📑 Daftar Isi

Potret Elon Musk dengan efek warna koran di atas latar belakang oranye

SpaceX Naikkan Harga Koneksi Starshield untuk Drone Militer AS

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • SpaceX menaikkan harga koneksi Starshield untuk drone LUCAS militer AS dari US$5.000 menjadi US$25.000 per unit
  • Elon Musk membantah laporan Reuters namun secara bersamaan mengonfirmasi inti pemberitaan tersebut
  • Musk mengklaim drone bunuh diri salah menggunakan sistem sipil Starlink, bukan Starshield
  • Kontroversi muncul di tengah persiapan IPO SpaceX dengan valuasi US$2 triliun
  • Pentagon membela SpaceX sebagai mitra kuat meskipun ada kenaikan harga signifikan

Telset.id – SpaceX secara sepihak menaikkan harga konektivitas Starshield untuk drone bunuh diri militer Angkatan Darat Amerika Serikat hingga lima kali lipat. Alih-alih membayar US$5.000 per sambungan, Pentagon kini harus merogoh kocek sekitar US$25.000 per unit drone LUCAS (Low-cost Uncrewed Combat Attack System) setelah negosiasi alot dengan pihak SpaceX.

Informasi ini diungkap oleh Reuters berdasarkan sumber internal yang mengetahui langsung jalannya negosiasi. Kenaikan harga ini memicu reksi keras dari CEO SpaceX, Elon Musk, yang secara bersamaan membantah dan membenarkan laporan tersebut dalam satu unggahan di platform media sosial X.

Potret Elon Musk dengan efek warna koran di atas latar belakang oranye

“Artikel Reuters itu palsu,” tulis Musk dalam cuitannya. “Mereka menggunakan sistem sipil Starlink secara tidak sah untuk keperluan militer. Itu pelanggaran langsung terhadap ketentuan layanan.” Pernyataan ini justru mengonfirmasi inti laporan Reuters bahwa militer dan perusahaan antariksa tersebut berselisih soal koneksi drone bunuh diri.

Dalam cuitan lanjutan, Musk menjelaskan bahwa terdapat cabang khusus pemerintah AS di SpaceX bernama Starshield yang memiliki kumpulan satelit berbeda dengan Starlink yang diperuntukkan bagi penggunaan sipil. “Perusahaan pembuat drone bunuh diri itu salah menggunakan sistem sipil, bukan Starshield,” tegasnya.

Kontroversi di Tengah Persiapan IPO

Kontroversi ini muncul di saat yang sangat tidak menguntungkan bagi SpaceX. Perusahaan yang digawangi Elon Musk tersebut tengah bersiap melantai di bursa saham tahun ini dengan valuasi fantastis mencapai US$2 triliun. Kontrak pemerintah yang menguntungkan serta layanan Starlink konsumen masih menjadi andalan utama pendapatan perusahaan.

Juru bicara Pentagon, Sean Parnell, ikut angkat bicara melalui cuitan yang kemudian disebut sebagai “koreksi” oleh Musk. “Spacex tetap menjadi mitra yang kuat dan berharga bagi Departemen Perang. Klaim dalam artikel itu sama sekali tidak berdasar dan tidak mencerminkan kolaborasi erat dan efektif antara tim kami,” tulis Parnell.

Perseteruan ini menyoroti seberapa besar pengaruh yang dimiliki SpaceX terhadap militer AS. Kemampuan perusahaan untuk memaksakan kenaikan harga hingga lima kali lipat menunjukkan posisi tawar yang sangat kuat, terutama mengingat militer AS sangat bergantung pada jaringan satelit Starshield untuk operasi drone canggih mereka.

Drone LUCAS dan Perannya di Medan Perang

Angkatan Darat AS mulai mengerahkan drone LUCAS awal tahun ini selama operasi penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Para petinggi militer memuji drone tersebut sebagai alat yang “sangat diperlukan” dalam perang AS-Israel melawan Iran. Drone bunuh diri tanpa awak ini mampu mengidentifikasi target dan meledak saat benturan.

Kenaikan biaya koneksi per unit drone ini berpotensi mengirimkan sinyal negatif kepada investor menjelang IPO SpaceX. Di satu sisi, pendapatan dari kontrak pemerintah memang menggiurkan, namun praktik strong-arming terhadap Pentagon bisa menimbulkan pertanyaan soal keberlanjutan kemitraan jangka panjang.

Sebelumnya, SpaceX juga terlibat dalam berbagai kontroversi terkait layanan satelitnya. Gugatan Elon Musk terhadap OpenAI dan berbagai perselisihan lainnya turut mewarnai perjalanan perusahaan antariksa tersebut. Bahkan, Elon Musk mengamuk di sidang saat membongkar penyimpangan yang dilakukan OpenAI.

Yang menarik, Musk justru mengakui bahwa drone bunuh diri tersebut menggunakan sistem sipil Starlink secara tidak sah. Pengakuan ini sekaligus mengonfirmasi bahwa ada celah serius dalam pengawasan penggunaan teknologi satelit SpaceX antara ranah sipil dan militer. Militer AS sendiri belum memberikan komentar resmi mengenai temuan Reuters selain pernyataan Parnell yang kontroversial tersebut.

Dengan valuasi IPO yang mencapai US$2 triliun, SpaceX berada di bawah tekanan besar untuk menunjukkan pertumbuhan pendapatan yang stabil. Kontrak militer menjadi salah satu pilar utama, namun taktik negosiasi agresif perusahaan bisa menjadi bumerang jika Pentagon mulai mencari alternatif penyedia layanan satelit militer.

Kisruh ini juga membuka tabir baru tentang bagaimana perusahaan teknologi swasta seperti SpaceX dapat memegang kendali atas infrastruktur vital militer. Dengan posisi monopoli virtual di pasar konektivitas satelit militer, SpaceX memiliki kekuatan untuk menentukan harga sepihak, sesuatu yang jarang terjadi dalam hubungan kontraktor-pemerintah konvensional.

Komentar

Belum ada komentar.