📑 Daftar Isi

Tiga operator seluler AS tolak Starlink MVNO

Operator AS Tolak MVNO Starlink, Tapi Masa Depan Berbeda

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Tiga operator AS (T-Mobile, Verizon, AT&T) tolak Starlink MVNO secara langsung maupun tidak langsung
  • Analis prediksi tekanan kompetitif akan paksa operator berubah pikiran
  • Starlink target 20 juta pelanggan AS dalam 5 tahun jika sukses skalabilitas
  • AT&T, T-Mobile, atau Verizon kandidat pertama jalin kesepakatan MVNO
  • Harga layanan satelit diperkirakan turun tapi tidak murah

Telset.id – Tiga operator seluler terbesar Amerika Serikat—T-Mobile, Verizon, dan AT&T—secara langsung maupun tidak langsung menyatakan penolakan terhadap ide Starlink MVNO. Namun, analis industri memperkirakan tekanan kompetitif akan memaksa salah satu dari mereka untuk berubah pikiran dalam waktu dekat.

Dalam laporan yang diterbitkan PhoneArena pada 28 Mei 2026, ketiga perusahaan yang dikenal sebagai MNO (Mobile Network Operator) ini menolak memberikan akses grosir kepada Starlink. Sebagai MNO, mereka memiliki dan mengoperasikan infrastruktur jaringan sendiri, termasuk menara dan lisensi spektrum. Sementara itu, MVNO (Mobile Virtual Network Operator) tidak memiliki jaringan sendiri dan menyewa akses dari MNO untuk menjual layanan seluler di bawah mereknya sendiri.

Penolakan ini muncul di tengah meningkatnya ambisi Starlink di sektor telekomunikasi. SpaceX, perusahaan di balik Starlink, telah membangun aset spektrum yang signifikan dan dapat menggunakannya sebagai alat negosiasi untuk mendorong operator tradisional memberikan harga grosir yang lebih kompetitif dengan imbalan akses.

Fierce Network baru-baru ini menyelenggarakan webinar bertajuk “Direct-to-Cell Disruption: Analyzing the Starlink Mobile MVNO Opportunity”. Dalam diskusi tersebut, para analis membahas prospek Starlink Mobile untuk menjalin kesepakatan MVNO, meskipun tiga operator besar saat ini menyatakan tidak tertarik.

Menariknya, ketiga operator ini sebelumnya mengumumkan kemitraan yang tidak biasa. Proyek T-Satellite dari T-Mobile, hasil kolaborasi dengan SpaceX, menjadi yang paling populer saat ini. Jika mereka bersedia bersatu dengan Verizon dan AT&T, ini menandakan bahwa semua operator merasakan tekanan dari dominasi Starlink yang semakin dekat.

Para analis berpendapat bahwa seiring pertumbuhan ambisi Starlink, operator tradisional mungkin pada akhirnya harus berkompromi, terutama jika jaringan keempat yang besar mulai terlihat realistis. Jika jalur langsung gagal, Starlink masih memiliki alternatif seperti membeli MVNO yang sudah ada atau bekerja melalui perantara yang menjual kembali akses jaringan.

Proyeksi 20 Juta Pelanggan di AS

Beberapa perkiraan menunjukkan bahwa Starlink Mobile dapat mencapai sekitar 20 juta pelanggan di Amerika Serikat dalam waktu sekitar lima tahun jika berhasil melampaui kasus penggunaan khusus seperti konektivitas darurat. Targetnya bukan hanya layanan terbatas, melainkan layanan seluler penuh secara nasional dan pada akhirnya global.

Begitu Starlink menjadi ancaman kompetitif yang kredibel, para analis yakin tiga operator besar akan mengubah sikap mereka. Pada titik itu, satu operator mungkin memutuskan bahwa lebih baik mendapatkan pendapatan grosir daripada mengambil risiko dilewati sepenuhnya.

Siapa yang Akan Bertindak Pertama?

Menurut Besen Group, AT&T bisa menjadi operator yang pertama menjalin kesepakatan MVNO dengan Starlink. Namun, dalam pernyataan yang sama, analis mengatakan mereka tidak akan terkejut jika T-Mobile yang bertindak lebih cepat. Sebaliknya, para ahli lain berpendapat bahwa Verizon adalah kandidat yang paling mungkin.

Apapun yang terjadi, Starlink MVNO kini tampaknya sudah di depan mata. Terlalu dini untuk memprediksi apa artinya ini bagi pengguna akhir, namun persaingan sengit diperkirakan akan terjadi. Harga untuk layanan konektivitas berbasis satelit bisa turun, tetapi teknologi ini masih baru, sehingga konsumen tidak boleh berharap mendapatkan konektivitas satelit hanya dengan $1–$2 di atas tagihan bulanan mereka.

Di Indonesia, perkembangan ini juga menarik untuk diamati. Teknologi serupa telah digunakan dalam konteks yang berbeda, seperti yang terlihat pada Mobile X-Ray untuk pemulihan pascabencana yang disediakan Fujifilm dan Kemenkes di Aceh. Sementara itu, inovasi di sektor mobile terus berkembang, termasuk fitur game changer untuk gamer mobile yang akan dibawa Android 17.

Komentar

Belum ada komentar.