
Eksodus Pengguna TikTok yang Mengkhawatirkan
Data tidak pernah berbohong, dan angka yang disajikan oleh firma analitik Sensor Tower cukup untuk membuat manajemen TikTok di AS tidak bisa tidur nyenyak. Menurut laporan yang disampaikan kepada CNBC, terjadi lonjakan sebesar 150 persen dalam jumlah pencopotan pemasangan (uninstall) aplikasi TikTok di Amerika Serikat dibandingkan dengan tiga bulan terakhir. Angka ini mencerminkan tingkat ketidakpuasan yang sudah mencapai titik didih.
Seorang analis dari Sensor Tower juga mengungkapkan kepada Engadget bahwa meskipun pengguna aktif harian (DAU) TikTok di AS meningkat sekitar 2 persen dalam periode yang sama, angka tersebut cenderung datar jika dilihat secara mingguan (week-over-week). Stagnasi ini terjadi beriringan dengan masalah teknis yang tak kunjung usai. Pihak TikTok sendiri menyalahkan pemadaman listrik di pusat data sebagai biang keladi dari “berbagai bug” yang muncul, termasuk masalah pada waktu pemuatan (load times) dan jumlah penayangan. Sayangnya, hingga kini perusahaan belum memberikan kepastian kapan perbaikan total akan selesai, situasi yang berbeda dengan peluncuran Aplikasi PineDrama yang relatif lebih mulus.
UpScrolled: Bintang Baru yang Bersinar
Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka. Pepatah ini sangat relevan bagi UpScrolled. Aplikasi independen ini kini menempati posisi kesembilan sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh di App Store AS dan menduduki peringkat kedua untuk kategori aplikasi sosial, tepat di bawah Threads milik Meta. Popularitasnya tidak hanya terbatas di Amerika; UpScrolled juga berhasil menembus lima besar di toko aplikasi Inggris dan Australia.
Lonjakan unduhan ini sangat erat kaitannya dengan masalah yang menimpa TikTok. Menurut estimasi dari App Figures, UpScrolled mencatat total 41.000 unduhan antara hari Kamis (saat usaha patungan AS diresmikan) hingga Sabtu. Padahal, sebelum hari Kamis tersebut, aplikasi yang dirilis pertama kali pada Juni lalu ini rata-rata hanya diunduh kurang dari 500 kali sehari. Total unduhan kini telah mencapai sekitar 140.000 kali di gabungan toko aplikasi Apple dan Google.
Baca Juga:
Saking cepatnya pertumbuhan pengguna, server UpScrolled sempat kewalahan. Dalam sebuah cuitan pada Senin lalu, perusahaan meminta pengguna untuk bersabar. “Baiklah, ini baru… Kalian datang begitu cepat hingga server kami menyerah. Frustrasi? Ya. Emosional? Juga ya. Kami adalah tim kecil yang membangun apa yang telah ditinggalkan oleh Big Tech,” tulis akun resmi UpScrolled, sembari menambahkan bahwa mereka sedang “berskala dengan kafein” untuk mengimbangi antusiasme pengguna.
Menawarkan Kesetaraan Tanpa Algoritma Rumit
Apa sebenarnya yang membuat UpScrolled begitu menarik? Dibuat oleh pengembang asal Australia, tampilan aplikasi ini sekilas mirip dengan Instagram, di mana pengguna dapat berbagi foto dan video pendek. Namun, perbedaan utamanya terletak pada filosofi penyajian konten. Aplikasi ini secara default menggunakan umpan “mengikuti” (following feed) yang kronologis. Meskipun tetap ada fitur rekomendasi, pendekatan kronologis ini memberikan kontrol lebih kepada pengguna, sesuatu yang sering kali hilang di platform besar yang penuh dengan konten kurasi algoritma.
UpScrolled didanai secara pribadi oleh pendirinya, Issam Hijazi, bersama sekelompok kecil investor individu yang berbagi misi dan nilai yang sama. Saat ini, aplikasi tersebut tidak memiliki iklan, meskipun perusahaan menyatakan “mungkin” akan ada iklan di masa depan. Transparansi dan model pendanaan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pengguna yang khawatir datanya disalahgunakan atau aplikasi yang Jual Data ke pihak ketiga.
Belajar dari Fenomena RedNote
Ini bukan kali pertama gejolak di TikTok menguntungkan aplikasi yang sebelumnya kurang dikenal. Awal tahun lalu, aplikasi asal Tiongkok, RedNote, sempat menjadi aplikasi teratas di Amerika Serikat saat TikTok menghadapi potensi pelarangan. Namun, popularitas RedNote terbukti berumur pendek karena “larangan” TikTok tahun 2025 ternyata hanya berlangsung beberapa jam saja. Kasus aplikasi yang Diblokir Permanen atau ditinggalkan pengguna memang sering terjadi jika tidak memiliki fondasi kuat.
Namun, situasi kali ini mungkin berbeda. Dengan pemilik baru di TikTok dan frustrasi yang memuncak akibat masalah teknis yang berkepanjangan, ada celah nyata bagi layanan video pendek baru yang tidak dikendalikan oleh korporasi raksasa. UpScrolled mempertaruhkan posisinya pada premis keadilan bagi kreator. “Terlalu sering, pengguna dibiarkan tidak yakin apakah suara mereka akan didengar atau diam-diam ditekan,” tulis perusahaan di situs webnya. UpScrolled berjanji untuk memastikan setiap postingan memiliki kesempatan yang adil untuk dilihat, menciptakan lingkungan yang otentik, tanpa filter, dan setara bagi semua.

