📑 Daftar Isi

Review HyperX Cloud III S Wireless: Headset Gaming Serius dengan Dual Koneksi

Review HyperX Cloud III S Wireless: Headset Gaming Serius dengan Dual Koneksi

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️6 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Bayangkan sebuah headset gaming yang bisa bertahan sepanjang pekan tanpa colokan, melayani peralihan mulus dari PC ke ponsel, dan tetap nyaman meski dipakai berjam-jam. Itulah janji yang dibawa HyperX Cloud III S Wireless ke meja Anda. Dengan harga rilis sekitar Rp2,5 jutaan, headset ini bukan sekadar upgrade biasa, melainkan sebuah pernyataan bahwa fleksibilitas dan daya tahan kini menjadi harga mati di pasar yang semakin padat. Apakah semua klaim ini terbukti di lapangan, atau hanya gimmick belaka? Mari kita selidiki.

HyperX, nama yang sudah tak asing di telinga para gamer, kembali menggebrak dengan evolusi dari seri Cloud III Wireless yang populer. Cloud III S Wireless hadir bukan untuk menggantikan, melainkan menyempurnakan. Ia membawa satu perubahan besar yang mungkin Anda tunggu-tunggu: dukungan koneksi ganda. Ya, kini selain koneksi 2.4GHz wireless yang andal untuk gaming, ada Bluetooth 5.3 yang siap menyambungkan Anda ke dunia lain di luar PC atau konsol. Ini adalah langkah strategis di era di mana seorang gamer juga sekaligus adalah seorang pekerja yang rapat online dan pecinta musik yang mendengarkan playlist favoritnya. Lantas, apakah penambahan fitur ini dibarengi dengan kompromi di bidang lain? Atau justru HyperX berhasil menciptakan paket komplit yang sulit ditolak?

Membongkar kotaknya, kesan pertama yang muncul adalah solid. Headset ini mempertahankan DNA desain HyperX dengan palet hitam dan merah yang ikonik, namun terasa lebih matang. Bobot 341 gram terdistribusi dengan sangat baik, berkat headband yang dilapisi busa memori tebal dan kulit sintetis yang lembut. Desain over-ear-nya menyelimuti telinga dengan sempurna, menawarkan isolasi pasif yang cukup tanpa membuat kuping Anda berkeringat. Rangka aluminium dan yoke baja tahan karat menjanjikan ketahanan jangka panjang, meski ada satu trade-off: headset ini tidak bisa dilipat datar, sehingga agak merepotkan untuk dibawa dalam tas yang penuh. Namun, HyperX menyelipkan kejutan kecil berupa penutup magnetik di earcup yang bisa dilepas, membuka kemungkinan untuk personalisasi di masa depan.

Tombol-tombolnya ditempatkan dengan cerdas. Di earcup kiri, Anda akan menemukan roda volume yang memberikan umpan balik taktil yang memuaskan. Di sebelahnya, tombol mute untuk mikrofon dengan indikator LED yang jelas. Yang paling menarik adalah sakelar geser di earcup kanan untuk beralih antara mode 2.4GHz dan Bluetooth. Transisinya cepat, hampir instan, memberikan fleksibilitas yang selama ini mungkin Anda idamkan. Misalnya, Anda bisa dengan mudah beralih dari sesi Valorant yang menegangkan di PC ke panggilan telepon penting di smartphone tanpa melepas headset. Sayangnya, sistem ini belum mendukung audio simultan, jadi Anda tidak bisa mendengar suara dari PC dan ponsel secara bersamaan.

Content image for article: Review HyperX Cloud III S Wireless: Headset Gaming Serius dengan Dual Koneksi

Suara yang Membawa Anda ke Dalam Game

Bagian inilah yang menentukan nyawa sebuah headset gaming. HyperX Cloud III S Wireless dilengkapi dengan driver dinamis 53mm yang dipasang miring (angled), dengan klaim rentang frekuensi 10 Hz–21.000 Hz. Dalam pengujian nyata, klaim itu terbukti. Saat diterjunkan ke medan tempur Call of Duty: Warzone, headset ini menunjukkan keunggulannya. Setiap langkah kaki musuh, desingan peluru yang melintas, dan gemuruh ledakan terdengar dengan presisi yang mengagumkan. Arah suara (directional audio) sangat akurat, memberikan Anda keunggulan taktis yang nyata. Bass-nya terdalam, memberikan “dampak” yang memuaskan saat granat meledak, namun tidak sampai menggelegar dan mengubur detail suara lainnya. Treble cukup tajam untuk membuat efek gesekan atau suara lingkungan terdengar jelas, tanpa menusuk telinga.

Mid-range, atau suara di rentang tengah, sengaja sedikit diredam. Bagi sebagian audiophile, ini mungkin terdengar seperti kekurangan. Namun, dalam konteks gaming, justru ini menjadi kelebihan. Suara langkah kaki dan komunikasi dari rekan tim menjadi lebih terpisah dan jelas, tidak tenggelam dalam riuh rendah efek suara dan musik latar. Fitur DTS Headphone:X, yang diaktifkan melalui software HyperX NGENUITY, menambah lapisan realisme spasial, membuat Anda benar-benar merasa berada di dalam arena pertempuran. Untuk game RPG seperti Cyberpunk 2077, atmosfer Night City terasa lebih hidup dan imersif.

Lalu, bagaimana untuk mendengarkan musik? Di sini, sifat “gaming-oriented”-nya sedikit terasa. Headset ini unggul dalam memisahkan detail dan arah, tetapi kurang dalam menghadirkan kehangatan dan kedalaman harmoni musik klasik atau jazz yang kompleks. Vokal mungkin terdengar sedikit mundur dibandingkan dengan instrumen lainnya. Jadi, jika Anda mencari headset all-rounder untuk gaming maraton dan sesi mendalam menikmati album Dark Side of The Moon, mungkin ada pilihan lain yang lebih seimbang, seperti beberapa model dalam daftar headset gaming murah yang menawarkan profil suara berbeda. Namun, untuk fokus utama yaitu gaming, performa audio Cloud III S Wireless benar-benar sulit dicela.

Dua Mikrofon, Satu Tujuan: Suara Jernih

HyperX tampaknya memahami bahwa komunikasi adalah kunci kemenangan. Cloud III S Wireless datang dengan dua mikrofon, sebuah langkah yang cukup unik. Yang pertama adalah boom mic eksternal yang bisa dilepas (detachable) dengan filter internal. Mikrofon unidirectional ini sangat baik dalam menangkap suara Anda sambil menekan noise di sekelilingnya. Hasilnya, suara Anda terdengar natural dan bersih di Discord atau Zoom, tanpa kesan seperti berbicara di dalam kaleng. Ujungnya dilengkapi LED yang berubah merah saat dimute, fitur sederhana yang sangat berguna.

Yang kedua adalah mikrofon internal built-in. Jangan remehkan kehadirannya. Meski bersifat omni-directional (menangkap suara dari segala arah), kualitasnya cukup solid untuk panggilan telepon cepat atau rapat dadakan ketika boom mic tidak terpasang. Ini adalah fitur penyelamat saat Anda sedang terburu-buru. Namun, pengaturan mikrofon melalui aplikasi NGENUITY terasa agak terbatas. Anda bisa mengatur gain dan sidetone (mendengar suara sendiri), tetapi tidak ada equalizer khusus untuk mikrofon seperti yang ditawarkan kompetitor seperti Logitech atau SteelSeries. Untuk sebagian besar gamer dan pekerja, ini bukan masalah besar. Tapi bagi streamer profesional yang membutuhkan kendali penuh atas kualitas vokal, ini mungkin menjadi pertimbangan.

Baterai yang Seolah Tak Pernah Habis

Ini mungkin aspek paling memukau dari headset ini. HyperX mengklaim daya tahan hingga 120 jam dengan koneksi 2.4GHz dan 200 jam dengan Bluetooth. Dalam pengujian kami yang intensif, klaim tersebut tidak jauh dari realita. Dengan sesi gaming 6-8 jam per hari, headset ini bisa bertahan hampir seminggu penuh sebelum akhirnya membutuhkan pengisian daya. Bayangkan, Anda bisa menghabiskan akhir pekan gaming marathon tanpa sekali pun memikirkan kabel charger. Ini adalah lompatan signifikan yang benar-benar mengubah pengalaman menggunakan perangkat nirkabel.

Sayangnya, kehebatan di atas dibayar dengan waktu pengisian yang cukup lama, yaitu sekitar 5 jam untuk penuh dari kosong. Headset ini belum mendukung fast charging. Ada juga catatan penting: jika baterai benar-benar habis total (0%), headset terkadang “mogok” dan butuh diisi beberapa menit dulu sebelum bisa dinyalakan kembali. Jadi, saran kami, jangan biarkan daya betul-betul habis. Namun, dengan daya tahan sepanjang ini, kejadian itu seharusnya sangat jarang terjadi.

Konektivitas ganda adalah bintang utama di sini. Dongle USB-C (dengan adaptor USB-A) memberikan koneksi 2.4GHz yang stabil dan rendah latensi untuk PC, PS5, PS4, dan Nintendo Switch. Sementara Bluetooth 5.3 memastikan koneksi yang cepat dan hemat daya ke ponsel atau laptop. Fitur HP OMEN Instant Pair juga hadir untuk pemilik laptop HP OMEN tertentu, menyederhanakan proses pairing. Namun, ada dua kekurangan yang mencolok: tidak adanya port audio 3.5mm untuk koneksi kabel dan ketidakcocokan dengan konsol Xbox. Bagi gamer yang bermain di berbagai platform, termasuk Xbox, ini adalah batasan serius. Selain itu, dalam gelombang inovasi perangkat bertenaga AI, ketiadaan fitur cerdas seperti noise cancellation adaptif atau equalizer berbasis AI terasa seperti kesempatan yang terlewat.

Jadi, apakah HyperX Cloud III S Wireless layak berada di atas kepala Anda? Jawabannya sangat tergantung pada profil Anda. Jika Anda adalah gamer serius yang mengutamakan daya tahan baterai fenomenal, kenyamanan marathon, dan fleksibilitas untuk berpindah antar perangkat, headset ini adalah penantang kuat. Ia menawarkan paket yang sangat solid dan hampir sempurna untuk kebutuhan gaming. Namun, jika Anda menginginkan kompatibilitas universal (termasuk Xbox), atau menginginkan headset yang juga unggul mutlak untuk produksi musik atau mendengarkan audio dengan kriteria tinggi, mungkin Anda perlu melihat alternatif lain. Dengan harga Rp2,5 jutaan, HyperX Cloud III S Wireless bukanlah pembelian impulsif. Ia adalah investasi untuk pengalaman gaming nirkabel yang bebas repot dan tahan lama, membuktikan bahwa terkadang, evolusi yang fokus pada hal-hal mendasar justru yang paling berdampak.

Content image for article: Review HyperX Cloud III S Wireless: Headset Gaming Serius dengan Dual Koneksi