Telset.id – Jika Anda mengira Truecaller sebagai aplikasi identifikasi penelepon yang tak tergoyahkan, siap-siap berpikir ulang. Di balik lebih dari 500 juta penggunanya, aplikasi asal Swedia ini kini menghadapi tekanan yang semakin berat. Pertumbuhan di pasar utamanya melambat, kompetisi dari operator telekomunikasi dan raksasa ponsel kian sengit, dan yang paling mengkhawatirkan, harga sahamnya sudah ambles hingga 78% sejak IPO pada 2021.
Bayangkan ini: Anda adalah pemain dominan di sebuah lapangan. Tiba-tiba, operator telekomunikasi mulai membangun tembok pembatas dengan layanan serupa, sementara Apple dan Google diam-diam merangsek masuk dengan fitur bawaan sistem operasi mereka. Itulah gambaran nyata yang kini dihadapi Truecaller.
India, yang menjadi tulang punggung dengan lebih dari 350 juta pengguna atau sekitar 70% basis global, mulai menunjukkan tanda-tanda kejenuhan. Data dari Sensor Tower yang dibagikan secara eksklusif kepada TechCrunch mengungkapkan, unduhan aplikasi Truecaller di India turun 16% year-over-year pada 2025. Secara global, penurunannya mencapai 5% — sebuah titik balik setelah bertahun-tahun menikmati pertumbuhan positif.
Data terpisah dari Appfigures memperkuat temuan ini. Unduhan puncak terjadi pada 2021 dengan 175 juta, lalu merosot tajam pada 2022, dan sejak itu stagnan di sekitar 120 juta per tahun. Pangsa unduhan dari India pun menyusut, dari puncaknya yang pernah di atas 70% menjadi hanya kisaran pertengahan 50% dalam beberapa tahun terakhir. Artinya, Truecaller mulai mencari pengguna baru di luar India, namun belum cukup untuk menggantikan mesin pertumbuhan utamanya.
Di balik layar, tekanan yang paling langsung bukan datang dari CNAP (Calling Name Presentation) seperti yang banyak dikhawatirkan, melainkan dari sektor periklanan. Sekitar 65-70% pendapatan Truecaller berasal dari iklan. Dan di sinilah masalahnya dimulai.
Dalam panggilan pendapatan terakhir, Truecaller mengakui bahwa mereka kehilangan sekitar sepertiga lalu lintas iklan dari mitra terbesarnya pada Agustus 2025. Analis di panggilan tersebut mengidentifikasi mitra itu sebagai Google. CEO Truecaller, Rishit Jhunjhunwala, menyebutnya sebagai “masalah algoritma” yang belum terselesaikan. Sementara CFO Odd Bolin menambahkan bahwa mitra tersebut masih menyumbang lebih dari sepertiga total pendapatan perusahaan.
Truecaller kini tengah berupaya menambah mitra baru dan membangun bursa iklan sendiri untuk mengurangi ketergantungan pada satu platform. Namun, langkah ini belum tentu menjadi solusi jitu. Direktur riset ekuitas Cantor Fitzgerald, Bharath Nagaraj, mengingatkan bahwa dunia periklanan tetap sangat kompetitif. “Anda bisa menayangkan iklan di Truecaller, tapi Anda juga bisa menayangkannya di Facebook,” katanya.
Di tengah tekanan iklan, ada secercah harapan dari pendapatan dalam aplikasi (in-app revenue). Data Appfigures menunjukkan lonjakan signifikan: dari hanya 600 ribu dolar AS pada 2017 menjadi 39,3 juta dolar AS pada 2025. Hingga 20 April tahun ini, angkanya sudah mencapai 13,4 juta dolar AS. Pendapatan bulanan dari pembelian dalam aplikasi kini konsisten di atas 2 juta dolar AS dan terus meningkat.
Yang menarik, kehadiran Truecaller di iOS juga tumbuh. Dari kurang dari 5% total unduhan pada 2020-2021, kini menjadi sekitar 11-12%. Ini menandakan pergeseran ke pasar bernilai lebih tinggi. Truecaller telah meluncurkan ID penelepon real-time untuk iPhone pada awal 2025 dan terus memperbarui fitur untuk mengejar paritas dengan aplikasi Android-nya. Namun, Apple baru-baru ini memperluas kemampuan penyaringan panggilan bawaannya, yang bisa mengurangi kebutuhan akan aplikasi pihak ketiga.
Pilar lain dari strategi monetisasi Truecaller adalah layanan enterprise, Truecaller for Business, yang memungkinkan perusahaan memverifikasi identitas dan berkomunikasi dengan pelanggan. Segmen ini tumbuh 39% dalam mata uang konstan pada 2025. Perusahaan juga memperluas platform secara global dengan membuka layanan chat kepada mitra dan menawarkan ID penelepon bisnis terverifikasi.
Sementara itu, bisnis langganan konsumen premium juga terus bertambah. Truecaller kini memiliki lebih dari 4 juta pelanggan berbayar di seluruh dunia, yang memilih fitur seperti perlindungan spam canggih, penyaringan panggilan berbasis AI, dan pengalaman bebas iklan.
Namun, Truecaller juga tidak luput dari sorotan tajam terkait praktik pengumpulan data. Sebuah investigasi oleh The Caravan mempertanyakan praktik persetujuan dan pengumpulan data, terutama di India yang saat itu belum memiliki undang-undang perlindungan data yang ketat. Truecaller membantah tuduhan tersebut dan menegaskan kepatuhan terhadap peraturan yang berlaku, namun perdebatan ini menyoroti tantangan besar: bagaimana menyeimbangkan utilitas, skala, dan privasi pengguna.
Di tengah semua tekanan ini, CEO Rishit Jhunjhunwala tetap optimistis. Ia melihat ruang pertumbuhan yang signifikan dengan meningkatnya kompleksitas komunikasi, di mana panggilan spam dan penipuan menjadi semakin canggih berkat kemajuan AI. Truecaller berencana memperluas tiga aliran pendapatan — iklan, layanan enterprise, dan langganan premium — untuk mempertahankan pertumbuhan di berbagai pasar.
Baca Juga:
Apakah optimisme ini cukup? Jawabannya mungkin tergantung pada seberapa cepat Truecaller bisa beradaptasi. Identifikasi penelepon perlahan bergeser dari aplikasi mandiri ke infrastruktur jaringan dan sistem operasi ponsel itu sendiri. Cegah Panggilan Spam kini bukan lagi monopoli Truecaller.
Di India, inisiatif CNAP dari regulator telekomunikasi yang menampilkan nama penelepon berdasarkan data KYC di tingkat jaringan, tumpang tindih dengan sebagian layanan inti Truecaller. Jhunjhunwala justru melihat CNAP sebagai validasi atas masalah yang selama ini dipecahkan Truecaller, bukan sebagai gangguan. “Truecaller beroperasi sebagai platform global dengan lapisan intelijen yang jauh lebih kaya dan dinamis — mencakup deteksi spam, pencegahan penipuan, identitas bisnis, dan konteks pengguna di seluruh panggilan dan pesan,” ujarnya.
Namun, investor tampaknya belum sepenuhnya yakin. Saham Truecaller telah turun sekitar 37% sepanjang tahun ini saja. Fitur Baru seperti AI Assistant dan Family Protection mungkin menarik, namun belum cukup untuk membalikkan sentimen pasar.
Pertanyaan besarnya kini: Akankah Truecaller berhasil bertransformasi dari aplikasi identifikasi penelepon menjadi platform komunikasi yang lebih luas? Atau akan tergerus oleh raksasa teknologi dan operator telekomunikasi yang mulai membangun kemampuan serupa? Satu hal yang pasti, perjalanan Truecaller ke depan akan menjadi studi kasus menarik tentang bagaimana sebuah perusahaan yang tumbuh besar bisa bertahan ketika fondasi pertumbuhannya mulai goyah.
Apakah Anda masih mengandalkan Truecaller untuk menyaring panggilan? Atau sudah beralih ke solusi bawaan ponsel Anda? Versi Terbaru untuk iPhone mungkin menjadi salah satu upaya mereka untuk tetap relevan, namun persaingan ke depan akan semakin ketat.




