“Daripada Bikin Isu Monopoli, Lebih Baik Perluas Layanan”

Penulis:Bayu Sadewo
Terbit:
Diperbarui:23 Februari 2018
⏱️4 menit membaca
Bagikan:

Telset.id, Jakarta – Pernyataan Indosat Ooredoo yang menuding Telkomsel telah melakukan praktek monopoli karena terlalu dominan di luar Pulau Jawa dianggap tidak tepat oleh sejumlah pengamat. Pasalnya, selama ini Indosat dan operator lainnya enggan memperluas cakupan layanannya di luar Jawa.

Sebelumnya, Indosat mengeluhkan di industri telekomunikasi Indonesia telah terjadi persaingan yang tidak sehat. Indosat menuding penguasaan pasar luar Jawa yang sangat besar oleh Telkomsel telah mengakibatkan terjadinya praktik monopoli.

[Baca juga: Indosat Tuding Ada Praktek Monopoli di Luar Jawa]

Menanggapi tudingan tersebut, Telkomsel menegaskan bahwa dominasinya di luar Pulau Jawa bukan merupakan praktik monopoli. Telkomsel justru menuding balik bahwa selama ini operator lain lebih fokus membangun di Pulau Jawa dan kota besar yang secara bisnis lebih menguntungkan.

[Baca juga: Dituding Monopoli, Telkomsel: Cuma Kami yang Mau ke Pelosok]

Penegasan Telkomsel itu dibenarkan oleh Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Kristiono, yang menilai tidak ada yang salah dengan dominasi Telkomsel di luar Jawa.

Menurutnya, hanya Telkomsel yang agresif dan konsisten mengembangkan cakupan layanannya ke luar Jawa, sementara Indosat operator lainnya tidak ada yang berani melakukan ekspansi secara besar-besaran ke luar Jawa.

“Wajar Telkomsel menguasai pasar di luar Jawa, karena mereka konsisten mau membangun, sementara operator lain yang teriak-teriak protes itu mau membangun seperti Telkomsel apa gak?” ujar Kristiono di Jakarta, Senin (20/6/2016).

Dia mengingatkan, bahwa pasar seluler Indonesia yang terbuka sangat ditentukan oleh mekanisme pasar. Dalam menjalankan bisnis seluler itu dikenal 3C, yakni Coverage, Capacity, Content. Dari ketiganya, coverage menjadi kunci utama dalam bisnis seluler.

“Nah, kalau sekarang coverage atau jangkauan Telkomsel paling luas, itu karena mereka mau membangun jaringan. Jadi wajar kalau mereka paling luas dan banyak pelanggan,” jelasnya.

Menurut Kristiono, operator yang protes itu sebaiknya juga berkaca apakah sudah memenuhi kewajibannya untuk membangun sesuai modern licensing yang mereka peroleh dan dijanjikan.

“Kalau sekarang mereka mengeluh Telkomsel menguasai pasar di luar Jawa, sebaiknya mereka juga melihat kembali pada kewajiban membangunnya, apakah sudah sesuai modern licensing yang didapat dan dijanjikan atau belum,” ucap Kristiono.

Karena menurutnya, agresifitas dari operator untuk membangun jaringan itu adalah kunci untuk mereka dapat menguasai pasar. Oleh sebab itu, dia menganjurkan operator lainnya lebih baik berbenah dan segera memperluas layanan mereka ke luar Jawa.

Kristiono juga meminta operator seluler jangan menggunakan alasan tak bisa ekspansi di luar Jawa karena beban biaya interkoneksi, karena sebenarnya biaya interkoneksi tidak terlalu signifikan dan bukan menjadi faktor penentu.

“Komponen biaya interkoneksi itu tidak terlalu signifikan, dan tidak bisa dijadikan alasan, karena sebenarnya biaya interkoneksi muncul akibat adanya perbedaan coverage layanan dari para operator,” tegasnya.

Lanjut halaman berikutnya

Telkomsel BTS di Maluku Utara

Tidak Ada Monopoli Pasar

Pernyataan senada diungkapkan oleh Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB, M Ridwan Effendi. Menurutnya, monopoli pasar di industri telekomunikasi adalah hal yang hampir tak mungkin bisa dilakukan.

Ridwan mengungkapkan, bahwa operator akan sulit melakukan monopoli pasar, karena tidak mungkin semua orang di satu wilayah hanya memilih pada satu layanan operator tertentu saja. Kalaupun dominan, itu tergantung luas cakupan dari operator.

“Pelanggan itu tidak mungkin memilih operator yang cuma punya satu BTS di tengah kota saja, karena seluler itu sangat mobile. Pelanggan kan maunya kemana mereka pergi tetap dapat sinyal, agar bisa terus terhubung,” kata Ridwan.

Makanya, menurut Ridwan, Telkomsel bisa dominan di luar Jawa karena mereka lebih agrasif membangun jaringannya, hingga cakupan layanannya lebih luas dibanding operator lain di Indonesia.

“Ini kan sebenarnya cuma soal mau membangun atau gak. Telkomsel paling agresif membangun jaringan di mana-mana, termasuk di luar Jawa, makanya wajar mereka punya banyak pelanggan,” tuturnya.

Dia tidak sependapat jika pasar di luar Jawa dimonopoli oleh operator dominan saja. Karena sebenarnya Telkomsel bukan operator pertama yang mendapatkan lisensi penyelenggaraan jaringan. Cuma Telkomsel yang paling konsisten membangun jaringan.

“Sebelum ngomong monopoli, sebaiknya operator yang bersangkutan ditanya dulu apakah sudah membangun jaringan sesuai komitmen, atau cuma sekedar memenuhi aturan saja,” ujar Ridwan.

Ia juga mempertanyakan keluhan operator yang mengatakan sulit bersaing dengan operator dominan. “Kalau ada yang ngeluh bilang sulit bersaing dengan operator dominan, tanya balik aja, lisensi dapatnya sama, kok bangunnya beda,” tandasnya.

Mantan anggota BRTI ini berpendapat, bahwa monopoli sebenarnya tidak dilarang, tapi prakteknya yang tidak dibolehkan. Menurutnya, apa yang dilakukan Telkomsel sekarang bukan praktek monopoli.

[Baca juga: Indosat Tabuh Genderang Perang Tarif Operator]

Dia juga mengingatkan, kalau saat ini masyarakat sudah pintar memilih layanan yang mereka butuhkan. Ada yang memilih tarif murah, tapi banyak juga yang tidak masalah tarifnya lebih mahal sedikit, asalkan cakupan layanannya luas.

“Perbedaan tarif itu tak bisa dilepaskan dari besarnya investasi yang dikeluarkan operator untuk membangun infrastruktur yang lebih mahal di luar Jawa. Jadi wajar tarif Telkomsel sedikit lebih mahal dibanding operator lain,” kata Ridwan menutup pembicaraan.[HBS]