Telset.id – Pasar smartphone high-end Indonesia kembali bergairah setelah sebelumnya diramaikan oleh banyaknya smartphone mid-end serta entry-level yang hadir di Tanah Air. Ramainya pasar smartphone high-end di Indonesia tak lepas dengan hadirnya smartphone flagship anti-mainstream yang diluncurkan oleh Lenovo yakni Moto Z yang mengusung konsep modular.
Memang, Moto Z bukanlah smartphone pertama yang mengusung konsep modular di Indonesia karena sebelumnya telah hadir LG dengan jagoannya yakni LG G5 meski sayangnya smartphone tersebut “kurang mengigit” di Indonesia. Dengan harga Rp 8,4 jutaan (tanpa mods), Moto Z membawa berbagai keunggulan termasuk desain yang premium, mesin utama yang kuat dan pastinya dengan konsep modular yang memang menjadi senjata utamanya.
Nah untuk itu, Tim Telset.id akan mencoba untuk melakukan review Moto Z secara mendalam hanya untuk Anda para pembaca setia. So, yuk kita mulai bahas desain terlebih dahulu di halaman selanjutya!
Desain

Jika smartphone yang hadir di Indonesia desainnya terkesan itu-itu saja, berbeda halnya dengan Moto Z. Smartphone ini bisa dikatakan membawa konsep desain Motorola yang memang terkenal dengan desain yang terkesan elegan, kuat dan juga premium contohnya saja Motorola Razr v3 yang menjadi ponsel yang digandrungi anak muda di masa itu.
Moto Z mengusung desain premium dengan konsep unibody berbahan dasar metal dengan ukuran dimensi 153.3 x 75.3 x 5.2mm dengan berat hanya 136 gram saja. Terlihat dari ukuran dimensinya itu, Moto Z mengusung ketebalan terbilang sangat tipis.
Meski tipis, boleh dibilang Moto Z tetap terlihat kokoh seperti ciri khas Motorola dan seolah menjadi jawaban bahwa memang seharusnya seperti inilah smartphone premium sebagai mestinya. Tapi sayangnya, tipisnya Moto Z mengorbankan beberapa hal seperti dihilangkannya jack 3.5 mm untuk urusan audio, serta baterai yang berkapasitas terbilang kecil yakni hnya 2,600 mAh saja.

Ketika digenggam menggunakan satu tangan saja, Moto Z boleh dibilang cukup nyaman serta yang terpenting adalah tidak licin. Tapi sayangnya, jika smartphone ini sering dipakai, maka body bagian belakang akan terlihat kotor dengan banyaknya sidik jari yang menempel sehingga kami menyarankan untuk menggunakan casing tambahan yang sudah terdapat pada paket pembelian agar lebih nyaman lagi menggunakannya serta mencegah kotornya body Moto Z.
Di bagian depan, terlihat Moto Z begitu banyak sekali ornamen yang terlihat mengelilingi layar berukuran 5.5 inch di Moto Z. Misalnya saja di bagian bawahnya yang terdapat sensor sidik jari yang diapit oleh sensor jarak yang memungkinkan tangan pengguna untuk menyalakan layar smartphone dengan menempatkan layar di atas smartphone saja.
Ada hal yang cukup mengecewakan pada diri Moto Z yakni sensor sidik jari yang sebenarnya bisa dimanfaatkan sebagai tombol Home. Ya, pada smartphone ini sensor sidik jari yang ditempatkan di bagian depan tersebut hanya bertugas sebagai keamanan saja bukan merangkap menjadi sebuah tombol juga seperti beberapa smartphone yang mengusung tombol Home yang merangkap sebagai sensor sidik jari seperti Samsung Galaxy S7, iPhone 7 dan lainnya.
Sementara itu di bagian atasnya, terdapat speaker yang diapit oleh sensor proximity di sebelah kiri dan kamera berukuran 5MP serta LED Flash yang berada di sebelah kanan. Tentu Anda akan heran kenapa Lenovo berani menempatkan speaker di bagian atas. Jawabannya mungkin adalah karena body Moto Z yang tipis yang menjadikan mereka “nekat” menempatkan speaker di tempat yang tidak biasa.
Pindah ke bagian belakang, kebetulan varian Moto Z yang kami gunakan adalah warna White yang memiliki cover belakang berwarna Gold mewah dengan adanya ornamen garis-garis yang semakin memperlihatkan desain premium dari Moto Z. Di bagian bawah terdapat konektor khusus yang berfungsi sebagai konektor untuk menghubungkan Moto Z ke berbagai mods yang disediakan oleh Lenovo seperti Hasselblad True Zoom, JBL SoundBoost, Moto Insta-Share Projector, dan Incipio Power Pack.
Konektor ini sama sekali tidak terlindungi jika penggunanya tidak menggunakan cover tambahan yang diberikan dalam paket penjualan. Jadi kami sarankan lebih baik menggunakan cover tersebut untuk berjaga-jaga saja. Nah di bagian atasnya terdapat bulatan besar yang diisi oleh kamera beresolusi 13MP serta dual LED Flash yang dikemas apik nan mewah pada Moto Z. Jika terlihat dari samping, bagian kamera ini menjadi bagian paling menonjol sehingga jika ditaruh di meja atau alas lainnya (jika tidak menggunakan cover tambahan), maka penempatan Moto Z akan kurang rata.

Sementara itu di bagian sisi kanan Moto Z, terdapat tiga tombol yakni tombol Power dan tombol Volume. Yang unik tombol Power dari Moto Z yang memiliki gestur garis-garis kasar tapi terlihat menyatu dengan desain Moto Z secara keseluruhan. Sedangkan di bagian kirinya, tidak ditemukan apapun pada Moto Z.
Sedangkan di bagian atas, Anda hanya akan menemukan slot Nano SIM yang juga di dalamnya ada slot microSD yang jika digunakkan harus mengorbankan slot SIM 2. Di bagian bawah Moto Z, Anda hanya akan menemukan port USB Type-C saja. Secara overall desain Moto Z memang ebrbeda daripada desain smartphone pada umumnya yang hadir di Indonesia dan tetap memiliki kesan desain kuat, premium dan elegan khas dari Motorola.
Layar

Moto Z mengusung layar AMOLED dengan ukuran 5.5 inch beresolusi Quad HD alias 1440 x 2560 piksel. Layar tersebut hanya menghabiskan 72% ruangan bagian depan saja yang artinya bagian depan Moto Z memang memiliki bezel cukup besar. Tak hanya body saja yang kokoh pada Moto Z, layar pada smartphone ini pun boleh dibilang kokoh karena dilapisi oleh Corning Gorilla Glass 4 jadi penggunanya akan merasa aman karena layar Moto Z cukup kuat.
Layar Moto Z sangat berkualitas karena ketika kami mencobanya di luar ruangan, warna yang ditampilkan Moto Z sangat jelas, apalagi terbantu dengan adanya fitur Adaptive Brightness yang secara default aktif di Moto Z. Sama halnya ketika dicoba di dalam ruangan, layar Moto Z juga masih terlihat sangat jelas dan tetap nyaman untuk dilihat karena tidak terlalu terang atau terlalu gelap. Layar Moto Z sangat direkomendasikan untuk digunakan menonton film atau game dengan kualitas grafis tinggi.
User Interface
Anda tahu kan Google Now Launcher alias user interface asli dari Android? Nah, UI tersebut hadir di Moto Z karena memang smartphone ini termasuk saudaranya yakni Moto Z Play atau seri motorola lain yang hadir di Indonesia seperti Moto E3 Power mengusung UI asli dari Android yang segar dan tak terlalu membebani RAM.
Ada hal yang disayangkan lagi di Moto Z setelah sensor sidik jari yang terlihat seperti tombol Home padahal hanya berfungsi sebagai sensor keamanan saja. Ya hal yang sangat disayangkan tersebut adalah tiga tombol yakni Back, Home dan Recent Apps hadir di dalam layar yang untuk sebagian orang cukup mengganggu.

Sebenarnya, Moto Z berjalan di atas Android 6.0.1 Marshmallow, tapi tak menunggu lama, smartphone yang kami gunakan ini langsung mendapatkan pembaruan ke Android 7.0 Nougat. Terdapat tiga pengaturan ketika kami menekan dan menahan layar Moto Z yakni Wallpaper, Widgets dan Settings. Sama seperti launcher Google Now pada umumnya, ketika kami menggeser layar dari kiri ke kanan, akan muncul halaman Google yang menyediakan berbagai cards sesuai keinginan penggunanya.
Audio

Karena launcher yang digunakan adalah versi asli Android, otomatis pemutar usik Moto Z merupakan Google Play Music. Sama seperti smartphone pada umumnya, terdapat berbagai pengaturan seperti equalizer dan model suara yang akan dikeluarkan speaker Moto Z yang terletak di bagian depan. Bagaimana suara yang dihasilkan Moto Z?
Meski letak speaker yang anti-mainstream, suara yang dihasilkan Moto Z ketika mendengarkan musik cukup memuaskan entah itu volume yang diset itu rendah, menengah atau maksimal. Tak hanya itu, kami pun mencoba untuk menonton film yakni Captain America: Civil War.

Suara yang dihasilkan pun sama lantangnya seperti ketika mendengarkan musik. Nah pasti Anda bertanya-tanya kan bagaimana caranya jika ingin mendengarkan musik menggunakan earphone? Tenang, karena Lenovo memberikan konverter USB Type-C untuk jack 3.5 mm mirip seperti pada iPhone 7. Suara yang dihasilkan ketika menggunakan earphone pun cukup memuaskan ketika digunakan untuk mendengarkan musik atau menonton film.
Kamera

Moto Z dibekali kamera utama 13MP dengan aperture f/1.8 dan berbagai fitur lainnya seperti laser autofocus, OIS, HDR, serta dual LED flash. Oh ya, kamera utama tersebut selain mampu menghasilkan foto yang berkualitas, juga mampu merekam video maksimal 4K atau 2160p@30fps lho tentu bagi Anda seorang konten kreator untuk YouTube, sangat cocok untuk menggunakan kamera Moto Z untuk merekam video.
Sedangkan untuk kamera depannya, Moto Z hanya dibekali kamera beresolusi 5MP saja dengan aperture f/2.2, LED flash serta mampu merekam video maksimal 1080p. Kamera depan ini, secara mengejutkan mampu menghasilkan gambar yang cukup bagus bagi Anda yang terkadang suka melakukan swafoto.
Ketika kami menjajal kedua kamera dari Moto Z, foto yang dihasilkan cukup mengejutkan. Kenapa? Karena ketika kami mengambil momen atau objek yang menarik, foto yang dihasilkan begitu bagus untuk sekelas smartphone high–end. Cahaya dan warna yang ditampilkan tidak terlalu berlebihan alias natural. Sama halnya untuk kamera depan, foto yang dihasilkan pun lumayan bagus untuk sekelas smartphone tanpa emblem “selfie” karena untuk soal pencahayaan, penggunanya telah terbantu dengan adanya LED flash.
Berikut hasil foto serta video yang berhasil diambil menggunakan kamera Moto Z:
https://youtu.be/dI2BvntpRyk
Kinerja

Moto Z memiliki mesin utama yang kuat untuk bisa bersaing di jajaran smartphone high-end yang beredar di Indonesia. Ya, smartphone ini mengusung prosesor Quad-core (2×1.8 GHz Kryo & 2×1.6 GHz Kryo) dengan chipset Qualcomm Snapdragon 820. Prosesor tersebut didukung juga oleh adanya GPU Adreno 530, RAM 4GB, dua pilihan memori internal 32/64GB dan baterai berkapasitas 2,600mAh.
Penasaran, kamipun mencoba untuk menguji dapur pacu Moto Z menggunakan AnTuTu Benchmark. Skor yang dihasilkan lumayan tinggi yakni 137.130 poin yang sudha mengungguli perolehan poin dari iPhone 6S dan Samsung Galaxy S7 Edge, namun masih terpaut jauh jika dibandingkan dengan Xiaomi Mi Note 2, OnePlus 3 atau bahkan iPhone 7 Plus (menurut ranking AnTuTu).
Belum cukup, kami mencobanya lagi dengan menjalankan berbagai game berat seperti Hitman Sniper, Asphalt 8, FIFA Mobile, dan Hungry Shark. Sesuai prediksi, keempat game itu dilahap habis oleh Moto Z tanpa adanya gangguan. Tapi sayangnya, mungkin karena efek bahan body yang digunakan Moto Z yakni metal, ketika memainkan keempat game tersebut secara bergantian, body Moto Z terasa hangat di tangan meski kami sudah menggunakan cover tambahan.
Moto Mods

Kebetulan, mods yang datang ke kantor kami hanya ada dua yakni Hasselblad True Zoom dan Moto Insta-Share Projector. Nah kami pun langsung menggunakan keduanya secara bergantian. Pertama yang kami gunakan adalah Hasselblad True Zoom. Mods kamera seharga Rp 3,5 jutaan ini memiliki sensor kamera dengan resolusi 12MP yang mampu mengambil gambar dengan baik.

Tapi sayangnya, untuk urusan merekam video, mods Hasselblad hanya bisa merekam maksimal 1080p @30fps saja. Oh ya, kamera ini juga bisa mengambil foto atua video dengan maksimal zoom hingga 10x dan tebak, hasilnya sama sekali tidak terlihat pecah dan juga berkualitas meskipun zoom kami maksimalkan. Tapi dibalik itu terdapat kekurangan dalam hal fokus kamera. Ya, ketika mencoba mengambil gambar atau video dengan zoom yang maksimal, fokus kamera Hasselblad sangat telat. Namun ketika sudah pas fokusnya, hasil foto akan baik.
Satu lagi, mods ini juga sama sekali tidak memiliki baterai, sehingga bisa digunakan kapanpun tanpa harus diisi baterainya terlebih dahulu asalkan baterai Moto Z dalam keadaan cukup atau terisi penuh. Berikut hasil foto dan video yang berhasil diambil mods Hasselblad True Zoom:
https://youtu.be/7tBKboWMcZk
Selanjutnya giliran Moto Insta-Share Projector yang dilepas dengan harga Rp 4,5 jutaan. Berbeda dengan mods Hasselblad, Moto Insta-Share Projector memiliki baterai berkapasitas 1,100 mAh yang bisa bertahan hingga sejam lebih pemakaian seperti untuk menonton film, menayangkan presentasi atau lainnya.

Ketika mods ini dipasangkan, tampilan dari Moto Z akan dipantulkan oleh mods Insta-Share ke tembok atau projector screen. Nah bagi Anda yang suka nonton film bernuansa bioskop, bisa menggunakan mods Insta-Share karena jujur, gambar yang ditampilkan cukup jelas untuk proyektor sekecil ini asalkan ruangan yang dipakai benar-benar gelap agar warna yang ditampilkan maksimal. Kami sarankan agar lebih maksimal saat nonton film, gunakan speaker wireless agar suara lebih menggelegar.
Kesimpulan

Moto Z memang dibandrol dengan harga yang cukup mahal bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Namun menurut kami, harga tersebut cukup adil jika melihat spesifikasi serta fitur-fitur yang ditawarkan oleh smartphone ini seperti desain premium, elegan dan kokoh khas Motorola, layar AMOLED, prosesor Quad-core Snapdragon 820, kamera berkualitas, mendukung koneksi 4G LTE serta tentunya konsep modular yang diusungnya.
Tapi dibalik berbagai keunggulan tersebut, Moto Z juga menyimpan beberapa kekurangan khususnya akibat tipisnya body yang diusung Moto Z. Kekurangan pertama adalah tidak hadirnya jack 3.5 mm. Ya meskipu dalam paket pembelian sudah disertai konverter USB Type-C ke jack 3.5 mm, tapi itu terkesan ribet bagi beberapa pengguna apalagi bagi pengguna yang kurang hati-hati dalam menjaga barangnya. Kekurangan kedua adalah baterai yang berkapasitas kecil yakni 2,600 mAh yang pastinya kurang seimbang jika dibandingkan dengna kuatnya mesin utama dari Moto Z.
Namun secara keseluruhan, Moto Z berhasil membawa konsep modular dengan baik karena hadirnya keempat mods yang memiliki fitur-fitur berbeda. Tak hanya itu, Moto Z juga berhasil “mengangkat” pamor Motorola yang sejak dulu memang dikenal sebagai merek yang menghadirkan ponsel dengan desain premium, kokoh dan elegan yang pastinya berkualitas. (FHP/MS)






































