Investasi di Kargo Digital, Jeff Bezos Mau Caplok Beacon?

Bos Amazon Pedagang India

Telset.id, Jakarta  – Bos Amazon, Jeff Bezos, telah memilih perusahaan kargo digital asal Inggris Beacon, untuk sasaran investasi selanjutnya. Apakah Bezos kurang puas dengan performa bisnis Amazon?

Menurut laporan Reuters, Beacon mengumpulkan lebih dari USD 15 juta atau sekitar Rp 217 miliar dalam penggalangan dana Seri A dari sejumlah investor, termasuk Bezos dan perusahaan modal ventura 8VC.

{Baca juga: Tajir Abis, Jeff Bezos Beli Cash Rumah Termahal di LA}

Beacon, startup yang dibentuk oleh dua mantan eksekutif Uber Technologies Inc dua tahun lalu, didukung oleh pendiri Uber, Travis Kalanick dan Garrett Camp, bersama dengan mantan CEO Google, Eric Schmidt.

Dikutip Telset.id, Senin (1/6/2020), Beacon juga merupakan perusahaan keuangan rantai pasokan yang menyediakan data pengiriman kargo secara real-time dan analisa pasar tentang biaya dan harga global.

“Dengan digitalisasi yang meningkat secara global sebagai dampak pandemi Covid-19, kami percaya bahwa masa depan ekspedisi barang tradisional lebih berbahaya,” terang CEO Beacon, Fraser Robinson.

Beacon, yang melayani pengiriman logistik meliputi laut global, angkutan udara, dan truk, mengatakan bahwa dana yang terkumpul akan diinvestasikan untuk perekrutan baru, teknologi, dan perluasan pasar.

{Baca juga: Amazon Konfirmasi Kasus Positif Corona Pertama di Gudang AS}

Sayang, menyoal keputusan Bezos menanamkan modal ke Beacon, Amazon tidak segera menanggapi permintaan komentar. Ada yang menilai, Bezos ingin memperkuat gurita bisnis di bidang e-commerce dengan masuk ke bisnis kargo digital.

Sebelumnya, Amazon membuat kebijakan pedagang baru yang ingin menjual dagangan di Amazon harus mengikuti aturan baru. Setiap penjual di Amazon sekarang wajib melakukan video call untuk keperluan verifikasi identitas. Tujuannya untuk menghindari praktik penipuan di tengah pandemi Covid-19.

Ketika pertemuan tatap muka mustahil dilakukan di tengah wabah virus corona, potensi penipuan produk semakin terbuka. Amazon pun melakukan antisipasi pemalsuan barang dan keberadaan produk tidak aman yang diperjualbelikan di platform.

Sekadar informasi, rak digital e-commerce penuh dengan tipuan yang membuat merek-merek seperti Apple dan Nike menjadi frustasi. Bahkan, sebagian orang kemudian enggan menjual produk melalui Amazon. Mereka takut jadi korban penipuan.

Seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Selasa (28/4/2020), proses verifikasi penjual di Amazon via video call dimulai awal tahun ini. Metode tersebut telah diujicobakan dengan melibatkan lebih dari 1.000 calon pedagang yang tersebar di mana-mana. [SN/HBS]

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here