Telset.id – TikTok disebut berperan sebagai corong promosi konten dewasa yang dihosting di platform seperti OnlyFans. Temuan itu tertuang dalam laporan berjudul “The TikTok to OnlyFans Pipeline: How TikTok is promoting, normalising and glamourising the sex industry” yang disusun Centre to End All Sexual Exploitation (CEASE) asal Inggris dan Collective Shout asal Australia, hasil investigasi selama setahun.
Laporan tersebut menyoroti bagaimana konten OnlyFans dipromosikan secara terselubung di TikTok, platform yang memiliki proporsi besar pengguna muda. Temuan ini menempatkan TikTok dalam rangkaian kritik serupa yang sebelumnya menerpa platform media sosial lain, termasuk Meta yang diminta pemerintah India menurunkan iklan Instagram yang mempromosikan materi pelecehan seksual anak.
Melinda Tankard Reist, Movement Director di Collective Shout, menyatakan bahwa TikTok berperan seperti “digital pimp berskala industri” yang menyalurkan anak-anak perempuan ke industri seks melalui jalur yang mulus. Pernyataan itu disampaikan dalam siaran pers yang dikutip dari laporan tersebut.
Cara Konten OnlyFans Dipromosikan di TikTok
Menurut laporan, sejumlah kreator menyelipkan rujukan tersandi ke akun OnlyFans mereka ke dalam konten gaya hidup yang tampak harmless, seperti video “get ready with me”, shopping haul, bahkan klip baking atau hewan peliharaan. Para performer menggunakan kata “corn” sebagai pengganti “porn”, atau memasangkan emoji jagung dengan emoji bintang.
Akun-akun ini juga mengandalkan emoji, gestur, dan username yang bersifat sugestif untuk mengarahkan penonton ke tautan di profil mereka, dan akhirnya ke materi eksplisit di situs seperti OnlyFans dan Fansly. Pola serupa, menurut laporan, masih mudah ditemukan di YouTube, Instagram, hingga Snapchat.

Banyak dari video tersebut juga memamerkan gaya hidup mewah, dengan uang tunai, rumah besar, jet pribadi, dan mobil mahal yang disebut-sebut dibiayai penghasilan OnlyFans. Pesan semacam itu disebut menjadi umpan kuat bagi lebih banyak perempuan muda untuk mempertimbangkan bergabung ke platform tersebut.
Baca Juga:
Rekrutmen dan Respons TikTok
Pada Juli, investigasi News Corp melaporkan bahwa agen bawah tanah mendekati anak perempuan di bawah umur melalui media sosial, menjanjikan ketenaran dan uang di OnlyFans begitu mereka berusia 18 tahun. Peneliti juga menemukan bahwa TikTok menampung video audisi untuk Bop House, rumah produksi berbasis di Miami yang sekelompok perempuannya menjual konten seksual di OnlyFans.
Calon rekrutan merespons dengan mengunggah tarian bersifat sugestif yang diberi tag rekrutmen Bop House. Akun-akun ini tidak secara eksplisit mempromosikan OnlyFans, tetapi petunjuk halusnya dapat dengan mudah mengarahkan penonton ke sana.
Menanggapi laporan itu, TikTok menyatakan pihaknya melarang keras berbagi atau menampilkan konten seksual dan menggunakan teknologi canggih untuk menegakkan pedoman komunitas. “Sistem kami dirancang untuk mencegah konten yang tidak sesuai usia menjangkau remaja,” kata TikTok dalam pernyataan yang dibagikan kepada The Guardian.
Ini bukan pertama kalinya TikTok menghadapi sorotan. Perusahaan sudah menghadapi berbagai investigasi dan gugatan yang menuduhnya membangun algoritma adiktif yang menyajikan konten tidak sehat kepada pengguna muda, sering kali memperburuk citra tubuh, harga diri, dan masalah kesehatan mental mereka. Sebelumnya, Uni Eropa menilai TikTok masih belum berbuat cukup untuk melindungi anak, dan riset menyebut TikTok, Instagram, Snapchat, serta YouTube gagal melindungi anak-anak dengan fitur keamanan yang rusak.
Laporan CEASE dan Collective Shout menegaskan bahwa promosi konten dewasa di TikTok berlangsung melalui mekanisme yang tampak sepele, mulai dari emoji hingga tautan di bio. Sebagai platform dengan basis pengguna muda yang besar, pola ini menjadi perhatian tersendiri di tengah tuntutan perlindungan anak yang semakin menguat.





Komentar
Belum ada komentar.