Wamenkomdigi Ajak Generasi Muda Bangun Demokrasi Dinamis

Wamenkomdigi Ajak Generasi Muda Bangun Demokrasi Dinamis

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengajak generasi muda untuk membangun demokrasi yang dinamis guna menjawab tantangan baru di era digital. Tantangan Indonesia setelah 28 tahun reformasi kini tidak lagi sebatas menjaga kebebasan, tetapi juga memastikan demokrasi dapat menghadirkan kesejahteraan dan merespons disinformasi.

Hal itu disampaikan Nezar Patria dalam acara Diskusi Pemuda bertema “28 Tahun Reformasi: Perjuangan Masa Lalu, Kini, dan Esok” di Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2026). Ia menekankan bahwa generasi muda memiliki peran krusial dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia di tengah derasnya arus informasi digital.

Menurut Nezar, perkembangan teknologi digital telah melahirkan berbagai platform media sosial yang membawa manfaat sekaligus risiko konflik. Ia menyoroti bagaimana media sosial berpotensi menciptakan polarisasi, menyebarkan disinformasi, mempertajam politik identitas, dan membentuk echo chamber.

“Informasi yang muncul di media sosial itu tidak penting benar atau salah, tapi Anda suka atau tidak suka, Anda punya sentimen atau tidak. Jadi, yang digerakkan adalah sentimen bukan fakta,” jelas Nezar dalam siaran pers kementerian pada Senin (13/7/2026).

Ia menambahkan, algoritma media sosial justru memperkuat fenomena echo chamber di mana pengguna hanya terpapar informasi yang sesuai dengan keyakinan mereka. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi demokrasi yang membutuhkan ruang diskusi yang sehat dan berbasis fakta.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Nezar optimistis demokrasi Indonesia akan terus berkembang. Ia menyebutkan bahwa penduduk berusia 15 hingga 55 tahun, yang mencakup kaum muda dan produktif, mencapai hampir 60 persen dari populasi Indonesia.

“Kalau dilihat ini adalah usia generasi yang menikmati kebebasan demokrasi, yang menginternalisasi soal kebebasan ini, dan menjadi referensi dalam setiap tindakan-tindakan politiknya,” kata Nezar.

Generasi muda Indonesia dinilai memiliki pengalaman langsung menikmati kebebasan demokrasi pasca-reformasi. Hal ini menjadi modal berharga untuk menghadapi tantangan demokrasi di masa depan, termasuk ancaman disinformasi dan polarisasi yang diperkuat oleh teknologi digital.

Nezar mengajak generasi muda untuk menjadikan perjalanan reformasi selama 28 tahun sebagai pijakan. Ia menekankan pentingnya literasi digital agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh informasi palsu yang beredar di media sosial.

Dalam kesempatan tersebut, Nezar juga menyinggung bagaimana ilusi algoritma dapat memengaruhi persepsi publik. Ia mengingatkan bahwa algoritma media sosial tidak dirancang untuk menyajikan kebenaran, melainkan untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna berdasarkan preferensi dan sentimen.

Kondisi ini, menurut Nezar, dapat memperlebar konflik di masyarakat jika tidak diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, ia mendorong generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Diskusi Pemuda yang digelar di Jakarta Selatan itu menjadi forum bagi generasi muda untuk berdialog langsung dengan pemangku kebijakan. Nezar berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat partisipasi aktif generasi muda dalam demokrasi.

Ia juga menekankan pentingnya etika digital sebagai landasan dalam berinteraksi di dunia maya. Tanpa etika yang kuat, ruang digital justru bisa menjadi arena konflik yang merusak kohesi sosial.

Nezar optimistis bahwa dengan kesadaran dan partisipasi aktif generasi muda, demokrasi Indonesia dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan tantangan era digital. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun demokrasi yang dinamis dan inklusif.

“Hari-hari ini teknologi itu memberikan banyak hal kepada kita yang memperluas demokrasi, tapi juga dia bisa memperlebar konflik,” pungkas Nezar menegaskan pentingnya kewaspadaan di tengah kemajuan teknologi.

Telset.id – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria mengajak generasi muda untuk membangun demokrasi yang dinamis guna menjawab tantangan baru di era digital. Tantangan Indonesia setelah 28 tahun reformasi kini tidak lagi sebatas menjaga kebebasan, tetapi juga memastikan demokrasi dapat menghadirkan kesejahteraan dan merespons disinformasi.

Hal itu disampaikan Nezar Patria dalam acara Diskusi Pemuda bertema “28 Tahun Reformasi: Perjuangan Masa Lalu, Kini, dan Esok” di Jakarta Selatan, Jumat (10/7/2026). Ia menekankan bahwa generasi muda memiliki peran krusial dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia di tengah derasnya arus informasi digital.

Menurut Nezar, perkembangan teknologi digital telah melahirkan berbagai platform media sosial yang membawa manfaat sekaligus risiko konflik. Ia menyoroti bagaimana media sosial berpotensi menciptakan polarisasi, menyebarkan disinformasi, mempertajam politik identitas, dan membentuk echo chamber.

“Informasi yang muncul di media sosial itu tidak penting benar atau salah, tapi Anda suka atau tidak suka, Anda punya sentimen atau tidak. Jadi, yang digerakkan adalah sentimen bukan fakta,” jelas Nezar dalam siaran pers kementerian pada Senin (13/7/2026).

Ia menambahkan, algoritma media sosial justru memperkuat fenomena echo chamber di mana pengguna hanya terpapar informasi yang sesuai dengan keyakinan mereka. Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi demokrasi yang membutuhkan ruang diskusi yang sehat dan berbasis fakta.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Nezar optimistis demokrasi Indonesia akan terus berkembang. Ia menyebutkan bahwa penduduk berusia 15 hingga 55 tahun, yang mencakup kaum muda dan produktif, mencapai hampir 60 persen dari populasi Indonesia.

“Kalau dilihat ini adalah usia generasi yang menikmati kebebasan demokrasi, yang menginternalisasi soal kebebasan ini, dan menjadi referensi dalam setiap tindakan-tindakan politiknya,” kata Nezar.

Generasi muda Indonesia dinilai memiliki pengalaman langsung menikmati kebebasan demokrasi pasca-reformasi. Hal ini menjadi modal berharga untuk menghadapi tantangan demokrasi di masa depan, termasuk ancaman disinformasi dan polarisasi yang diperkuat oleh teknologi digital.

Nezar mengajak generasi muda untuk menjadikan perjalanan reformasi selama 28 tahun sebagai pijakan. Ia menekankan pentingnya literasi digital agar generasi muda tidak mudah terpengaruh oleh informasi palsu yang beredar di media sosial.

Dalam kesempatan tersebut, Nezar juga menyinggung bagaimana ilusi algoritma dapat memengaruhi persepsi publik. Ia mengingatkan bahwa algoritma media sosial tidak dirancang untuk menyajikan kebenaran, melainkan untuk memaksimalkan keterlibatan pengguna berdasarkan preferensi dan sentimen.

Kondisi ini, menurut Nezar, dapat memperlebar konflik di masyarakat jika tidak diantisipasi dengan baik. Oleh karena itu, ia mendorong generasi muda untuk menjadi agen perubahan yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.

Diskusi Pemuda yang digelar di Jakarta Selatan itu menjadi forum bagi generasi muda untuk berdialog langsung dengan pemangku kebijakan. Nezar berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan untuk memperkuat partisipasi aktif generasi muda dalam demokrasi.

Ia juga menekankan pentingnya etika digital sebagai landasan dalam berinteraksi di dunia maya. Tanpa etika yang kuat, ruang digital justru bisa menjadi arena konflik yang merusak kohesi sosial.

Nezar optimistis bahwa dengan kesadaran dan partisipasi aktif generasi muda, demokrasi Indonesia dapat terus berkembang dan beradaptasi dengan tantangan era digital. Ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun demokrasi yang dinamis dan inklusif.

“Hari-hari ini teknologi itu memberikan banyak hal kepada kita yang memperluas demokrasi, tapi juga dia bisa memperlebar konflik,” pungkas Nezar menegaskan pentingnya kewaspadaan di tengah kemajuan teknologi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.