Tarif Internet Terlalu Murah Tidak Bagus Buat Industri

Foto: Telset.id/Bayu Sadewo

Telset.id, Jakarta – Beberapa waktu lalu situs Telkomsel sempat ambruk setelah mendapat serangan dari hacker yang memprotes soal mahalnya tarif internet. Menanggapi hal itu, pihak Telkomsel membantah jika tarifnya mahal, dan mengklaim jika tarif Internet terlalu murah malah tidak bagus buat industri. Kenapa?

Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah mengatakan bahwa tarif internet mahal atau murah itu sangat relatif. Karena buktinya, tarif Internet di Indonesia sebenarnya termurah ketiga di dunia, jika dibandingkan dengan negara lain.

“Tarif Internet Telkomsel itu sebenarnya termurah ketiga di dunia,” kata Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah di Hotel Singhasari, Batu, Malang, Jawa Timur, Kamis (18/5/2016).

Menurutnya, pengembangan infrastruktur jaringan di seluruh dunia sama, karena vendor jaringannya sebenarnya hampir sama semua. Yang membedakannya hanya pajak yang dibebankan setiap negara kepada masing-masing operator.

“Jadi harganya itu sebenarnya sama, karena vendor jaringannya juga hampir sama semua. Sekarang tinggal bagaimana masing-masing operator itu punya niat untuk membangun infrastrukturnya di daerah pelosok atau tidak,” tukasnya.

Ia menambahkan, kalau tarif internet terlalu murah tidak bagus buat operator untuk jangka panjang, karena nantinya operator justru tidak bisa membangun infrastruktur secara maksimal. Alhasil, industri akan bisa terancam menjadi tidak sehat.

“Tarif murah itu baik hanya untuk jangka pendek. Tapi jangka panjangnya, bisa membuat operator tak mampu bertahan. Imbasnya, perkembangan industri justru bisa mendek karena operator tidak mampu membangun,” tuturnya.

Ia menyebutkan ada tiga hal penting yang harus dilakukan operator untuk mendorong industri tetap tumbuh. Pertama, membuat harga yang terjangkau. Kedua, tetap berkelanjutan dalam membangun. Dan yang Ketiga, infrastuktur harus merata dan ada dimana-mana seluruh Indonesia.

“Indonesia itu kan negara kepulauan yang memiliki tantangan besar untuk memberikan pelayanan yang merata dan harus sama baiknya di kota besar maupun kota kecil hingga daerah pelosok. Jadi jangan membangun di kota besar saja,” pungkas Ririek.

Sebagai informasi, hingga saat ini jumlah pelanggan Telkomsel telah mencapai 170 juta pelanggan dengan 89 juta diantaranya adalah pelanggan data. Untuk melayani pelanggannya, operator ‘plat merah’ ini telah membangun 140 ribu BTS (base transceiver station), yang terdiri dari 35% BTS 2G, 55% BTS 3G, dan 10% BTS 4G, yang telah menjangkau 99% wilayah di Indonesia. [HBS]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here