Zoom Akui Salah, Panggilan Video Call Dialihkan ke China

Zoom Google

Telset.id, Jakarta – Isu tak sedap masih terus menerpa Zoom. Kali ini, aplikasi video conference itu dihantam isu yang menyebutkan bahwa mereka mengirimkan panggilan video call Zoom pengguna ke China.

Seiring kesuksesan aplikasi Zoom yang banyak dipakai pengguna di seluruh dunia saat work from home (WFH), perusahaan besutan Eric Yuan ini banyak mendapat tudingan miring.

{Baca juga: Sering Video Conference Selama WFH? Simak Tips Aman Ini}

Sebelumnya beredar isu zoom bombing, kemudian tudingan mengirimkan data pengguna ke Facebook, dan diam-diam mengambil data LinkedIn. Kini Zoom juga harus menghadapi tuduhan panggilan video call Zoom dialihkan ke server di China.

Temuan terbaru ini diungkap oleh para peneliti keamanan di Citizen Lab, yang menyebutkan bahwa sejumlah panggilan video call Zoom yang dilakukan di Amerika Utara dialihkan melalui China, sama seperti kunci enkripsi yang digunakan untuk mengamankan panggilan.

Meski sebelumnya pihak Zoom telah mengklaim bahwa percakapan di platform mereka aman, namun Citizen Lab menyebutkan percakapan Zoom sama sekali tidak terenkripsi. Artinya, Zoom mengontrol kunci enkripsi, yang artinya mereka dapat mengakses konten panggilan pelanggannya.

Zoom sebelumnya lewat postingan di blognya mengatakan bahwa mereka telah menerapkan kontrol internal yang kuat dan tervalidasi untuk mencegah akses tidak sah ke konten apa pun yang dibagikan pengguna selama rapat.

{Baca juga: Perjuangan Eric Yuan Bangun Zoom Hingga Jadi Miliuner}

Namun masalahnya, hal itu tidak bisa diterapkan jika menaruh server di China, karena pihak otoritas China akan menuntut Zoom menyerahkan kunci enkripsi pada servernya yang ada di China, untuk memfasilitasi dekripsi konten panggilan terenkripsi.

CEO Zoom Eric Yuan telah mengakui bahwa untuk meningkatkan kapasitas server mereka untuk mengakomodasi tingginya trafik selama masa pandemi Corona, mereka telah secara tidak sengaja memungkinkan dua pusat datanya di China menerima panggilan sebagai backup jika jaringannya terjadi kemacetan. Demikian seperti dikutip dari Tech Crunch,

Yuan mengungkapkan, selama operasional normal, klien Zoom berusaha untuk terhubung ke serangkaian pusat data utama di atau dekat wilayah pengguna.

Namun apabila upaya koneksi gagal karena kemacetan jaringan atau ada masalah lain, pengguna akan menjangkau dua pusat data sekunder dari daftar beberapa pusat data sekunder sebagai jembatan koneksi cadangan potensial ke platform Zoom.

“Pada semua kasus, klien Zoom akan diberikan daftar pusat data yang sesuai dengan wilayah mereka. Sistem ini penting untuk menjaga kualitas layanan Zoom, khususnya selama kondisi sekarang yang terjadi peningkatan traffic internet yang sangat masif,” jelas Yuan.

Seperti diketahui, China merupakan negara yang memang memiliki kebijakan sendiri terkait masalah privasi pengguna. Undang-undang di Negeri Tirai Bambu itu mewajibkan perusahaan yang beroperasi di negaranya (terutama perusahaan-perusahaan barat) harus menyimpan data warga di dalam wilayah perbatasannya.

Zoom sendiri pada Februari lalu sudah mengatakan telah menambah kapasitas ke wilayah China untuk menangani permintaan, yang juga dimasukkan dalam daftar putih internasional pusat data cadangan.

Dengan begitu, artinya pengguna non-China dalam beberapa kasus akan terhubung ke server China ketika pusat data di wilayah lain kelebihan kapasitas karena meningkatnya trafik internet.

Namun saat ini Zoom mengklaim bahwa daftar putih tersebut sudah dikoreksi. Zoom juga mengatakan bahwa pengguna yang terkait dengan rencana pemerintah tidak akan terpengaruh oleh pengalihan rute yang tidak disengaja.

{Baca juga: Ribuan Video Rapat Online Pengguna Zoom Bocor di Internet}

Melihat berbagai masalah yang kini menerpa perusahaannya, Eric Yuan menyatakan tidak akan ada penambahan fitur baru di Zoom selama 90 hari ke depan. Hal ini dilakukan karena mereka berjanji akan memperbaiki masalah-masalah di platform mereka, khusunya soal masalah privasi dan keamanan pengguna. [HBS]

 

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here