China-Indonesia Perluas Kerja Sama Energi Baru, Delegasi RI Debut di Taiyuan

China-Indonesia Perluas Kerja Sama Energi Baru, Delegasi RI Debut di Taiyuan

Penulis:Fernando Yehezkiel
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:

Telset.id – China dan Indonesia terus mengakselerasi kerja sama di sektor energi baru, mulai dari pembangunan pembangkit listrik tenaga surya hingga pengembangan rantai pasokan dan manufaktur. Langkah ini sejalan dengan upaya Indonesia mempercepat transisi energi, dan pada Pameran Industri Energi Internasional (Taiyuan) China 2026, delegasi Indonesia untuk pertama kalinya berpartisipasi di ajang tersebut.

Energi baru menjadi topik utama yang dibahas perusahaan-perusahaan dari kedua negara dalam pameran yang baru-baru ini digelar di Provinsi Shanxi itu. Kehadiran delegasi Indonesia menandai babak baru kerja sama energi baru China-Indonesia yang sebelumnya lebih banyak berjalan melalui proyek-proyek individual.

Qiu Xingyi, perwakilan peserta pameran dari Indonesia, mengatakan bahwa China dan Indonesia memiliki potensi besar untuk bekerja sama di sektor energi baru, seperti tenaga angin dan fotovoltaik, selain batu bara. Menurut Qiu, dalam beberapa tahun terakhir perusahaannya telah membantu sejumlah perusahaan China mengembangkan bisnis energi baru di Indonesia.

Provinsi Shanxi, tempat pameran tersebut digelar, merupakan provinsi penghasil energi utama di China dan tengah aktif mendorong transisi energi serta meningkatkan porsi energi baru dalam sistem energinya. Pada 2025, kapasitas terpasang energi baru dan energi bersih di Shanxi mencapai 90,48 juta kilowatt, meningkat 18,29 juta kilowatt secara tahunan.

Kapasitas tersebut menyumbang 55,1 persen dari total kapasitas terpasang pembangkit listrik di provinsi itu dan untuk pertama kalinya melampaui pembangkit listrik tenaga batu bara. Capaian ini menjadi gambaran bagaimana transisi energi berjalan di salah satu wilayah penghasil energi utama China.

“Kami berharap dapat memanfaatkan pameran ini untuk menemukan lebih banyak teknologi dan produk energi baru yang dapat diterapkan di Indonesia,” kata Liu Chen Zhi, perwakilan dari sebuah perusahaan energi Indonesia.

Area ekshibisi khusus untuk energi baru dan sistem tenaga listrik baru juga disediakan di pameran tersebut untuk menampilkan teknologi, peralatan, produk, dan model bisnis terbaru di sektor energi baru. Area ini menarik banyak ekshibitor dari Indonesia untuk melakukan pertukaran dan konsultasi.

Indonesia kaya akan sumber daya energi terbarukan, termasuk tenaga surya, tenaga air, dan energi panas bumi. Sementara itu, China memiliki kemampuan industri yang kuat dalam manufaktur peralatan energi baru, pembangunan proyek, penyimpanan energi, dan pengoperasian digital.

Xu Zaishan, wakil ketua eksekutif Indonesia China Business Council (ICBC), mengatakan Indonesia berharap dapat memanfaatkan teknologi China yang telah matang untuk mengembangkan berbagai proyek terkait.

“Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kebutuhan energi yang sangat besar, tetapi porsi energi baru dalam bauran energinya masih relatif rendah. Sementara itu, China telah mengembangkan teknologi yang relatif matang di sektor energi baru. Di sinilah kedua negara dapat menemukan peluang kerja sama,” ujar Xu.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah proyek energi baru yang melibatkan perusahaan China telah mulai beroperasi di Indonesia. Proyek PV terapung Cirata di Jawa Barat yang dibangun oleh PowerChina memiliki total kapasitas terpasang 192 megawatt dan merupakan salah satu proyek tenaga surya terapung unggulan di Indonesia dan Asia Tenggara.

Proyek tersebut berhasil terhubung ke jaringan listrik dengan kapasitas penuh pada 2023 dan sejak saat itu memasok listrik bersih ke jaringan listrik Jawa-Madura-Bali. Proyek tersebut juga berkontribusi terhadap pelatihan keterampilan dan penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Pada 2024, proyek PV Karawang berkapasitas 100 megawatt di Indonesia yang dibangun oleh perusahaan China secara resmi diserahterimakan untuk dioperasikan. Proyek ini dapat menghasilkan lebih dari 150 juta kilowatt-jam listrik bersih per tahun, memenuhi kebutuhan listrik tahunan sekitar 112.000 rumah tangga, serta mengurangi emisi karbon dioksida sekitar 114.700 ton. Pembangunannya juga menciptakan lebih dari 1.000 lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

Kerja sama juga semakin meluas ke rantai pasokan industri energi baru. Pada Agustus 2025, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia Bahlil Lahadalia melakukan pembicaraan dengan perusahaan-perusahaan PV tenaga surya dalam kunjungannya ke China guna menjajaki perluasan kerja sama di bidang rantai industri dan ekosistem tenaga surya.

Pemerintah Indonesia mengatakan pihaknya berharap dapat mempercepat pengembangan sel surya, modul, penyimpanan energi, serta industri terkait melalui masuknya investasi dan teknologi.

Kerja sama industri juga berkembang dari pembangunan proyek menuju manufaktur. Menurut informasi yang dirilis Kantor Ekonomi dan Komersial Kedutaan Besar Republik Rakyat China di Republik Indonesia, industri-industri dengan investasi China, seperti baterai energi baru dan kendaraan listrik, berkembang pesat.

Perkembangan tersebut membantu Indonesia secara bertahap beralih dari eksportir bahan mentah menjadi basis global penting untuk pengolahan logam dan industri energi baru. Pergeseran ini menunjukkan kerja sama energi baru tidak lagi berhenti pada pembangunan pembangkit, tetapi juga menyentuh rantai nilai industri yang lebih luas.

Pada tingkat kebijakan, kerja sama energi baru antara China dan Indonesia juga terus mendapat dukungan. Dalam Forum Energi China-Indonesia ketujuh yang digelar pada September 2024, kedua pihak menyatakan akan memperkuat kerja sama di bidang energi terbarukan dan teknologi energi baru sembari memperkokoh kerja sama energi tradisional.

Pihak Indonesia mengatakan akan mengoptimalkan potensi besar negara tersebut di sektor energi bersih, termasuk fotovoltaik, tenaga angin, dan tenaga air. Indonesia juga menyatakan harapan untuk semakin memperkuat pertukaran dan kerja sama dengan China di bidang energi bersih dan rendah karbon.

Sejumlah pelaku industri mengatakan bahwa seiring semakin dalamnya kerja sama China-Indonesia dalam teknologi, rantai industri, dan sumber daya manusia di sektor energi baru, kerja sama tersebut diharapkan akan berkembang melampaui proyek-proyek individual menuju koordinasi yang lebih luas di seluruh rantai industri.

Hal ini akan menciptakan lebih banyak peluang bagi transisi energi Indonesia dan pengembangan perusahaan energi baru China di kancah global. Sejalan dengan itu, inovasi di sektor komputasi dan efisiensi energi juga terus berkembang, seperti yang terlihat pada upaya hemat energi memori yang tengah diteliti ilmuwan.

Bagi Indonesia, perluasan kerja sama ini menjadi bagian dari upaya mempercepat transisi energi di tengah kebutuhan listrik yang terus tumbuh. Sementara bagi perusahaan energi baru China, Indonesia menjadi pasar sekaligus mitra produksi yang membuka jalan ekspansi di kancah global.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.