Telset.id – Studio Ghibli dikenal dengan penceritaan emosional dan animasi gambar tangan yang memukau. Namun, kutipan terbaik sepanjang sejarah studio animasi legendaris ini ternyata tidak berasal dari karya Hayao Miyazaki, melainkan dari film arahan Isao Takahata yang berjudul Only Yesterday. Fakta menarik ini terungkap 35 tahun setelah film tersebut dirilis, dan kisah di balik kalimat tersebut justru membuatnya semakin mengharukan.
Film Only Yesterday yang tayang perdana pada 20 Juli 1991 ini meraih skor sempurna 100 persen di Rotten Tomatoes. Film berdurasi 119 menit ini mengisahkan Taeko, seorang perempuan berusia 27 tahun yang bepergian ke pedesaan untuk membantu panen bunga safflower. Selama di sana, ia merenungkan dirinya saat masih duduk di kelas lima sekolah dasar dan semua pengalaman yang membentuk dirinya menjadi pribadi yang sekarang, sambil semakin dekat dengan Toshio, seorang petani muda yang membantunya selama liburan di pedesaan.
Sepanjang film, penonton menyaksikan bagaimana Taeko mengalami jarak emosional yang signifikan antara masa lalu dan masa kininya. Puncaknya terjadi ketika Taeko akhirnya membuka diri dan menyampaikan monolog yang menjadi salah satu momen paling berkesan dalam film ini. Dalam monolog tersebut, ia mengungkapkan perasaan terdalamnya dengan kalimat yang menyentuh hati.
“Apakah aku baru saja membuka kepala bingung dan hati rumitku kepada pria ini? Ya, aku melakukannya. Namun, itu semudah bernapas. Aku kagum bagaimana aku bisa bersandar padanya seperti itu. Aku merasa seolah-olah… Seolah-olah aku selalu mengenalnya. Seolah-olah dia adalah bagian dari masa laluku sendiri. Dan orang yang paling aku inginkan untuk berjabat tangan adalah… Toshio.”
Kalimat Eksklusif dalam Versi Bahasa Inggris
Yang menarik, salah satu baris dalam monolog tersebut ternyata tidak ada dalam versi asli Jepang. Kalimat “And yet, it was as easy as breathing in and breathing out” atau “Namun, itu semudah bernapas” merupakan kalimat yang secara khusus ditambahkan dalam sulih suara bahasa Inggris. Kalimat ini bukan terjemahan langsung dari film Jepang aslinya dan kabarnya “diselundupkan” oleh tim produksi versi bahasa Inggris.
Kisah di balik penambahan kalimat ini ternyata sangat personal. David Freedman, penulis skenario yang bertanggung jawab atas adaptasi bahasa Inggris, menambahkan detail kecil ini berdasarkan pengalaman pribadinya bersama istrinya. Dalam sebuah wawancara di akhir pemutaran Only Yesterday dalam acara Ghibli Fest 2026, yang juga dapat ditemukan dalam rilisan Blu-ray, Freedman menjelaskan bahwa ia menyelundupkan beberapa baris ke dalam naskah.
“Saya suka fakta bahwa mereka begitu nyaman satu sama lain… Dan ada satu kalimat yang saya selundupkan dari masa saya berpacaran dengan istri saya… Saya berkata, ‘Hanya menghabiskan waktu bersamanya itu seperti bernapas,'” ungkap Freedman dalam wawancara tersebut.
Sebelum koneksi personal ini terungkap, monolog Taeko sudah terasa tulus dan mudah dipahami. Namun dengan konteks di balik kalimat tersebut, maknanya menjadi jauh lebih dalam. Dengan mengambil dari pengalaman pribadinya, Freedman secara efektif menuangkan perasaan nyata dari hubungannya sendiri ke dalam kisah Taeko dan Toshio, memberikan rasa keintiman dan kedalaman yang lebih kuat pada koneksi kedua karakter tersebut.
Baca Juga:
Mengetahui bahwa salah satu kalimat terkuat Taeko berasal dari pengalaman hidup nyata membuat akhir film semakin memuaskan. Lebih dari itu, pilihan kata yang digunakan Freedman, bahwa koneksi mereka semudah bernapas, tidak hanya cocok dengan cerita dan karakter, tetapi juga membangkitkan rasa lega dan kepemilikan dengan cara yang jauh lebih dalam daripada sekadar gairah.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana proses kreatif dalam penerjemahan dan adaptasi film dapat menghasilkan karya yang justru memperkaya pengalaman menonton. Tim produksi versi bahasa Inggris tidak hanya menerjemahkan, tetapi juga berhasil menghadirkan nuansa emosional yang selaras dengan semangat film aslinya.
Warisan yang Terus Hidup
Bahkan 35 tahun setelah perilisan perdananya, Only Yesterday terus beresonansi dengan penonton di seluruh dunia. Monolog terakhir Taeko memiliki makna luar biasa yang diperluas oleh tim versi bahasa Inggris. Perjalanan dan pertumbuhan karakter Taeko sepanjang film terasa autentik dan mengharukan dari awal hingga akhir, dan monolog penutupnya semakin mengukuhkan film ini sebagai salah satu karya terbaik Ghibli.
Bagi penggemar animasi Jepang, film ini juga menjadi pengingat bahwa studio legendaris ini memiliki banyak karya yang layak diapresiasi selain film-film besutan Miyazaki. Berbagai karya Ghibli kini juga semakin mudah diakses oleh penonton Indonesia melalui berbagai platform resmi, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan pentingnya menonton konten legal.
Kisah di balik kalimat “semudah bernapas” ini menjadi bukti bahwa detail-detail kecil dalam sebuah film sering kali membawa makna terbesar. Sebuah kalimat yang lahir dari pengalaman cinta nyata seorang penulis skenario berhasil menjadi salah satu kutipan paling romantis dalam sejarah Studio Ghibli, melampaui batas bahasa dan budaya untuk menyentuh hati penonton di seluruh dunia.





Komentar
Belum ada komentar.