Utak-atik Strategi Pemain China, Harga atau Inovasi?

Gambar terkait

Benang Merah

Masih banyak brand China lain yang juga besar, tidak kita bahas secara khusus, dan kita coba ambil benang merah dari beberapa brand di atas, membandingkan strategi mereka dengan brand global yang ingin mereka kejar.

Data terakhir dari Gartner memperlihatkan 5 besar brand smartphone di dunia, Samsung, Apple, Huawei, Oppo dan Vivo. Ada tiga brand China di sana, merupakan pencapaian besar, yang berarti hanya menyisakan 2 pemain global besar yang sudah lebih dulu eksis, dan berhasil melewati beberapa brand besar yang dulu bertengger di sana.

Mari kita bahas, untung ruginya strategi dari beberapa brand China di atas, apakah memiliki kesempatan untuk menyodok dua brand besar di posisi paling atas.

Pada bagian pertama ini kita membahas smartphone brand China yang mengandalkan penjualan dengan harga murah tetapi spesifikasi tinggi, pada bagian kedua kita akan membahas brand China yang menempuh strategi lain.

Harga Murah Spesifikasi Tinggi

Harga murah dan spesifikasi yang mumpuni, yang diusung Xiaomi dan OnePlus memberikan dorongan kepada pemain global untuk lebih ketat memperhatikan harga jual smartphone mereka. Dulu, smartphone global terbiasa menjual smartphone dengan harga lebih tinggi, untuk mendapatkan margin lebih besar, tapi kemudian seiring waktu menurunkannya sampai kepada harga bawah yang dianggap optimal.

Dengan kehadiran Xiaomi dkk, sekarang harga smartphone global lebih di posisi mendekati harga bawah optimal. Setiap tahun kita melihat walau teknologi smartphone meningkat, nilai mata uang lebih kecil, tetapi harga smartphone baru cenderung stabil seperti harga smartphone baru tahun lalu.

Tetapi tetap saja harga smartphone global tidak bisa semurah Xiaomi atau OnePlus. Padahal jika kita pikir, misalnya brand sekelas Samsung yang memiliki pabrik sendiri, termasuk komponen seperti layar, chipset, baterai, sensor, dan lain sebagainya, seharusnya akan dengan mudah bisa menyaingi Xiaomi atau OnePlus dari sisi harga.

Xiaomi dan OnePlus perlu membeli komponen dari banyak pihak, dan merakitnya menjadi smartphone, yang tentunya harga komponen yang mereka beli pasti lebih mahal dibandingkan pabrikan yang memproduksi komponen sendiri.

Jika kita membandingkannya dengan iPhone dari Apple, tidak ada iPhone yang harganya murah dan kelas mid-end atau low-end. Bayangkan, dengan brand image-nya sebagai ponsel kelas atas, jika Apple berniat membuat iPhone versi mid-end seharga 3-4 juta saja, akan mudah membuat orang-orang beralih ke iPhone.

Jadi, sisi harga murah ini sebenarnya bukan kompetisi yang sulit, buktinya setelah Xiaomi bermain di sisi harga murah dan spesifikasi mumpuni, dengan segera diikuti oleh brand China lain, seperti Meizu, Zuk, LeEco, Gionee, Nubia, dan banyak lagi yang merakit smartphone dengan pola yang sama.

Hal ini yang menyebabkan nama Xiaomi yang sempat muncul dalam 5 besar brand tahun 2014-2015 menurut Gartner, tidak lama kemudian hilang, dan target penjualannya tidak tercapai, karena disaingi oleh para pemain China lainnya yang memakai strategi yang sama.

Xiaomi beruntung memiliki line-up produk dari low end hingga hi-end yang semuanya relatif diterima pasar. Secara jumlah penjualan, antara hi-end, mid-end, dan low-end sampai saat ini masih berbentuk piramida, dengan jumlah hi-end lebih sedikit dibanding low-end. Hal ini wajar mengingat harga dan daya beli. Dari sisi margin, jualan hi-end memiliki margin yang paling besar.

Seringkali untuk mid-end, dan low-end, margin Xiaomi sangat tipis, bahkan terkadang dijual sesuai harga pembuatan dan mengandalkan keuntungan setelah harga komponen turun atau dari penjualan aplikasi. Di China, dengan tidak adanya Google Playstore, maka setiap vendor bisa membuat sendiri toko aplikasi dan mengambil keuntungan dari sana, termasuk juga penjualan wallpaper dan tema. Untuk pasar global yang sudah dilengkapi Playstore, agak sulit mendapat keuntungan dari sisi software.

Margin yang kecil memaksa Xiaomi untuk benar-benar berhari-hati saat memilih komponen dan tidak bisa mengembangkan terlalu banyak line-up yang bervariasi. Contohnya begini, untuk versi low dan mid-end, kita akan menemukan beberapa versi Redmi yang sama, hanya kemudian ditambah kode A, X, atau Pro. Secara bentuk dan desain bahkan ukuran, seri Redmi ini sama, hanya berbeda sedikit di spesifikasi, misal resolusi layar, besaran RAM, besaran ROM, jenis chip prosesor yang digunakan.

Cara ini ditempuh agar umur keberadaan Redmi tersebut panjang, karena smartphone yang berumur panjang berada di pasaran, bisa mendapat keuntungan dari harga komponen yang turun seiring waktu. Dalam satu desain bisa di dapat beberapa varian menguntungkan, karena desain ini membutuhkan biaya tidak sedikit, belum lagi keharusan melakukan banyak uji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Latest News

Samsung Galaxy Tab S7+: Powerful dengan Spesifikasi Kelas Atas

Telset.id - Bukan cuma Samsung Galaxy Note 20 saja, Samsung pun kabarnya akan merilis tablet premium terbaru mereka, Galaxy...

Pencipta Lagu Anak, Papa T Bob Meninggal Dunia

Telset.id, Jakarta - Kabar duka menyelimuti industri musik Indonesia. Pencipta lagu anak, Erwanda Lukas atau dikenal dengan Papa T...

5 Tempat Looting Terbaik di Map Livik PUBG Mobile

Telset.id - Seperti yang kita ketahui bersama, PUBG Mobile baru saja menghadirkan map eksklusif baru yang dinamakan Livik. Nah,...

Garmin Buka Toko Resmi di Central Park Jakarta

Telset.id, Jakarta - Garmin Indonesia telah Brand Store ketiga yang berlokasi di Central Park Mall, Jakarta. Pada toko resmi...

Tegas! TikTok Hapus 49 Juta Video Sepanjang Tahun 2019

Telset.id, Jakarta - TikTok hapus lebih dari 49 juta video selama Juli hingga Desember 2019. Jutaan video itu dinilai...
- Advertisement -