📑 Daftar Isi

Papan reklame bertuliskan Uber di jendela mobil

Uber PHK 3.000 Karyawan demi Efisiensi dan Wajibkan Kerja Kantor

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • Uber melakukan PHK terhadap sekitar 3.000 karyawan atau 10 persen dari total tenaga kerja
  • Jumlah karyawan Uber sekitar 34.000 orang hingga akhir tahun 2025
  • CEO Dara Khosrowshahi menyebut restrukturisasi untuk menjadi "lebih sederhana dan lebih cepat"
  • Uber meminta mayoritas karyawan remote untuk pindah ke kantor dengan kebijakan hybrid 3 hari per minggu
  • Hanya sekitar 1 persen karyawan Uber yang akan bekerja remote di masa depan
  • Tim global Uber akan berbasis di New York dan San Francisco
  • Uber berkomitmen investasi 10 miliar dolar AS untuk kembali ke bisnis kendaraan otonom
  • Perusahaan memangkas peran koordinasi dan menggabungkan tim yang tumpang tindih

Telset.id – Uber mengumumkan restrukturisasi organisasi besar-besaran yang mencakup pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 3.000 karyawan atau 10 persen dari total tenaga kerjanya. Perusahaan ride-hailing ini juga meminta hampir seluruh karyawan remote untuk kembali bekerja dari kantor sebagai bagian dari upaya efisiensi.

Keputusan ini diumumkan langsung oleh CEO Uber, Dara Khosrowshahi, melalui memo internal kepada seluruh staf. Langkah tersebut diambil setelah Uber mencatatkan jumlah karyawan sekitar 34.000 orang hingga akhir tahun 2025. Perusahaan telah memberitahu karyawan yang terdampak, kecuali mereka yang berada di lokasi dengan proses pemberitahuan khusus.

Dalam memo tersebut, Khosrowshahi menjelaskan bahwa Uber sedang menyederhanakan tim dan menghapus lapisan manajemen demi menjadi “lebih sederhana dan lebih cepat.” Perusahaan juga ingin memiliki lebih banyak ruang untuk melakukan investasi strategis.

“Organisasi yang lebih ramping akan berarti kepemilikan yang lebih jelas, keputusan yang lebih cepat, dan lebih banyak waktu untuk membangun daripada berkoordinasi,” tulis Khosrowshahi dalam memo yang dikutip Telset.id.

Papan reklame bertuliskan Uber di jendela mobil

Alasan Restrukturisasi Uber

Khosrowshahi menyatakan bahwa langkah PHK ini juga akan menghasilkan penghematan yang ingin diinvestasikan kembali ke dalam pertumbuhan, inovasi, dan kapabilitas yang paling penting dalam beberapa tahun mendatang. Keputusan ini diambil di tengah komitmen Uber untuk berinvestasi sebesar 10 miliar dolar AS di bidang kendaraan otonom atau autonomous vehicles.

Menariknya, investasi tersebut merupakan kebalikan dari keputusan Uber pada tahun 2020 ketika perusahaan menjual divisi self-driving miliknya. Kini, Uber kembali serius menggarap segmen yang diyakini akan menjadi masa depan industri transportasi.

Khosrowshahi mengungkapkan bahwa “Uber telah tumbuh dengan pesat, dengan pendapatan yang hampir tiga kali lipat” dalam lima tahun terakhir. Namun, pertumbuhan tersebut justru menambah kompleksitas operasional perusahaan. Survei internal menunjukkan bahwa karyawan menghabiskan terlalu banyak waktu untuk berdiskusi dan berkoordinasi antar tim.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Uber telah memangkas banyak peran yang berfokus pada koordinasi, mengurangi jumlah lapisan manajemen, dan menggabungkan tim-tim yang saling tumpang tindih. “Ini adalah struktur organisasi yang lebih sederhana yang diarahkan untuk membangun daripada mengelola,” jelas Khosrowshahi.

Kebijakan Kerja Kantor dan Remote

Selain PHK, Uber juga menerapkan perubahan signifikan dalam kebijakan tempat kerja. Perusahaan akan memusatkan lebih banyak tim di sejumlah lokasi kunci. Tim global Uber akan berbasis di New York dan San Francisco, namun perusahaan tetap mempertahankan tech hub serta tim regional dan berbasis negara.

Uber kini “meminta mayoritas besar karyawan remote untuk pindah ke kantor” dan memberlakukan kebijakan kerja hybrid yang mengharuskan karyawan hadir di kantor tiga hari dalam seminggu. Khosrowshahi menyebutkan bahwa hanya sekitar satu persen karyawan Uber yang akan bekerja remote di masa depan.

“Manfaat duduk bersama, berkolaborasi secara langsung, dan memecahkan masalah sebagai tim semakin jelas di dunia pasca-COVID,” klaim Khosrowshahi.

Keputusan ini tentu berdampak besar bagi ribuan karyawan Uber yang selama ini menikmati fleksibilitas kerja jarak jauh. Kebijakan ini sejalan dengan tren industri teknologi yang mulai kembali menerapkan budaya kerja kantor setelah pandemi.

Dampak PHK terhadap Operasional Uber

Restrukturisasi ini dilakukan di tengah berbagai tantangan yang dihadapi Uber. Perusahaan sebelumnya juga menghadapi berbagai isu terkait kebijakan algoritma dan hubungan dengan pengemudi. Meski demikian, Khosrowshahi menegaskan bahwa keputusan ini diambil untuk membangun Uber yang lebih kuat ke depannya.

“Saya menyadari ini banyak perubahan, tetapi kami memutuskan lebih baik melakukan satu perubahan besar daripada banyak perubahan kecil,” tambah Khosrowshahi.

Ia juga optimistis dengan masa depan perusahaan. “Kami memiliki momentum yang luar biasa, kapasitas finansial yang signifikan, dan peluang di depan yang lebih besar daripada titik mana pun sejak saya bergabung dengan perusahaan. Keputusan yang kami ambil hari ini memang sulit, tetapi akan membantu kami membangun Uber yang lebih kuat untuk tahun-tahun mendatang.”

Investasi Besar Uber di Kendaraan Otonom

Langkah efisiensi ini tidak bisa dilepaskan dari rencana besar Uber untuk kembali serius menggarap bisnis kendaraan otonom. Bulan lalu, perusahaan berkomitmen menginvestasikan 10 miliar dolar AS untuk kembali ke segmen autonomous vehicles setelah menjual divisi self-driving-nya pada tahun 2020.

Keputusan untuk berinvestasi besar di kendaraan otonom menunjukkan perubahan strategi signifikan Uber. Perusahaan tampaknya ingin memastikan posisinya tetap relevan di tengah persaingan industri transportasi yang semakin ketat, terutama dengan hadirnya pemain-pemain baru di sektor robotaxi.

Dengan restrukturisasi ini, Uber berharap dapat mengalokasikan sumber daya secara lebih efisien untuk mendanai inisiatif strategis tersebut. Penghematan dari PHK dan penyederhanaan organisasi diharapkan dapat membiayai pengembangan teknologi otonom yang membutuhkan investasi sangat besar.

Kebijakan kerja kantor juga dipandang sebagai cara untuk meningkatkan kolaborasi dan mempercepat pengambilan keputusan, yang sangat penting dalam pengembangan teknologi kompleks seperti kendaraan otonom.

Prospek Uber ke Depan

Restrukturisasi besar-besaran ini menandai babak baru bagi Uber. Perusahaan yang selama ini identik dengan layanan ride-hailing kini bertransformasi menjadi perusahaan teknologi yang lebih ramping dengan fokus pada inovasi dan efisiensi.

Meski PHK selalu menjadi kabar buruk bagi karyawan yang terdampak, keputusan ini mencerminkan upaya Uber untuk tetap kompetitif di industri yang terus berubah. Investasi di kendaraan otonom dan penyederhanaan struktur organisasi adalah dua langkah strategis yang saling terkait untuk mencapai tujuan jangka panjang perusahaan.

Khosrowshahi menegaskan bahwa perubahan ini diperlukan untuk membangun “Uber yang lebih kuat untuk tahun-tahun mendatang.” Dengan kapasitas finansial yang signifikan dan struktur organisasi yang lebih ramping, Uber tampaknya siap menghadapi tantangan industri transportasi modern.

Bagi para pengguna layanan Uber, restrukturisasi ini diharapkan tidak berdampak negatif pada kualitas layanan. Sebaliknya, dengan organisasi yang lebih efisien, perusahaan diharapkan dapat berinovasi lebih cepat dan menghadirkan layanan yang lebih baik.

Perkembangan Uber ini menjadi bagian dari dinamika industri teknologi global yang terus beradaptasi dengan perubahan pasar. Keputusan sulit seperti PHK kerap menjadi keniscayaan ketika perusahaan ingin bertransformasi menuju model bisnis yang lebih berkelanjutan.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.