VR Bisa Membuat Orang Lebih Berempati

Telset.id, Jakarta – Menurut sebuah penelitian baru, virtual reality (VR) dapat membuat manusia lebih memahami realitas yang berbeda dari mereka dan lebih berempati ke orang lain. Penemuan ini baru-baru ini diterbitkan di jurnal PLOS ONE.

Para peneliti mencoba menggunakan virtual reality untuk merasakan menjadi seseorang yang kehilangan pekerjaan dan menjadi tunawisma.

Hasilnya, orang menggunakan VR menunjukkan sikap empati yang lebih kuat dan peka terhadap tunawisma, dibandingkan mereka yang hanya membaca artikel tentang tunawisma saja.

“Pengalaman adalah apa yang mendefinisikan kita sebagai manusia,” kata Jeremy Bailenson, salah satu penulis makalah penelitian ini dalam sebuah pernyataan.

Oleh sebab itu, kata Bailenson, tidak mengherankan apabila virtual reality dapat memberikan pengalaman yang akan membuat manusia menjadi lebih peka.

“Jadi, tidak mengherankan bahwa pengalaman intens dalam VR lebih berdampak daripada hanya membayangkan sesuatu,” katanya.

Para pendukung VR telah lama menganjurkan manfaat VR yang dapat meningkatkan empati seseorang melalui kemampuan teknologi untuk menempatkan seseorang dalam pengalaman orang lain.

Selama ini baru sedikit penelitian yang telah dilakukan dan skala penelitian hanya berukuran kecil dengan sampel yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa.

Studi atau peneilitan selama ini juga tidak meneliti efek jangka panjang yang dapat dialami oleh pengguna VR dalam kaitannya dengan empati.

Oleh sebab itu dalam studi baru ini, para peneliti di Stanford University melakukan dua studi selama dua bulan dengan melibatkan lebih dari 560 peserta antara usia 15 hingga 88 tahun yang mewakili setidaknya delapan latar belakang etnis yang berbeda.

Beberapa peserta ditunjukan pengalaman “menjadi tunawisma” menggunakan VR selama tujuh menit. Pengalaman ini membawa peserta melalui realitas kehilangan pekerjaan dan semua yang dimiliki.

Beberapa adegan di antaranya memilih barang dari apartemen untuk dijual guna membayar sewa, mencari tempat berlindung di bus umum dan mencari tahu cara melindungi barang-barang dari orang asing.

Sementara itu, peserta lain diberikan sebuah artikel untuk dibaca yang meminta mereka untuk membayangkan menjadi tunawisma, dan juga versi desktop 2D dari VR untuk berinteraksi dengannya.

Hasilnya, para peserta yang menggunakan VR untuk merasakan menjadi tunawisma menunjukkan sikap positif yang lebih peka terhadap para tunawisma. Para peserta ini lebih cenderung setuju dengan pernyataan

“Selama ini kita tidak cukup membantu orang-orang tunawisma, dan juga mengatakan mereka peduli dan bisa merasakan penderitaan para tunawisma,” kata Bailenson.

Selain itu, peserta VR dalam studi pertama adalah 82 persen lebih mungkin untuk menandatangani petisi dalam mendukung perumahan yang terjangkau, dibandingkan dengan 67 persen yang hanya membaca artikel tersebut.

Dalam studi kedua, 85 persen peserta VR menandatangani petisi, sementara 63 persen pembaca artikel menandatangani dan 66 persen dari mereka yang diberi versi 2D menandatangani.

“Mengambil perspektif orang lain dalam VR menghasilkan lebih banyak empati dan perilaku prososial pada orang-orang segera setelah melalui pengalaman dan dari waktu ke waktu, dibandingkan dengan hanya membayangkan seperti apa rasanya berada dalam posisi orang lain. Dan itu menarik,” kata penulis utama studi ini, Fernanda Herrera. [BA/HBS]

Sumber: NY Post

 

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -