Literasi Digital Indonesia Belum Baik, Jawa dan Sumatra Terendah

Indeks Literasi DIgital Indonesia
Kominfo, Siberkreasi dan Katadata merilis Survei Indeks Literasi Digital Nasional 2020 (Naufal/Telset.id)

Telset.id, Jakarta – Kominfo, Siberkreasi bersama Katadata merilis hasil survei Literasi Digital Nasional 2020. Dari indeks 1 hingga 5, literasi digital Indonesia masuk kategori sedang dengan nilai 3,47 poin.  

Menurut Research Director Katadata, Mulya Amri, literasi digital belum cukup baik dengan hanya meraih skor 3,47 poin saja. Oleh sebab itu, indeksnya harus ditingkatkan kembali agar mencapai skor 4 bahkan 5 poin.

“Ini masih menjadi PR kita bersama. Kita gak boleh puas karena masih kategori sedang,” jelas Amri melalui konferensi pers virtual pada Jumat (20/11/2020). 

Pada riset yang dilakukan sejak 18 hingga 31 Agustus 2020 ini, dijelaskan pula sub indeks lain, seperti informasi dan literasi data, komunikasi dan kolaborasi, keamanan, dan kemampuan teknologi. 

Masing-masing nilai dari sub indeks tersebut beragam. Skor tertinggi adalah sub indeks kemampuan teknologi dan keamanan dengan skor mencapai 3,66 poin.

{Baca juga:  Menkominfo Rapat dengan Operator Seluler Bahas Pemerataan Internet}

Sedangkan skor terendah adalah sub indeks informasi dan literasi data dengan skor 3,17. Amri menyatakan, sub indeks ini harus ditingkatkan karena berkaitan dengan kemampuan masyarakat dalam mencerna informasi dan berpikir kritis.   

“Sub indeks literasi data mencerna informasi yang diterima dan berpikir kritis. Ini yang paling rendah,” katanya. 

Indeks Literasi Digital Jawa dan Sumatra Terendah

Dalam riset terbaru, dijelaskan juga mengenai indeks literasi digital berdasarkan tiga wilayah yang mencakup Indonesia wilayah barat yang meliputi Jawa dan Sumatra, Indonesia wilayah tengah meliputi Bali, Kalimantan, dan Sulawesi, serta Indonesia wilayah timur seperti Maluku dan Papua. 

Hasil menunjukan bahwa indeks literasi digital di Indonesia wilayah tengah cenderung lebih tinggi dengan skor mencapai 3,57 poin. Indonesia wilayah timur mendapat skor 3,44 dan Indonesia wilayah barat terendah dengan 3,43. 

Di sini menariknya. Indonesia bagian barat merupakan wilayah yang mendapatkan akses internet lebih mudah dibandingkan wilayah lainnya. Namun, justru indeks literasi digitalnya paling rendah.

“Ini yang kemudian menjadi cukup menarik kita cukup melihat indonesia wilayah barat sudah akses internetnya mudah dan banyak mengakses internet namun indeks digitalnya seperti ini,” tambah Amri. 

Indeks Literasi DIgital Indonesia
Indeks Literasi Digital Nasional 2020 (Sumber gambar : Kominfo)

Lebih lanjut, indeks literasi digital nasional 2020 memiliki korelasi dengan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pengenalan hoaks, penggunaan internet, dan wilayah. 

Ternyata, usia muda khususnya generasi Z dan generasi Y memiliki indeks literasi yang tinggi sekitar 25 persen dan 13 persen.

Untuk jenis kelamin, kaum pria memiliki indeks literasi digital yang lebih tinggi dengan perempuan, tepatnya sebesar 26 persen. 

“Indeks literasi digital laki-laki cenderung lebih tinggi,” tutur Amri. 

Kemudian untuk jenjang pendidikan, masyarakat dengan yang memiliki latar pendidikan pendidikan tinggi cenderung memiliki indeks literasi yang juga tinggi sebesar 11%.

{Baca juga: Kominfo Bakal Hapus Video Syur Mirip Gisel dari Medsos}

Riset kolaborasi antara Kominfo, Siberkreasi, dan Katadata ini juga menemukan fakta bahwa indeks literasi digital nasional 2020  memiliki korelasi dengan tingkat pengenalan hoaks di mana masyarakat lebih mampu mengenali hoaks. 

Disebutkan, masyarakat yang memiliki indeks tertinggi adalah masyarakat yang penggunaan internetnya tidak intensif dan juga tinggal di luar Jawa. 

Indeks Literasi DIgital Indonesia
Korelasi indeks Literasi Digital Nasional 2020 dengan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, tingkat pengenalan hoaks, penggunaan internet dan wilayah (Sumber : Kominfo)

Sekedar informasi, survei ini dilakukan dengan menggunakan metode wawancara tatap muka dengan populasi target seluruh warga Indonesia yang mengakses internet berusia 13 tahun hingga 70 tahun.

Seluruh sampel dalam survei di 34 provinsi ini berjumlah 1.670 responden yang diperoleh dengan metode multistage random sampling. (NM/MF)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here