Eric Yuan Zoom

Perjuangan Eric Yuan Bangun Zoom Hingga Jadi Miliuner

Penulis:Sigit Nugraha
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø6 menit membaca
Bagikan:

Telset.id, Jakarta  – Krisis virus corona telah menghilangkan duit jutaan dollar para miliarder di dunia. Namun, tidak demikian dengan Eric Yuan. Berkat aplikasi Zoom yang dibuatnya, ia meraup USD 4 miliar atau sekira Rp 66,68 triliun hanya dalam tiga bulan.

Eric Yuan adalah pendiri Zoom, aplikasi konferensi video. Menurut laporan Business Insider, jauh sebelum terjadi krisis virus corona, harga saham Zoom pun sudah tumbuh secara eksponensial.

Sekarang, harta Eric Yuan telah menyentuh angka USD 7,5 miliar atau lebih kurang Rp 125 triliun. Yuan memang menolak mengomentari kekayaan bersih, karier, atau kehidupan pribadinya ketika diwawancarai oleh Business Insider.

Maklum, seperti dikutip Telset.id, Jumat (3/4/2020), ia sibuk bekerja 18 jam sehari di Zoom. Kendati begitu, ia bersedia berbagi sedikit pengalamannya.

Yuan lahir di provinsi Shandong , China. Dilansir The Financial Times dan Forbes, orangtua Yuan adalah insinyur pertambangan. Dia memiliki gelar sarjana matematika terapan dan master dalam bidang teknik. Ia menghabiskan empat tahun bekerja di Jepang setelah lulus dari bangku kuliah.

Yuan kemudian memutuskan untuk pindah ke Silicon Valley, California, Amerika Serikat. Ia bekerja diĀ startup atau perusahaan internet setelah mendengarkan pidato Bill Gates tentang gelombang dot-com.

Namun niatnya untuk mengadu nasib di Negeri Paman Sam tidak semudah perkiraan. permohonan Visa yang diajukannya selalu ditolak kantor imigrasi Amerika Serikat. Tak cuma sekali, 8 kali permohonan Visa yang diajukannya mendapat penolakan.

{Baca juga: Berkat WFH, Aplikasi Zoom Kini Punya Ratusan Juta Pengguna}

Pada saat itu, Yuan berusia 27. Lantaran masih muda, sikap emosional masih tinggi, sehingga ia sempat naik pitam, berselisih dengan pejabat imigrasi yang berkali-kali menolak permohonan visanya.

Mimpinya untuk dapat bekerja di AS akhirnya baru terwujud di tahun 1997, setelah Visa izin tinggal yang diajukannya diterima pihak imigrasi, dan ia diizinkan masuk ke Negara Adikuasa itu.

Yuan baru bisa berbahasa Inggris sekecap-dua kecap saat kali pertama menginjakkan kaki di AS. Ia pun memilih untuk tidak banyak berbicara. Yuan bekerja untuk perusahaan konferensi video bernama WebEx yang diakuisisi kemudian oleh Cisco pada 2007.

Hampir semua waktunya dihabiskan untuk fokus bekerja. ā€œSetiap hari, saya sangat sibuk menulis kode,ā€ kata Yuan, seperti dilaporkan CNBC. Bermain pick-up soccer adalah satu-satunya hobi Yuan kala itu.

Kerja kerasnya akhirnya membuahkan hasil, karirnya cepat melesat. Dia berhasil menduduki jabatan sebagai wakil presiden di perusahaan telekomunikasi Cisco Systems.

Pacaran LDR

Saat masih tinggal di China, Yuan dan pacarnya kuliah di dua perguruan tinggi berbeda. Hari-hari mereka selalu dinaungi rasa rindu. Tapi, cinta mereka dipisahkan oleh perjalanan kereta selama 10 jam. Yuan dan sang pacar hanya bisa bertemu dua tahun sekali untuk sekadar melepas rindu.

ā€œSaya masih muda saat itu. Usianya antara 18 tahun atau 19 tahun. Ketika menjalani pacaran jarak jauh, saya berpikir sepertinya bakal fantastis jika pada masa depan ada perangkat yang bisa mempertemukan orang-orang dari lokasi berbeda cukup dengan mengklik tombol,ā€ terangnya.

Pengalaman tersebut memberi Yuan gagasan untuk memasukkan video ke dalam sistem konferensi berbasis telepon seperti Cisco. Dilansir Bloomberg, Yuan juga ingin membuat sistem konferensi yang lebih ramah pengguna dan menyenangkan untuk digunakan. Dia mencoba menggali ide-ide.

Yuan mencoba menyematkan sistem konferensi video baru dan ramah smartphone dan ia menawarkan idenya itu ke Cisco pada 2011. Sayangnya, bosnya merasa tidak cocok dengan Yuan, dan akhirnya usulannya ditolak.

{Baca juga: Waspada! Hacker Bisa ā€œKepoinā€ Aktivitas Pengguna Aplikasi Zoom}

Saat itu ia cukup kecewa karena idenya ditolak, padahal ia sangat yakin idenya bagus untuk dikembangkan. Daripada menjalani aktivitas pekerjaan yang tidak kondusif, setelah melakukan pertimbangan, Yuan akhirnya memutuskan angkat kaki dari Cisco.

ā€œCisco lebih fokus kepada jejaring sosial, mencoba membuat perusahaan seperti Facebook,ā€ kata Yuan kepada Forbes. ā€œNamun, Cisco membuat kesalahan. Tiga tahun setelah saya pergi, Cisco menyadari kesalahan tersebut. Mereka sadar bahwa apa yang saya katakan adalah benar,ā€ katanya mengisahkan.

Ā  Halaman selanjutnya >Ā Ā 

Utang Sana-sini

Setelah cabut dari Cisco, Yuan mencoba membuat aplikasi bernama Zoom. Tapi, ia kesulitan untuk meyakinkan investor mana pun guna mendukung pendanaan usaha barunya. Terpaksa, ia meminjam uang sana-sini, terutama dari teman dan keluarga untuk bisa meluncurkan Zoom.

ā€œPara investor berpikir pasar aplikasi konferensi video sudah sangat ramai. Kata mereka, permainan di pasar aplikasi tersebut telah berakhir. Namun, saya tidak patah semangat. Justru, saya mencoba selalu menyemangati diri sendiri. Satu di antaranya kerap memasang screensaver penyemangat.

Istri Yuan sendiri awalnya mempertanyakan keputusannya untuk meninggalkan Cisco, padahal posisinya sudah sangat mapan di perusahaan raksasa teknologi itu.

ā€œSaya mengatakan kepada istri, saya tahu ini perjalanan yang panjang dan sangat sulit. Tapi, jika tidak mencobanya, saya akan menyesali di kemudian hari,ā€ tutur Yuan kepada Forbes.

Insting bisnis Yuan ternyata terbuktik benar. Aplikasi Zoom yang ia ciptakan akhirnya mendapat respon luar biasa dan booming. Yuan membuat inovasi baru pada aplikasi video conference sehingga berbeda dengan aplikasi serupa yang sudah ada sebelumnya.

Sekadar informasi, Zoom ciptaan Yuan yang kini sangat kondang dikenal dengan latar belakang virtual. Melakukan konferensi video pakai Zoom, para pengguna memungkinkan untuk membuatnya tampak seolah-olah berada di suatu pantai atau di depan Jembatan Golden Gate, AS.

Kini Yuan akhirnya bisa memetik buah hasil kerja kerasnya. Penggunaan Zoom telah tumbuh 1.900 persen sejak Desember 2019. Sebab, sekolah, universitas, dan perusahaan telah menggeser aktivitas secara online.

Semua tak lepas dari kebijakan pemerintah yang meminta kepada seluruh warga untuk melakukan jarak sosial di tengah wabah virus corona.

Nilai saham Zoom melesat lebih dari dua kali lipat dalam tiga bulan terakhir. Otomatis, kekayaan bersih Yuan ikut terkerek naik. Menurut Bloomberg Billionaires Index, mayoritas kekayaan Yuan senilai USD 7,5 miliar atau sekitar Rp 125 triliun berasal dari 19 persen saham yang ditanamkan di Zoom.

Yuan kini berada di peringkat 192 dalam daftar 500 orang terkaya di dunia versi Bloomberg. Sebelum 2020, ia bahkan tidak ada dalam daftar orang paling tajir sejagat yang dikeluarkan Bloomberg tersebut.

Rentan Peretasan dan Jual Data Pengguna

Eric Yuan nampaknya masih belum bisa berpuas diri dengan kesuksesannya. Ibarat pepatah, ā€˜semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpanya’. Kesuksesan Zoom ternyata juga dibarengi dengan beberapa masalah dan tudingan negatif.

Mungkin karena kepopuleran Zoom yang kian meningkat dan bertambahnya jumlah pengguna yang memakai aplikasi tersebut, membuat peretas mulai bergerilya menyerang aplikasi buatannya.

HackerĀ dikabarkan memanfaatkan situasiĀ work from home untuk meraup keuntungan. Dilaporkan,Ā hackerĀ mengganggu pengguna aplikasi video conferenceĀ ZoomĀ dengan mengunggah gambar porno, ujaran kebencian, dan bahasa bernada mengancam.

Divisi Agensi FBI Boston menyebutkan telah menerima banyak laporan tentang konferensi video yang diganggu oleh gambar-gambar porno, ujaran kebencian, serta bahasa bernada mengancam, seperti dilansir New York Post.

Setidaknya ada dua contoh yang disebut ā€œZoom-bombingā€ di Massachusetts, termasuk seseorang yang meretas rapat sekolah dan mempertontonkan tato swastika.

{Baca juga:Ā Zoom Bantah Jual Data Pribadi Pengguna ke Facebook}

Dalam insiden lain, seorangĀ hackerĀ masuk ke kelasĀ onlineĀ menggunakan aplikasi telekonferensi.Ā HackerĀ itu meneriakkan kata-kata kotor dan berteriak-teriak tentang alamat rumah guru.

Di Upstate New York, pertemuan Dewan Kota Esopus pada Senin (31/01) waktu setempat terganggu oleh sekelompokĀ hackerĀ yang menggunakan kata-kata rasis dan menampilkanĀ screenshotĀ situs grup kebencian.

Selain masalah peretasan, Zoom dituding menjual data pribadi pengguna ke Facebook, dan juga secara diam-diam mengambil data pengguna LinkedInĀ lewat fitur khusus.

Zoom rupanya memiliki fiturĀ data mining atau fitur yang mampu menambang data secara otomatis. Aplikasi tersebut mencocokan nama dan alamat email seseorang untuk keperluanĀ loginĀ dengan profil LinkedIn mereka.

Diterpa isu tak sedap soal privasi data, pihak Zoom akhirnya buka suara. Mereka secara tegas membantah dan meyakinkan pengguna kalau mereka tidak jual data ke Facebook.

{Baca juga: Upss! Zoom Ketahuan Ambil Data LinkedIn Milik Pengguna}

Chief Legal Officer Zoom, Aparna Bawa meyakinkan bahwa mereka sama sekali tidak jual data pengguna dalam bentuk apapun kepada Facebook. Menurutnya, Zoom memang melakukan perubahan kebijakan privasi namun hanya berlaku untuk bahasa yang mereka gunakan.

Terlepas dari benar tidaknya masalah tersebut, Eric Yuan patut diberi acungan jempol atas kerja kerasnya membangun Zoom. Berkat aplikasi video conference yang dia ciptakan, Yuan berhasil meraup Rp 66,68 triliun, dan menjadikannya sebagai miliuner baru. [SN/HBS]