Telset.id – Tahun 2017 ini merupakan tahun ke-7 seri Galaxy Note dari Samsung diperkenalkan dengan nama Galaxy Note 8. Kalau dirunut sejak Galaxy Note seri pertama, banyak teknologi-teknologi baru smartphone disematkan Samsung pada seri Note.
Selain teknologi pena digital, raksasa teknologi asal Korea Selatan ini juga menyematkan layar yang lebih tinggi resolusinya, RAM yang lebih besar, UI yang baru, bahan/material yang baru, dan lain sebagainya.
Sekarang di tahun ke-7, Galaxy Note 8 diperkenalkan Samsung dalam sebuah acara dengan tata panggung yang spektakuler di New York bertajuk “Galaxy Unpacked 2017”. Mari kita lihat lebih dalam, teknologi dan fitur apa yang kali ini dibawa oleh seri Note yang baru.
Desain
Sebenarnya sejak tahun lalu, garis desain antara seri S dan seri Note mulai serupa. Seperti kita lihat pada Galaxy S7 edge dengan Galaxy Note 7 atau yang sekarang dikenal sebagai Galaxy Note FE. Demikian pula formula yang sama, pada Galaxy Note 8, yang secara kasat mata akan membuat orang mengenalinya sebagai garis desain dari Galaxy S8.
Hal itu terutama karena pendekatan teknologi layar yang sama, infiinity display, dengan ratio memanjang, layar kiri dan kanan yang melengkung, dan bezel kecil di atas dan di bagian bawah. Bedanya pada Galaxy S8 atau S8+ sudut-sudut dibuat lebih melengkung yang membuatnya manis, sedangkan Galaxy Note 8 bagian melengkung ini dibuat lebih mengotak dan tegas, membedakan karakter keduanya.
Saya menyukai pembedaan garis desain ini, menunjukkan karakter yang berbeda, kalau kita analogikan Galaxy S8 seperti mobil sport masa kini yang streamline penuh lengkungan aerodinamis. Sementara Galaxy Note 8 seperti mobil-mobil mewah papan atas, katakanlah Bentley atau Rolls-Royce, yang diantara lengkungan tetap senantiasa memperlihatkan tekukan-tekukan garis lurus yang tegas.
Galaxy Note 8 sekarang ini menjadi smartphone Samsung dengan layar terbesar, yakni 6.3 inci, atau hanya 0.1 inci lebih besar dibanding Galaxy S8+ yang berlayar 6.2 inci. Dalam bayangan banyak orang, mungkin saja berpikir device ini berukuran jumbo yang sulit digenggam tangan.
Pendapat itu ada benarnya jika saja Samsung masih menggunakan ratio layar gaya lama 16:9. Tapi dengan ratio yang baru 18.5:9, device ini tidak menjadi lebar tetapi lebih memanjang, sehingga keseluruhan bentuk smartphone tetap ramping.
Ukuran genggaman smartphone senantiasa bergantung kepada lebar perangkat, dan faktor berikutnya ketebalan. Jika dibandingkan dengan Galaxy Note 5 yang berlayar 5.7 inci, ternyata Galaxy Note 8 malah lebih ramping 1.3 mm, walau memiliki layar 0.6 inci lebih besar. Jika dibandingkan dengan Galaxy S8+, hampir tidak terlihat perbedaan lebarnya, hanya terlihat Galaxy Note 8 lebih tinggi sekitar 3mm saja.
Hal yang terasa berbeda saat menggenggam Galaxy Note 8 dengan Galaxy S8+ adalah pada bagian sisi frame metal. Walau keduanya berdesain dual edge – lengkung layar dan bagian belakang sama – pada Galaxy S8+ bagian frame metal di sisi kedua lengkung layar dan bagian belakang ini tetap melengkung, sedangkan pada Galaxy Note8 terasa rata. Dengan kondisi frame metal yang rata, grip pada Galaxy Note 8 terasa lebih solid, kasat, atau sering kita dengar dengan istilah firm.

Jika dibandingkan dengan desain Galaxy Note 5 atau Note FE, terlihat Galaxy Note 8 memiliki lompatan desain, tetapi tentu saja banyak yang akan membandingkannya dengan Galaxy S8. Jika diperhatikan pada keempat bagian ujung layar, Galaxy S8 akan tampak lebih melengkung, sementara Note 8 lebih sempit radiusnya.

Begitu juga pada sisi lengkung layar kiri dan kanan, Note 8 terlihat lebih sedikit lengkungnya. Kombinasi kedua area yang lebih sedikit lengkung ini untuk memberikan area yang lebih maksimal untuk menulis dengan S-pen dan menjadikan screen to body ratio naik ke 83%, yang berarti luasan layar mencapai 83 persen dari keseluruhan permukaan smartphone.
Seperti Galaxy S8, bezel bagian atas Galaxy Note 8 terdapat sederetan sensor seperti proximity dan ambient sensor, speaker, ditambah dua kamera, satu kamera depan dan satu kamerea iris scanner beserta infra red untuk pembacaan iris.
Kali ini pembacaan iris scanner terasa lebih jernih dan cepat, karena pada bagian software sudah di-update ke Samsung Experience 8.5, termasuk jika kita ingin menggunakan pemindai wajah.
Pemindai wajah atau face recognition ini bukan kelas security yang dianggap tinggi oleh Samsung, sehingga tidak dapat digunakan untuk keperluan lain, seperti web sign-in, payment, dan secure folder. Untuk kepentingan security yang lebih tinggi hanya dapat digunakan pemindai sidik jari dan iris scanner.
Untuk urutan tombol tidak berubah pada bagian kiri terdapat tombol volume + – dengan sebuah tombol dedicated button Bixby, yang sekarang sudah bisa digunakan juga di Indonesia termasuk fitur Bixby voice. Lebih jauh tentang Bixby dan mengapa Samsung merasa perlu ada sebuah tombol dedicated, saya pernah menulisnya di sini: https://goo.gl/kx6zbY

Tombol power tetap di bagian sisi kanan, di sisi bawah terdapat port USB type-C, lubang speaker yang suaranya keras dan berkualitas baik, dan Samsung tetap percaya bahwa saat ini, kebanyakan dari kita masih membutuhkan sebuah jack earphone 3.5mm standar untuk tetap bisa menikmati musik, sekaligus charging secara bersamaan.

Tidak ada lagi tombol home button fisik di bezel bagian bawah yang tipis. Semua tombol home button, recent apps, dan tombol back menjadi icon di atas layar yang bisa kita tentukan apakah ingin muncul terus atau otomatis bisa bersembunyi di semua aplikasi untuk memaksimalkan tampilan layar, dan baru muncul ketika kita swipe dari bezel ke atas layar.
Untuk home button sendiri terdapat pressure sensor di bawahnya, sehingga akan mengenali apakah sedang kita tap atau tekan. Ketika kita tekan akan ada tactile feedback berupa getaran, memimik tombol asli. Pressure sensor home button ini bisa ditekan kapan saja untuk senantiasa kembali ke home dari aplikasi apa saja, walau icon nya tidak terlihat sekalipun.
Presssure sensor home button juga berguna jika kita menggunakan iris scanner atau face recognition untuk meng-unlock dengan cepat smartphone, tanpa harus menekan power dan swipe.

Pada bagian belakang body tetap terbuat dari kaca Gorilla Glass 5, dimana di bawahnya terletak kumparan untuk wireless charging. Masih seperti Galaxy S8, di bagian sedikit ke atas, berjejer kamera, lampu blitz LED, heart-rate sensor dan fingerprint sensor.
Kali ini kameranya tidak satu tetapi dua kamera, dengan urutan yang sedikit berbeda, yakni kamera, LED dan heart-rate sensor, baru fingerprint. Sebelumnya pada Galaxy S8, lensa kamera dan fingerprint bersebelahan, sehingga seringkali jari mengotori lensa kamera.

Tetapi tentu saja jika melihat sedemikian luasnya ruang di belakang perangkat, pasti akan banyak yang bertanya-tanya kenapa peletakkan fingerprint sensor masih tetap sama seperti Galaxy S8 yang sejajar dengan kamera, bukan di bagian bawah yang lebih mudah terjangkau. Sebenarnya posisi fingerprint ini tidak masalah, karena nantinya jika sudah terbiasa, kita akan bisa mengakses fingerprint ini dengan cepat.
Apalagi sekarang di sekeliling area kamera dan fingerprint sensor diberi border lebih menonjol dan memisahkan dengan jelas bagian kamera dan fingerprint sensor. Sama seperti di Galaxy S8 saat menggunakan casing yang memisahkan lubang kamera dan fingerprint sensor yang membuat fingerprint terasa lebih mudah. Demikian juga dengan border tersebut di Galaxy Note8.
Walau demikian, saya juga tetap penasaran, karena posisi fingerprint ini memang tidak umum, banyak di komentari negatif oleh media saat di Galaxy S8, tetapi mengapa tetap di posisi yang sama di Note 8.
Kebetulan ada kesempatan berbincang dengan Jin Seo, SP Manager Global Product Planning dari Samsung HQ yang terlibat dari awal pembuatan Galaxy Note 8. Ia menjelaskan Galaxy Note 8 di dalamnya sangat padat dan kompak. Mereka (desainer Samsung) berpikir jika menempatkan fingerprint terpisah akan terlalu menyita banyak tempat, lebih baik digunakan untuk part yang lain.
Lagipula secara desain, mereka menginginkan desain yang lebih simple dan clean, sehingga akhirnya pilihan penempatan fingerprint tetap di sana.
Menurut saya, penjelasan Jin Seo benar, terutama untuk bisa menempatkan kapasitas baterai yang maksimal, karena pada Galaxy Note 8, area baterai sudah terpotong oleh kebutuhan lubang untuk S-Pen.
Jika harus menempatkan lagi di bagian tengah sebuah fingerprint sensor, tempat untuk baterai akan lebih tersita lagi. Kebetulan iFixit memindai X-ray Galaxy Note 8, sehingga kita bisa melihat memang di bagian tengah tidak ada tempat lagi untuk meletakkan fingerprint sensor.

Mungkin juga penempatan fingerprint “seadanya” tersebut hanya sebuah transisi, sebab toh kita sudah mendengar bahwa ke-depan fingerprint akan diletakkan di bawah layar. Bisa jadi para desainer Samsung ini ingin “memaksa” pengguna menggunakan biometric security lain yang lebih baru, seperti iris scanner, daripada terpaku hanya dengan satu metode biometrik fingerprint.
Next..
Layar
Satu bagian paling krusial di smartphone sebenarnya adalah layar. Karena bagian ini yang senantiasa kita tatap. Sadar tidak sadar, sekarang ini sebagian besar pengguna smartphone menuntut baterai besar, yang sebenarnya berarti semakin lama setiap hari mereka menatap layar smartphone.
Banyak pengguna smartphone baru sampai tahap melihat layar hanya dari sisi ukuran layar dan resolusi layar. Teknologi layar ini sebenarnya salah satu teknologi yang rumit, bukan hanya sekedar menampilkan gambar, tetapi di dalamnya banyak faktor lain.
Seperti standar warna apa yang bisa dihasilkan, apakah bisa menghasilkan warna sesuai objek aslinya. Begitu juga ketika memutar video/film, apakah warnanya sesuai dengan keinginan pembuat film, apa bisa beradaptasi dengan pengaruh pencahayaan sekitar, dan banyak lagi faktor yang menentukan kualitas layar. Karena hal ini, walaupun sama ukuran layarnya, bisa jadi harga part layar antara brand A dan brand B bisa sangat berbeda.

Kalau kita perhatikan, walau sekarang banyak flagship dari berbagai brand memiliki prosesor yang sama dan RAM yang besar, banyak yang memilih untuk menggunakan resolusi layar hanya full HD dan tidak begitu peduli dengan kalibrasi warna, hanya memerlukan tampil pop up. Hal ini dilakukan untuk menghindari menambah rumit dalam pengaturan software, juga demi penghematan harga.
Ketika pertama menyalakan Galaxy Note 8 dan melihat layarnya, saya menduga tidak berapa lama lagi Displaymate akan mengeluarkan hasil test lab-nya dan mengatakan smartphone ini memiliki layar yang baik. Agak sulit membayangkan setelah beberapa lama menggunakan Galaxy S8, kualitas layar masih bisa ditingkatkan.
Ketika mencobanya beberapa saat bekeliling kota NY saat siang hari panas terik, sebenarnya sudah terlihat bahwa layar Galaxy Note 8 ini istimewa. Memang salah satu cara mencoba kualitas layar adalah di bawah sinar matahari. Biasanya di bawah sinar matahari banyak smartphone akan sulit dibaca layarnya, gambar yang ditampilkan pun menjadi wash out.
Kita menyalakan smartphone di bawah sinar matahari biasanya untuk mengambil foto dan melihat peta. Ada 2 faktor utama yang membuat smartphone bisa mudah dibaca di bawah sinar matahari. Pertama, harus punya brightness yang cukup. Kedua, tingkat reflektif dari layarnya sendiri harus rendah, agar tidak banyak memantulkan cahaya sinar matahari.

Benar saja sekarang ini hasil lab Displaymate sudah keluar, dan menganugerahi Galaxy Note 8 sebagai smartphone dengan kualitas terbaik saat ini, bahkan mendapat predikat Excellent A+. Salah satu hasil test lab Displaymate yang menonjol di Galaxy Note 8 adalah brightness-nya 22% lebih terang dibandingkan Galaxy S8, dengan maksimum kecerahan 1240 nits atau cd/m2.
Ini kira-kira sama terang dengan kita menyalakan 1240 lilin bersamaaan dalam area 1M2. Sebagai perbandingan, kecerahan maksimum dari Galaxy S8 adalah 1020 nits, sedangkan Galaxy S7 875 nits. Kecerahan maksimum ini bisa didapat dengan setting kecerahan otomatis, dimana ketika sensor ambient menangkap bahwa cahaya sekitar sangat terang, akan terus mengimbanginya dengan meningkatkan kecerahan layar.
Terus sebenarnya apa kegunaan layar smartphone sedemikian terang? Apakah hanya berguna supaya tetap terbaca jelas di bawah matahari?

Kecerahan yang tinggi ini dibutuhkan sebagai persyaratan untuk layar bisa menampilkan konten HDR (High Dynamic Range) sesuai standar UHD Alliance for Mobile Premium HDR yang berlaku, dimana salah satu syaratnya adalah kecerahan minimum 1000 nits.
Sementara syarat lainnya minimal kedalaman warna 10-bit , color gamut dengan standar DCI-P3 minimal 90%, yang semuanya dapat dicapai oleh Galaxy Note8 bahkan dengan colour gamut DCI-P3 112%. Dengan dicapainya standar ini, smartphone Galaxy Note8 sanggup memutar film 4K UHD HDR premium.
Mungkin dari banyak pemilik S8 sekalipun -yang juga sudah support layar HDR- tidak sadar bahwa smartphone-nya bisa menampilkan film yang tidak/sulit bisa diputar di smartphone lain dengan baik. Coba saja download sample film Life of Pi 4K HDR di link ini https://goo.gl/3Zh2db atau film Exodus di link ini https://goo.gl/m2qaNW.
Set layar dengan resolusi WQHD+ dan screen mode AMOLED Cinema, putar dengan aplikasi video bawaan smartphone Galaxy. Kita akan menyadari, selama ini warna hijau yang ditampilkan di Algae Island, pulau pemakan daging kemungkinan besar salah, dan warna keemasan jubah Firaun benar-benar nyata di Exodus. Jika smartphone tidak support layar HDR, tidak akan bisa memutar film tersebut, atau kalau bisa memutarnya akan menampilkan warna-warna yang wash-out.
Konten-konten 4K dan HDR sekarang mulai marak termasuk dilayanan video steraming seperti Netflix. Youtube dan Amazon juga sudah mempunyai layanan ini. Sebenarnya hampir semua film Hollywood dibuat dengan konten HDR, hanya saja keterbatasan alat pemutar kita mengharuskan semua film ini di tone down. Intinya dengan standar layar yang sesuai, kita bisa menampilkan film dengan warna-warna dan kedalaman seperti yang dibuat susah payah oleh si pembuat film.

Layar Galaxy Note 8 yang memanjang dengan rasio 18.5:9 memang berbeda dengan kebanyakan smartphone yang masih menggunakan standar rasio layar 16:9. Kita akan mendengar Samsung akan mengatakan layar sepanjang ini akan menampilkan konten lebih banyak dalam satu halaman, sehingga kita tidak perlu terlalu banyak scroll (less scrolling), misalnya untuk membaca berita di website.
Tetapi selain itu saya sangat menyukai layar memanjang ini untuk menonton konten video dan bermain game. Saat kita menonton film-film bioskop, kebanyakan film-film tersebut berformat memanjang, sehingga pada layar smartphone standar kita akan mendapatkan bar hitam di atas dan di bawah dan gambar terasa kecil.
Pada Galaxy Note8 film-film bioskop ini tampil prima, kebanyakan film bisokop yang menggunakan format 21:9 akan menyisakan sedikit bar hitam kecil dibagian atas dan bawah, tetapi jika kita menginginkannya akan bisa memenuhi layar dengan mode crop to fit.

Pengalaman menonton dengan layar memanjang ini akan terasa berbeda sekali dengan layar standar 16:9, seperti kita menyukai menonton film di bioskop karena layarnya yang besar dan memanjang. Hal ini karena pada dasarnya mata kita memiliki FOV (Field of View) atau cakupan area pandang yang berbeda antara cakupan horisontal dan vertikal.
Secara horisontal mata kita bisa melihat lebih luas, 210 derajat, dibanding vertikal yang hanya 150 derajat. Makanya kita mudah kagum ketika pergi ke pantai atau berdiri di atas gunung dengan pandangan lepas, karena mata kita bebas memandang horison yang memanjang tanpa hambatan seperi sehari-hari pandangan kita terkungkung dengan dinding ruangan dan gedung-gedung di sekitar kita.
Sementara ini memang konten-konten pada smartphone seperti aplikasi, game, bahkan youtube dibuat lebih banyak dengan rasio 16:9, tetapi bagusnya Samsung mempersiapkan hal ini dalam setting display, untuk bisa menyesuaikan konten tampil full screen, baik aplikasi maupun game. Bahkan saya lebih menyukai tampilan video YouTube tampil full screen (crop to fit), karena terasa lebih sinematik, dibanding menyisakan bar hitam di kiri dan kanan.
Layar dalam format yang lebih panjang ini juga sekarang terasa lebih lega untuk menampilkan dua aplikasi secara bersamaan (split screen), dengan rasio 1:1 untuk setiap aplikasi dan masih bisa di geser. Karena format yang lebih lega ini di Galaxy Note 8 diberikan satu fitur tambahan Apps Pair yang bisa kita tentukan beberapa kombinasi pasangan aplikasi yang dalam satu klik langsung ditampilkan dan jalan berbarengan.
Misalnya saat berkendara, dalam satu klik kita bisa mengaktifkan aplikasi Google Map dan musik secara bersamaan, satu aplikasi untuk memandu jalan, satu aplikasi lagi langsung memutar lagu-lagu yang kita suka.

Bicara kualitas layar Super AMOLED di Galaxy Note 8 bisa sangat panjang. Salah satu bagian mengapa Samsung di seri flagship nya senantiasa mendapat predikat layar terbaik adalah fitur layarnya yang sulit ditemui di smartphone lain. Seperti kemampuannya mengubah resolusi secara instant dari WQHD+ (2960×1440) ke FHD+ (2220×1080), bahkan ke HD+ (1480×720), atau mengubah standar color gamut, dengan pilihan:
Basic, memimik rentang warna yang dihasilkan kebanyak layar monitor IPS LCD. Saat mengedit foto dan ingin ditampilkan sesuai dengan cakupan warna layar LCD, kita bisa menggunakan standar gamut ini.
AMOLED Cinema, menghasilkan warna sesuai color gamut DCI-P3 industri per-film an, untuk bisa menonton konten film dengan warna sesuai aslinya.
AMOLED Photo, menghasilkan warna sesuai kamera DSLR modern berstandar adobe RGB yang memiliki rentang warna lebih besar dibanding RGB standar.
Adaptive Display, secara otomatis menyesuaikan rentang warna, ketajaman, dan kontras pada layar, tergantung pencahayaan sekitar. Misal layar akan beradaptasi di lingkungan cafe yang memiliki banyak lampu bercahaya kuning, dan berubah lagi ketika berada di ruang belajar.
Kemampuan ini seperti kita memiliki banyak smartphone dengan beragam layar, dalam satu smartphone.
Untuk mereka yang merasa S-pen bukan pemikat untuk menggunakan seri Note, kualitas layar Galaxy Note8 ini sendiri dan apa yang bisa dilakukan dengannya, bisa menjadi pemikat yang kuat.
Next..
S-Pen
S-pen sendiri adalah pusat dari Galaxy Note series, pena digital yang disetiap seri Note fungsinya senantiasa bertambah. S-pen ini juga yang membedakan bobot nama Note dari Samsung dengan nama seri Note dari brand lain yang biasanya hanya menunjukkan ukuran layar phablet.
Para noter’s sebelumnya yang sudah fasih menggunakan S-pen di Galaxy Note5 akan menemukan S-pen yang baru memiliki beberapa peningkatan signifikan, seperti pressure sensor yang sekarang 2x lipat lebih baik di 4096, dan ujung pena yang 60% lebih kecil, menjadi hanya 0.7mm lebih mirip ujung pena yang tajam.

Dengan pressure sensor yang baru, kita seperti menggunakan pena atau pensil sungguhan, dimana garis akan terbentuk tipis dengan warna tipis jika tidak ditekan, dan akan lebih lebar dan jelas warnanya saat lebih ditekan. Seperti ujung pensil yang bisa kita gunakan bagian ujung dan bagian sisinya saat ditidurkan, demikian juga S-pen yang baru, sedikit direbahkan akan menghasilkan goresan yang berbeda.
Seperti biasa layar bisa membedakan mana jari tangan dan mana ujung S-pen, sehingga seperti kita menulis di atas kertas sementara sebagian tangan ada di atas kertas, demikian juga tangan di atas layar saat kita menulis dengan S-pen tidak akan mengganggu atau membuat bekas/garis.
Dalam 7 tahun ini, dibanding Galaxy Note seri pertama, kepekaan S-pen sudah berlipat 16 kali nya, dan sekarang S-pen juga dibuat tahan air. Mengimbangi body Galaxy Note8 yang tahan air, S-pen yang tahan air dapat benar digunakan di dalam air untuk menulis atau mengganti input tangan.
Mereka yang selama ini memiliki smartphone tahan air pasti menyadari, ketika smartphone dibawa ke dalam air, layar smartphone seperti disentuh banyak jari, bisa bergerak-gerak sendiri, dan kita tidak bisa melakukan touch input di dalam air. Dengan S-pen, ujung jari yang tidak bisa bekerja pada layar di dalam air bisa digantikan, selain bisa tetap menulis di atas layar, kita juga bisa men-tap layar untuk membuka aplikasi dan melihat data seperti biasa.

Salah satu kelebihan S-pen tidak pernah harus di charge dan tidak pernah kehabisan baterai, karena memang tidak memiliki baterai. S-pen menggunakan teknologi elektromagnetik dimana setiap digunakan, lapisan di bawah layar mengirimkan “listrik” untuk disimpan di dalam kapasitor S-pen, seperti teknologi wireless charging.
S-pen juga simple karena mempunya silo atau kompartemen di dalam body Galaxy Note, sehingga tidak mudah tercecer dan terpisah. Saat kita lupa memasukkannya, setelah terpisah dalam jarak tertentu, smartphone akan bergetar dan memberitahu bahwa S-pen tidak ada di dalam lubangnya, termasuk memberitahukan jam terakhir kapan S-pen digunakan.
Saat Galaxy Note awal dibuat, banyak yang berpikir S-pen ini lebih berguna untuk mereka yang kreatif dan memiliki bakat menggambar. Sampai sekarang fungsi S-pen untuk mereka yang berbakat menggambar atau melukis memang semakin baik, dengan mode brush sekarang bisa memimik warna seperti cat air, ketika warna merah bertemu kuning, akan menjadi oranye dengan efek seperti kuas yang digunakan.

Tetapi S-pen sebenarnya lebih umum digunakan untuk produktifitas, dimana untuk kebanyakan orang, menulis hal-hal singkat bisa lebih cepat dibandingkan dengan mengetik, dan dengan bantuan s-pen dalam ketikan pun bisa ditambahkan tulisan atau sketsa.
Kesulitan banyak orang dengan smarphone adalah memberikan anotasi, misal melingkari bagian dari dokumen yang salah, memberi tanda pada gambar, memberi petunjuk pada peta, dan lain sebagainya, yang bisa sangat terbantu dengan kehadiran S-pen, bahkan untuk menandatangani sebuah dokumen dalam format pdf. Banyak pekerjaan-pekerjaan yang bisa lebih cepat dan mudah diselesaikan dengan bantuan S-pen.
Tetapi dalam perkembangan Galaxy Note, terlihat juga kalau device ini yang dulunya lebih ditekankan untuk kaum pekerja kantoran, artis seni, dan mereka yang bergerak di bidang kreatif, dengan bantuan berbagai fitur S-pen, sekarang melebar kepada golongan kaum awam dan anak-anak muda bahkan millenials.
Ini terlihat dari fungsi S-pen kini melebihi fungsi sketsa sketsa dan menulis, dengan ditambahkannya beberapa fitur baru di air command, yang sekarang bisa manampung 10 fitur yang paling sering kita gunakan, yang bisa diputar seperti carousel, diantaranya:
Translate, dengan hovering (meletakkan ujung S-pen di atas layar tanpa menyentuh) di atas kalimat bahasa lain untuk langsung mendapat terjemahannya yang sudah meliputi 71 bahasa, bahkan jika dalam kalimat tersebut terdapat angka nilai mata uang, akan langsung di konversi ke mata uang terjemahan, sangat memudahkan dibanding secara manual menghitung lagi dengan kalkulator atau menggunakan google search.

Magnify, seringkali ada bagian dari website atau portal berita yang tidak bisa kita zoom in atau zoom out, bahkan ada beberapa portal web yang tidak mobile friendly sehingga menampilkan tulisan yang terlalu kecil.
Magnify dengan hovering S-pen diatas tulisan tersebut sangat membantu untuk membaca dengan besaran yang bisa kita sesuaikan, termasuk untuk melihat gambar atau grafis yang terlalu kecil di web. Kita bisa menggunakan kaca pembesar ini juga pada map atau bahkan untuk membaca komik.

Live Message, fungsi S-pen terbaru ini menarik, di atas kertas kosong atau di atas foto, kita bisa menulis atau menggambar yang kemudian setiap goresannya akan direkam (maksimum 15 detik) dan diubah menjadi animasi GIF yang bisa di share ke banyak aplikasi seperti WA, Telegram, FB, dll.
Goresan ini bisa ditentukan tebal dan warnanya termasuk efek, apakah standar, glow atau sparkle. Selain untuk membuat pesan menarik, fungsi ini juga bisa digunakan untuk memberikan anotasi yang berurutan. Fitur ini bisa dikembangkan sesuai kreativitas kita.
Smart Select, fitur ini cara paling cepat untuk meng-crop gambar dan bisa langsung dibagikan, di save, atau diolah terlebih dahulu. Menggunakan S-pen di Galaxy Note jauh lebih mudah dibanding belajar photoshop, termasuk untuk mengedit dan memanipulasi gambar/foto dengan cepat.
Smart Select ini selain bisa meng-crop gambar dalam bentuk kotak atau lingkaran, bisa juga menggunakan lasso dengan mengikuti pola gambar dengan menyusuri tepinya dengan S-pen. Fitur smart select lain yang berguna adalah GIF animation, dimana kita bisa “mengcopy” video yang sedang berjalan dan menjadikannya animasi GIF dalam waktu tertentu sesuai kualitas yang kita pilih.

Fungsi S-pen lain yang diandalkan di Galaxy Note8 adalah screen off memo. Berulangkali kita senantiasa mencari kertas dan pena untuk mencatat hal penting dengan cepat, dan fungsi ini diakomodir Galaxy Note8 dengan screen-off memo, cukup cabut pena, dalam keadaan layar mati kita bisa menulis di atasnya, yang sekarang di expand hingga bisa 100 halaman.
Screen-off memo bisa dilakukan dengan cepat tanpa perlu kita harus menyalakan smartphone, memasukkan pin atau sidik jari, membuka aplikasi note dan baru menulis. Pada Galaxy Note yang dulu fungsi ini selain hanya satu halaman, hanya bisa diaktifkan dengan mengeluarkan S-pen dari silo nya.
Ketika ingin menulis hal lain di layar, harus memasukkan S-pen dan mengeluarkannya lagi untuk mengaktifkan fungsi screen-off memo. Repotnya terkadang sehabis menulis, pengguna Galaxy Note mungkin meletakkan S-pen diatas meja atau masih memegangnya.
Di Galaxy Note 8, fungsi ini screen-off memo selain bisa diaktifkan dengan mengeluarkan S-pen dari lubangnya, juga dengan menekan tombol samping S-pen. Tombol yang sama juga bisa digunakan untuk menghapus tulisan yang salah dengan menekan dan menahannya, kemudian menggerakkan S-pen di atas tulisan yang salah.
Untuk catatan yang penting, screen off memo ini bisa kita pin ke AOD (Always On Display), sehingga saat smartphone mati pun, screen AOD menampilkan catatan tersebut agar kita tidak terlewat.

Pada Galaxy Note 8, aplikasi seperti PenUp yang sebenarnya sudah ada, ditonjolkan lagi. Ini untuk para kreator yang sering menggambar dengan S-pen dan membagikannya ke para pengguna PenUp, seperti kita membagikan foto atau video ke instagram. Kali ini ada pada PenUp ini ada bagian coloring.
Ingat beberapa saat yang lalu, kita mendapati di toko-toko buku ada buku mewarnai untuk orang dewasa dan menjadi hype, karena ternyata bukan anak-anak saja yang gemar mewarnai. Banyak orang dewasa menyukai buku mewarnai dengan gambar-gambar yang lebih kompleks yang walau intinya sama mewarnai, biasanya objeknya berbeda dengan buku mewarnai anak-anak.
Kabarnya proses ini sebagai bagian dari refreshing untuk orang dewasa. Di menu coloring PenUp ini, kita akan menemui berbagai gambar untuk diwarnai yang cocok dengan orang dewasa. Enaknya mewarnai digital ini tidak perlu merepotkan kita membawa buku dan beragam alat mewarnai, dengan sebuah S-pen kita bisa memilih apakah akan menggunakan pensil warna, spidol, cat air, dan lain sebagainya.
Dan jika kita melakukan kesalahan, dengan mudah bisa dihapus dan diulang. Hal yang sepertinya sederhana, tetapi saya percaya, para pemilik Galaxy Note8 akan menyukai coloring ini untuk mengisi waktu dan refreshing.

Dalam rentang 7 tahun perkembangannya, selain ada fitur yang ditambah, ada juga fitur S-pen yang tidak disertakan lagi, karena sudah tergantikan oleh fitur yang lebih baru maupun fitur tersebut dianggap sudah tidak lagi diperlukan. Bicara fitur S-pen yang sudah demikian lama dikembangkan tidak akan ada habisnya, sehingga seringkali pengguna Galaxy Note yang sudah fasih menggunakannya sekalipun, terkadang masih menemukan kegunaan S-pen yang lain.
Walau jari kita memang alat sentuh yang ajaib (ehm..), tetapi karena ukuran jari kita yang besar, seringkali membuat kesulitan untuk jatuh tepat di titik tertentu layar yang terbatas, misal saat mengedit video, mengedit gambar, dan lain sebagainya, dimana S-pen hadir sebagai alat bantu yang lebih presisi.
Next..
Dual Camera
Samsung, brand besar yang termasuk terakhir masuk ke arena dual camera, dimana banyak brand sudah menelurkan puluhan tipe smartphone dengan kombinasi dual camera, dan Galaxy Note8 menjadi smartphone pertamanya yang menggunakan dual camera. Saat ini rata-rata ada 3 kategori yang digunakan untuk kombinasi dual camera.
Pertama lensa standar dan lensa black and white, kedua lensa standar dan super wide, ketiga lensa standar dan lensa telephoto. Samsung mengambil kombinasi yang terakhir untuk dual camera di Galaxy Note8, satu lensa standar 12MP f/1.7 dengan lensa 26mm dan sensor 1/2.55” , dan satu lagi lensa telephoto 12MP f/2.4 dengan lensa 52mm dan sensor 1/3.6”.

Lensa telephoto ini memberikan pembesaran 2x optikal. Sudah banyak smartphone yang menggunakan kombinasi lensa standar dan telephoto, termasuk iPhone 7 Plus. Bedanya, kebanyakan hanya menempatkan OIS (Optical Image Stabilization) pada lensa standar, atau bahkan tidak ada sama sekali. Sementara pada Galaxy Note 8 kedua kameranya baik yang berlensa standar dan lensa telephoto memiliki OIS.
Galaxy Note 8 menjadi smartphone pertama yang menggunakan kombinasi dual camera dengan dual OIS. Kalau kita pernah mencoba kamera dengan zoom optical yang besar, semakin besar zoom kamera digunakan, sedikit saja goyangan terasa sangat besar pada objek foto, untuk bisa mendapatkan gambar yang tetap fokus saat pembesaran, langkah penggunaan OIS pada kamera telephoto ini dirasa tepat.
Jangan membayangkan bahwa telephoto ini seperti kamera DSLR dimana lensa bergerak maju mundur untuk melakukan zoom. Telephoto ini lebih karena sifat lensa yang digunakan sendiri, focal length 52mm, yang berarti jarak antara sensor kamera dan lensa yang lebih panjang, sehingga objek terlihat lebih dekat, dengan cakupan area lebih terbatas. Dibandingkan lensa standarnya dengan focal length 26mm, maka lensa telephoto akan memberikan pembesaran optical 2x.
Untuk membahas kemampuan dual camera di Galaxy Note 8, saya akan mengulasnya secara lebih mendalam pada tulisan yang terpisah. Baca di Galaxy Note 8, Bukan Sekadar Dual Came
Performa
Secara umum performa, tidak ada yang perlu diragukan dengan Galaxy Note 8, sejajar dengan smartphone-smartphone flagship lain dengan spesifikasi yang mirip. Selain dual camera, Note 8 juga menjadi flagship Samsung global pertama yang memiliki RAM 6GB, setelah dari 2 tahun lalu, atau sejak Galaxy Note 5 bertahan dengan RAM 4GB.
Untuk produk lain di Indonesia, sebenarnya Samsung sudah memiliki smartphone mid-hi end dengan RAM 6GB di C9 Pro. Perbedaannya, RAM 6GB di Galaxy Note 8 memang di desain sesuai kebutuhan, sedangkan di C9 Pro yang diutamakan untuk dipasarkan di negara China, lebih diutamakan untuk bersaing dengan brand China, yang saling beradu membesarkan kapasitas RAM.
Besaran RAM ini mulai dibangun di masyarakat sebagai “image”, seperti megapixel pada kamera, semakin besar RAM semakin membuat smartphone cepat, walaupun sebenarnya pada prakteknya bukan seperti itu. Padahal yang ideal adalah kapasitas RAM yang optimal. Karena sisa RAM besar yang tidak digunakan malah tidak ada gunanya, dan aplikasi yang selalu parkir di RAM tidak ditutup dan selalu update, malah memboroskan baterai.
Kalau dalam test RAM seperti yang banyak divideokan di Youtube, dengan membuka banyak aplikasi dan game-game berat untuk menunjukkan keunggulan RAM besar, sebaiknya kita berpikir juga apakah mungkin dalam waktu yang bersamaan kita akan bermain 5 macam game berat bergantian di smartphone?
RAM lebih baik optimal, jadi dihitung dari banyaknya aplikasi yang akan di-loading sebagai bagian sistem di awal, dan sisa yang disiapkan yang bisa mengakomodir kebutuhan kebanyakan orang
RAM 6GB di Galaxy Note 8 dirasa pantas, karena secara beban aplikasi yang harus loading dan selalu berjalan di sistem. Note 8 memerlukan lebih banyak RAM, untuk S-pen, untuk setting layar, untuk UI, untuk setting security lock, untuk Bixby, aplikasi Notes, Gear VR, DeX, AOD, edge display, dan banyak lagi. Belum lagi kebutuhan untuk menjalankan 2 aplikasi secara bersamaan dengan ditambahnya fitur Apps Pair.
Untuk prosesor Samsung tetap memberlakukan 2 macam prosesor, Snapdragon 835 untuk pasar Amerika, dan pasar lainnya menggunakan Exynos 8895, termasuk Indonesia. Kedua prosesor ini sudah menggunakan fabrikasi terbaru 10nm, dan keduanya dibuat dipabrikan chip Samsung.
Memang banyak pengguna meributkan mana dari dua prosesor ini yang lebih baik. Lucunya orang kita yang lebih sering mendengar brand Snapdragon, berpikir bahwa prosesor ini lebih superior. Tetapi orang Amerika sendiri, berpikir bahwa mereka mendapatkan prosesor yang lebih inferior, karena terlihat sering kalah dalam adu kecepatan yang dilakukan Youtubers.
Dasar sebenarnya digunakan Snapdragon untuk pasar Amerika adalah kesesuaian band dengan operator di sana, apalagi operator CDMA masih kuat di sana. Seperti kita ketahui, Qualcomm memiliki banyak paten 4G LTE, dan ini membuatnya lebih sesuai dengan coverage operator di Amerika.
Dari hasil uji, kedua tipe prosesor ini sebenarnya mirip secara kinerja keseluruhan. Memang masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Kadang justifikasi kita hanya berdasarkan hasil angka benchmark. Angka benchmark ini terkadang hanya memberikan loading yang besar dan menghitung seberapa cepat bisa dikerjakan oleh chip smartphone.
Padahal chip sekarang bisa bekerja dengan cara yang berbeda untuk hasil yang optimal sesuai bebannya, seperti mampu menjalankan setiap core secara individual sesuai task kita sehari-hari saat menggunakan smartphone, dan setiap orang memiliki kebiasaan yang bisa berbeda-beda.
Untuk mereka yang tetap penasaran dengan nilai benchmark, Galaxy Note 8 memiliki angka yang tidak terlalu berbeda dengan Galaxy S8, karena memang SoC nya sama. Walau bukan angka yang paling tinggi diantara hi-end smartphone yang menggunakan prosesor sejenis, angka ini sudah masuk jajaran paling atas sekarang.
Hampir semua aplikasi mudah dijalankan dengan baik. Dikatakan hampir, karena bisa saja ada beberapa game atau aplikasi yang jalan tidak terlalu mulus, bukan disebabkan karena SoC nya tidak sanggup, tetapi lebih ke developer game-nya yang belum mengoptimalkan penggunaan GPU type baru seperti yang didukung Samsung, Mali G71, di chip Exynoss 8895.

Memang ada yang bertanya, mengapa prosesor sama tetapi hasil score benchmark bisa beda? Tinggal dilihat saja, kalau smartphone tidak di pump–up saat tahu aplikasi benchmark sedang dijalankan, perhatikan saja clock prosesor yang di set. Kalau dilihat, Samsung menggunakan clock prosesor sedikit lebih rendah untuk SoC yang sama.
Karena clock yang terlalu tinggi tidak terlalu bermanfaat saat benar digunakan, malah bisa menghasilkan panas yang berlebih dan mudah throttle (menurunkan kecepatan karena overheat) dan tidak nyaman digenggam.
Untuk mengatisipasi panas berlebih, Galaxy Note 8 juga memasung heat pipe khusus yang langsung tersambung ke permukaan SoC untuk menjaga kinierja prosesor tidak mudah overheat. Jika kita iseng membandingkan dengan kecepatan Galaxy Note pertama kali release 6 tahun lalu, Galaxy Note 8 secara angka benchmark sudah 12 kali lipat lebih kencang.

Dulu Samsung saya perhatikan juga peduli dengan angka benchmark, tetapi sekarang sepertinya tidak lagi. Samsung kini lebih memperhatikan fitur yang dianggap bisa lebih menambah user experience, dan sudah berpikir sebagai smartphone plus. Maksudnya, bukan sekedar smartphone saja, tetapi bisa menjadi perangkat yang lebih dari smartphone.
Misalnya dengan melengkapinya dengan DeX untuk menjadi Desktop PC, experience yang terus ditingkatkan dengan VR, termasuk menyediakan kontennya melalui kerjasama dengan banyak pihak. Samsung juga menambahkan kamera 360, dan terkoneksi dengan banyak perangkat lain, mulai smartwatch hingga peralatan rumah tangga.

Pertanyaan terakhir bagaimana dengan baterainya? Banyak orang mengkhawatirkannya, sementara layar bertambah besar, kelengkapan fitur semakin komplit, tetapi mengapa Galaxy Note 8 malah memiliki baterai “hanya” 3300 mAh? Ini angka yang lebih kecil dibanding Galaxy S8+ dengan baterai 3500 mAh.
Sayangnya untuk menguji daya tahan baterai, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit dan saya belum sempat melakukannya. Tetapi sebagai referensi, beberapa YouTubers sudah menguji daya tahan baterainya dibanding smartphone lain, termasuk Galaxy S8+ dengan baterai yang lebih besar. Ternyata Galaxy Note 8 lebih optimize dan irit. Salah satu link tesnya bisa dilihat di sini: https://www.youtube.com/watch?v=0BcpLU-3j3w.
Next..
Penutup
Galaxy Note 8 saat ini menjadi smartphone modern yang paling lengkap yang bisa kita ditemui di pasaran. Dalam artian smartphone flagship dengan format desain baru yang bezel-less dengan kelengkapan fitur baik dari sisi hardware dan software.
Tahan air dan debu IP68, fast charging, wireless charging, dual camera dengan dual OIS, kamera depan autofocus, layar WQHD+ dengan kualitas terbaik yang sudah support HDR dengan brightness dan kontras tertinggi. Selain itu, ada juga Gorilla Glass 5, dukungan Vulkan API, Gigabit LTE + WiFi, prosesor hi-end terbaru, RAM besar.
Dari sisi keamanan, Note 8 memiliki security terlengkap dari fingerprint sensor hingga iris scanner. Ada juga audio 32 bit dengan earphone berkelas AKG, dual SIM/SDcard, asisten artificial intelligence Bixby, cahsless payment system support NFC dan MST, Google Daydream VR support, heart rate sensor, dan sebuah pena digital S-pen dengan segudang fitur.
Samsung sepertinya all-out dengan Galaxy Note8, untuk mempertahankan diri tetap berada di puncak sebagai pembuat smartphone dengan inovasi terdepan.

Sulit mencari lagi padanan smartphone lain dengan kelengkapan seperti itu. Bisa saja orang menyoal harganya yang premium dan membandingkannya dengan smartphone dengan chipset yang sama dan harga mungkin hanya setengahnya. Tetapi kalau kita mau membandingkannya komplit, harga setengahnya juga dengan kelengkapan yang setengah juga.
Untuk para Noter’s, saya mudah mengatakan Galaxy Note 8 adalah seri Galaxy Note terbaik sampai saat ini. Bagi Anda yang happy dengan kemampuan Galaxy Note 5, tapi kehilangan kesempatan memiliki Galaxy Note 7, pasti akan sangat terhibur dan menyukai Galaxy Note 8.
Untuk para penggemar smartphone yang senantiasa mencari device terbaik, secara kualitas dan kelengkapan, Galaxy Note 8 sangat layak menjadi kandidat terbaik saat ini. Sedikit saja rajin mengeluarkan S-pen dan mulai eksplorasi kegunaannya, walau mungkin tidak pernah tertarik membuat sketsa dengannya, mungkin saja anda akan segera bergabung dengan barisan para Noter’s. [LS/HBS]













