Wamenkomdigi: Mineral Kritis Indonesia Bisa Jadi Instrumen Diplomasi Digital

Wamenkomdigi: Mineral Kritis Indonesia Bisa Jadi Instrumen Diplomasi Digital

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️2 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyatakan bahwa kekayaan sumber daya mineral kritis Indonesia dapat menjadi instrumen diplomasi digital yang menguntungkan di tengah persaingan global pengembangan kecerdasan artifisial (AI). Pernyataan ini disampaikan dalam acara Jakarta Geopolitical Forum di Jakarta Selatan, Kamis (9/7/2026).

Menurut Nezar, Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat karena menguasai cadangan nikel terbesar di dunia. Kepemilikan ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok produksi baterai global. Ia juga menyebutkan bahwa Indonesia adalah produsen kobalt terbesar kedua di dunia, material kunci untuk baterai berkinerja tinggi dan semikonduktor canggih.

“Kami adalah produsen kobalt terbesar kedua di dunia, material kunci untuk baterai berkinerja tinggi dan semikonduktor canggih,” kata Nezar.

“Selain itu, kami adalah eksportir bijih tembaga terbesar ketiga, mineral penting untuk sistem pengkabelan dan pendinginan pusat data yang menampung infrastruktur AI,” ia menambahkan.

Kekayaan sumber daya mineral tersebut, menurut Nezar, memungkinkan Indonesia untuk menjadi pemain kunci dalam ekosistem kecerdasan artifisial global, bukan sekadar konsumen. Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, Indonesia harus menentukan jalur strategis sendiri melalui diplomasi digital.

“Indonesia perlu menggunakan mineral kritis untuk menegosiasikan akses yang lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur,” katanya sebagaimana dikutip dalam keterangan pers kementerian yang dikonfirmasi pada Jumat.

Nezar menegaskan bahwa keunggulan suatu negara tidak lagi ditentukan oleh siapa yang pertama menemukan teknologi, tetapi oleh kemampuan membangun talenta, kemampuan komputasi, basis data, dan industri. Keberhasilan Indonesia menjadi kekuatan teknologi strategis menuju Indonesia Emas 2045 bergantung pada konsistensi dalam membangun infrastruktur digital, pusat data, talenta, dan institusi yang kuat.

Oleh karena itu, pemerintah memprioritaskan diplomasi chip, peningkatan penyediaan energi untuk pusat data, pengembangan talenta AI dan semikonduktor, penguatan kedaulatan data, serta pengembangan AI yang sesuai dengan konteks Indonesia.

“Kekuatan digital pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi semata. Ini tentang kemauan politik, kemauan untuk mempertahankan strategi lintas pemerintahan, untuk membangun institusi secara bertahap, dan memutuskan masa depan geopolitik baru Indonesia,” demikian Nezar Patria.

Dengan kekayaan sumber daya mineral kritis, pasar digital besar, bonus demografi, kapasitas komputasi, talenta digital, dan kemampuan industri, Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi pasar atau pemasok bahan mentah. Pemerintah telah memprioritaskan pengembangan talenta AI sebagai bagian dari strategi jangka panjang.

Langkah ini sejalan dengan upaya global untuk mengamankan pasokan mineral kritis. Di sisi lain, cadangan litium yang ditemukan di Amerika Serikat menunjukkan betapa strategisnya sumber daya ini dalam persaingan teknologi global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.