Telset.id â Pemerintah Amerika Serikat resmi mengeluarkan revisi National Security Science & Technology Strategy (NSSTS), dokumen tahunan yang memastikan strategi keamanan nasional didukung berbagai dimensi. Revisi ini mengejutkan banyak pihak karena secara eksplisit mengurangi fokus pada high-performance data storage dan data center, yang sebelumnya masuk daftar âCritical and Emerging Technologies.â
Perubahan ini berdampak signifikan pada industri teknologi. Sebelumnya, data center dan penyimpanan data berperforma tinggi sangat dihormati dan tercantum dalam dokumen daftar teknologi kritis. Dengan revisi terbaru, teknologi lain tampaknya menggantikan posisi data center dalam prioritas strategis pemerintah AS.

Secara tradisional, National Security Strategy (NSS) yang diterbitkan setiap tahun mencakup elemen sains dan teknologi. Namun, di bawah pemerintahan Trump, NSSTS dirilis sebagai pendamping laporan NSS. Dokumen NSSTS memberikan informasi untuk mendukung âkeamanan ekonomi nasional, sains, riset, dan inovasi untuk mendukung strategi keamanan nasional.â
Dokumen ini berfokus pada âkompetisi S&T yang berkaitan dengan kemampuan militer, pertahanan dalam negeri dan ketahanan, serta persimpangan langsung lainnya dengan keamanan nasional.â NSSTS membantu pengambilan keputusan seputar pendanaan federal, menginformasikan kemitraan di sektor swasta, dan proyek bersama dengan sekutu.
Yang terpenting, dokumen ini juga mendasari kebijakan AS tentang ekspor teknologi kritis. Meskipun pentingnya data center dan high-performance data storage tampaknya diturunkan, NSSTS tampaknya hanya melakukan refocusing atau pemfokusan ulang prioritas.
Fokus pada Teknologi Emerging
Daftar manajemen informasi dan keamanan siber dalam dokumen yang diperbarui mencakup âmanajemen data, termasuk penyimpanan dan keamanan,â yang tampaknya menutupi penghilangan tersebut. Sebaliknya, dokumen tersebut kini berfokus pada âtransformative emerging technologies,â yang mencakup kecerdasan buatan (AI), otonomi, bioteknologi, dan teknologi informasi kuantum.
NSS dan NSSTS pada dasarnya adalah dokumen yang menguraikan peta jalan untuk keamanan ekonomi. Perubahan prioritas bukanlah hal yang tidak biasa, seperti tujuan untuk âmenjauhkan musuh asing dari sistem teknologi kritis dan rantai pasokan.â Ini tampaknya merujuk terutama pada China, dan tantangan yang dibawa oleh beberapa perangkat keras komunikasi nirkabel buatan China.
Di dalam NSSTS, terlihat reaksi terhadap sebagian dari hal ini, terutama ambisi âmemprioritaskan homeshoring dan pengembangan produk dalam negeri, yang sedang dimajukan oleh pemerintahan Trump dengan mempromosikan perdagangan yang seimbang, memfasilitasi reindustrialisasi, melepaskan dominasi energi, memajukan substitusi material baru untuk komponen kritis, dan bekerja dengan pemasok dari mitra tepercaya.â
Data center dan high-performance data storage sebenarnya mudah masuk dalam tujuan-tujuan tersebut, hanya saja spesifikasinya kurang rinci dibandingkan edisi-edisi sebelumnya dari NSSTS. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun secara eksplisit tidak lagi disebut sebagai teknologi kritis, peran data center tetap relevan dalam strategi keamanan nasional AS.
Baca Juga:
Implikasi bagi Industri Data Center

Revisi NSSTS ini menjadi sorotan di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang pembangunan data center di berbagai negara bagian AS. Beberapa negara bagian bahkan mulai melawan pembangunan gedung baru karena berbagai pertimbangan, termasuk konsumsi energi dan dampak lingkungan.
Pemerintah Inggris baru-baru ini memberikan kemampuan kepada data center untuk menghindari peraturan bangunan tertentu. Sementara itu, mantan Presiden Trump pernah memperingatkan komunitas yang menentang data center bahwa mereka âmembuat kesalahan,â namun Gubernur Texas Greg Abbott mengatakan data center âmendapat reaksi balik yang layak mereka terima.â
Perubahan prioritas dalam NSSTS ini menunjukkan pergeseran fokus pemerintah AS dari infrastruktur fisik menuju teknologi yang dianggap lebih transformatif. AI, otonomi, bioteknologi, dan teknologi informasi kuantum kini menjadi prioritas utama dalam strategi keamanan nasional.

Bagi pelaku industri, revisi ini bisa berarti perubahan dalam alokasi pendanaan federal dan prioritas kemitraan dengan sektor swasta. Meskipun data center tidak lagi secara eksplisit disebut sebagai teknologi kritis, kebutuhan akan infrastruktur digital tetap tidak bisa dihindari, terutama dengan berkembangnya teknologi AI yang membutuhkan komputasi besar.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kebijakan ekspor teknologi kritis AS akan berubah seiring dengan revisi ini. Sebelumnya, kebijakan ekspor sangat dipengaruhi oleh daftar teknologi kritis yang mencakup data center dan penyimpanan data berperforma tinggi.
Dengan fokus baru pada teknologi emergen, AS tampaknya ingin memimpin dalam bidang-bidang yang dianggap lebih strategis untuk masa depan. Namun, tanpa infrastruktur data center yang memadai, ambisi tersebut bisa terhambat.
Revisi NSSTS ini juga mencerminkan dinamika persaingan teknologi global. Upaya untuk âmenjauhkan musuh asing dari sistem teknologi kritis dan rantai pasokanâ menunjukkan kekhawatiran terhadap penetrasi teknologi asing, khususnya dari China, dalam infrastruktur kritis AS.
Ke depannya, industri data center dan penyimpanan data perlu memantau bagaimana implementasi kebijakan ini berjalan. Meskipun statusnya berubah dalam dokumen strategis, permintaan pasar terhadap layanan data center diprediksi tetap tinggi seiring pertumbuhan ekonomi digital.
Bagi Indonesia, perkembangan ini bisa menjadi pelajaran penting tentang bagaimana prioritas teknologi nasional dapat berubah seiring waktu dan bagaimana kebijakan strategis memengaruhi arah industri. Kebijakan yang jelas dan adaptif diperlukan untuk memastikan infrastruktur digital tetap menjadi prioritas nasional.





Komentar
Belum ada komentar.