Riset: Penjahat Dunia Maya Makin Pintar “Menyamar”

Telset.id, Jakarta – Sophos mengumumkan hasil riset yang mengindikasikan tren peningkatan aksi kejahatan di dunia maya, dan menyeleksi negara-negara yang secara spesifik menjadi sasaran ransomware dan serangan berbahaya lainnya di dunia maya.

Riset ini meliputi informasi dari jutaan endpoint di seluruh dunia dan telah dianalisa oleh tim di SophosLabs. Untuk  menarik lebih banyak korban dengan serangan mereka, para penjahat dunia maya menggunakan modus baru.

Menurut Sophos, beberapa modus yang digunakan para hacker antara lain, membuat spam yang didesain khusus dengan menggunakan bahasa daerah setempat, memakai kedok berbagai merek dan metode pembayaran yang dikenal masyarakat yang menjadi target.

Ransomware secara cerdik menyamar sebagai pemberitahuan email otentik, lengkap dengan logo palsu, lebih dipercaya, dan mengundang untuk diklik. Karena itu lebih menguntungkan secara finansial bagi para penjahat.

Untuk lebih efektif lagi, email penipuan ini sekarang meniru perusahaan pos lokal, kantor pajak, dan lembaga penegak hukum dan perusahaan-perusahaan penyedia layanan umum, termasuk pemberitahuan palsu pengiriman barang, pengembalian uang, tilang dan tagihan listrik.

“Peningkatan spam dimana tata bahasa dan penulisan pesannya dibuat sangat sempurna. Anda akan sulit membedakan antara email palsu dan yang asli,” kata Chester Wisniewski, penasihat keamanan senior di Sophos.

Lebih lanjut Wisniewski mengatakan, mengetahui strategi yang digunakan para penjahat dunia maya di area Anda menjadi aspek penting dari keamanan. Para peneliti juga melihat sejarah tren dari berbagai jenis ransomware yang berbeda yang menargetkan area tertentu.

Misalnya, versi CryptoWall kebanyakan mencari korban di AS, Inggris, Kanada, Australia, Jerman dan Perancis. Sedangkan TorrentLocker menyerang terutama di Inggris, Italia, Australia dan Spanyol, dan TeslaCrypt fokus mengincar pengguna di Inggris, AS, Kanada, Singapura dan Thailand.

Analisis juga menunjukkan Threat Exposure Rate (TER) untuk berbagai negara selama tiga bulan pertama 2016. Meskipun ekonomi barat menjadi target utama, namun mereka biasanya memiliki TER lebih rendah.

Negara dengan peringkat TER terendah termasuk Perancis sebesar 5,2%, Kanada (4,6%), Australia (4,1%), AS (3%), dan Inggris (2,8%). Sementara negara-negara dengan persentase tertinggi endpoint terkena serangan malware antara lain Aljazair (30,7%, Bolivia (20,3%), Pakistan (19,9%), China (18,5%), dan India (16,9%).

“Pencucian uang juga didesain khusus agar lebih menguntungkan. Pemrosesan kartu kredit dapat beresiko bagi para penjahat, sehingga mereka mulai menggunakan metode pembayaran Internet anonim untuk memeras uang dari korban ransomware,” kata Wisniewski. (MS/HBS)

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest Articles

- Advertisement -