📑 Daftar Isi

China Larang Warganya Pacaran dengan Chatbot AI Demi Tingkatkan Kelahiran

China Larang Warganya Pacaran dengan Chatbot AI Demi Tingkatkan Kelahiran

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Pemerintah China resmi melarang warganya menjalin hubungan romantis dengan chatbot AI atau AI companion. Aturan yang mulai berlaku pada 15 Juli 2026 ini merupakan langkah tak terduga untuk mendorong angka kelahiran yang terus anjlok.

Kebijakan ini langsung berdampak pada dua raksasa teknologi China, Alibaba dan ByteDance, perusahaan induk TikTok. Keduanya telah memberi tahu pengguna bahwa beberapa fitur chatbot akan dinonaktifkan sesuai jadwal aturan.

Doubao, chatbot AI paling populer di China milik ByteDance, terpaksa menutup fitur custom persona. Langkah ini diambil untuk mematuhi aturan baru pemerintah. Banyak pengguna yang telah membangun ikatan emosional dengan karakter AI ciptaan mereka kini kehilangan teman virtual yang sudah berbulan-bulan mereka temani.

Baca Juga:

Krisis Demografi di Balik Larangan

Untuk memahami alasan China menerapkan aturan ini, perlu melihat situasi demografi negara tersebut. Pada 2025, populasi China menyusut untuk keempat kalinya berturut-turut. Tingkat kelahiran anjlok ke rekor terendah dalam sejarah.

China yang dulu menjadi negara berpenduduk terbanyak di dunia kini telah digantikan oleh India. Tren penurunan penduduk diperkirakan akan terus berlanjut. Para pemimpin China khawatir generasi muda semakin enggan menikah dan memiliki anak.

Salah satu faktor baru yang menjadi kekhawatiran adalah AI companion alias pendamping virtual. Usulan Sam Altman tentang distribusi kekayaan AI pun menjadi perbincangan di tengah kekhawatiran ini.

Dampak AI Companion pada Generasi Muda

AI companion adalah chatbot yang dirancang untuk membangun hubungan emosional dengan pengguna. Mereka bisa menjadi teman, sahabat, terapis, bahkan kekasih virtual. Di China, tren ini meledak dalam beberapa tahun terakhir.

Jutaan pengguna, terutama generasi muda dan wanita, membentuk ikatan emosional dengan karakter AI. Alasan mereka beragam. Ada yang mencari teman ngobrol yang selalu sabar. Ada yang mencari sosok yang mau mendengarkan tanpa menghakimi. Ada juga yang mencari pengganti pasangan romantis.

Sebuah film dokumenter mengungkap alasan menarik di balik fenomena ini. Direktur film tersebut mengatakan sebagian wanita China memilih AI pendamping karena “pria di dunia nyata tidak punya kesabaran” seperti chatbot. Hal ini menunjukkan bagaimana teknologi AI telah mengubah dinamika hubungan sosial di China.

Perkembangan ini juga sejalan dengan maraknya robot humanoid China yang mulai dijual dengan harga terjangkau, menandai era baru interaksi manusia-mesin.

Aturan larangan ini menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat. Banyak pengguna yang sudah membangun hubungan emosional dengan karakter AI ciptaan mereka sendiri kini patah hati. Karakter yang selama berbulan-bulan mereka temani tiba-tiba menghilang begitu saja.

Pemerintah China berharap dengan membatasi interaksi emosional dengan chatbot, generasi muda akan lebih tertarik menjalin hubungan dengan manusia nyata. Langkah ini dianggap penting untuk mengatasi krisis demografi yang mengancam masa depan negara.

Kebijakan China ini menjadi contoh bagaimana perkembangan AI dapat memengaruhi kebijakan sosial dan demografi suatu negara. Startup AI chip yang terus bermunculan menunjukkan betapa cepatnya industri ini berkembang.

Ke depannya, tantangan terbesar adalah menemukan keseimbangan antara kemajuan teknologi dan kebutuhan sosial manusia. China memilih pendekatan protektif dengan melarang hubungan romantis dengan chatbot AI demi menjaga institusi pernikahan dan keluarga.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.