Telset.id – Operator seluler Telkomsel menegaskan komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan di tengah kebutuhan memperluas layanan digital dan konektivitas di seluruh Indonesia. Komitmen ini diungkapkan bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Jumat, 5 Juni 2026.
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menyatakan bahwa pertumbuhan bisnis harus berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan dan sosial. “Kami telah dan akan terus berinovasi dan berkembang agar kontribusi keberlanjutan Telkomsel semakin terasa, baik dari sisi jangkauan maupun kualitas dampaknya,” ujarnya di Jakarta.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui tiga pilar utama keberlanjutan perusahaan, yaitu Jaga Cita, Jaga Data, dan Jaga Bumi. Ketiganya menjadi kerangka strategi keberlanjutan Telkomsel yang terintegrasi dengan seluruh lini bisnis.
Jaga Cita: Perluas Akses Digital
Melalui pilar Jaga Cita, Telkomsel terus memperluas akses pemberdayaan digital bagi masyarakat Indonesia. Sepanjang 2025, perusahaan melayani 156,1 juta pelanggan mobile dan 10,3 juta pelanggan IndiHome B2C. Layanan ini didukung lebih dari 293 ribu BTS di seluruh Indonesia, termasuk lebih dari 360 desa blank spot.
Selain infrastruktur, Telkomsel juga membina sekitar 90 ribu pelajar, UMKM, komunitas, hingga talenta muda melalui berbagai program sosial berbasis digital. Penguatan talenta internal juga dilakukan dengan fokus pada pengembangan keahlian AI, cybersecurity, dan data science. Transformasi ini sejalan dengan langkah perusahaan untuk bertransformasi jadi perusahaan digital.
Jaga Data: Keamanan Informasi Terjamin
Pada pilar Jaga Data, Telkomsel memperkuat tata kelola keamanan informasi. Perusahaan telah menerapkan standar internasional ISO 27001, ISO 27701, dan ISO 25010 untuk menjaga keamanan serta kepercayaan pelanggan di tengah meningkatnya ancaman siber. Langkah ini menjadi krusial mengingat volume data pelanggan yang terus bertambah.
Jaga Bumi: Inisiatif Lingkungan Nyata
Sementara melalui Jaga Bumi, Telkomsel menjalankan berbagai inisiatif pengurangan dampak lingkungan. Hingga 2025, sebanyak 361 BTS telah menggunakan energi terbarukan berbasis solar panel dan mikrohidro. Seluruh limbah elektronik dikelola dengan pendekatan recycle, reuse, dan refurbish, sementara 100% kemasan kartu SIM telah menggunakan material ramah lingkungan.
Telkomsel juga melakukan penanaman lebih dari 12 ribu pohon mangrove sebagai bagian dari upaya carbon offsetting, serta memperkuat ketahanan infrastruktur dari risiko perubahan iklim.
Baca Juga:
Dampak Ekonomi dan Apresiasi
Dampak keberlanjutan Telkomsel juga meluas ke aspek ekonomi. Sepanjang 2025, perusahaan mencatat distribusi kembali sekitar 83% pendapatan kepada pemerintah, pemegang saham, pemasok, dan karyawan. Ekosistem bisnis juga diperkuat oleh lebih dari 235 ribu mitra outlet ritel di berbagai daerah.
Komisaris Utama Telkomsel sekaligus Wakil Menteri Lingkungan Hidup RI, Diaz F. M. Hendropriyono, menyoroti pentingnya peran dunia usaha dalam menghadapi tantangan perubahan iklim. “Saya mengapresiasi Telkomsel yang, meskipun tidak berada di sektor ekstraktif, tetap menunjukkan kepedulian nyata terhadap keberlanjutan. Perusahaan yang menjaga keberlanjutan akan semakin dipercaya dan memiliki nilai lebih di mata masyarakat, terutama bagi generasi masa depan,” ucapnya.
Telkomsel menyatakan agenda keberlanjutan ini merupakan bagian dari strategi besar GoZero Telkom Group, yang menargetkan kontribusi terhadap pencapaian Net Zero Emission 2060. Dengan berbagai inisiatif tersebut, Telkomsel menegaskan posisinya bukan hanya sebagai penyedia layanan telekomunikasi, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem digital berkelanjutan di Indonesia.





Komentar
Belum ada komentar.