Telset.id – Klaim Elon Musk bahwa Starlink akan mengancam operator seluler Amerika Serikat seperti T-Mobile, Verizon, dan AT&T dibantah tegas oleh CEO T-Mobile. Srini Gopalan menilai ancaman tersebut telah dibesar-besarkan dan mempertanyakan posisi Starlink di pasar telekomunikasi.
Dalam earnings call terbaru, Musk menyatakan jaringan seluler terestrial Starlink “mungkin” akan menawarkan konektivitas dan bandwidth yang lebih baik dibandingkan penyedia layanan seluler. Bahkan, Musk membayangkan Starlink pada akhirnya akan “menghantarkan mayoritas internet dunia”. Gwynne Shotwell, presiden dan chief operating officer SpaceX yang memiliki Starlink, juga menambahkan bahwa perusahaan tersebut berharap dapat “mengakuisisi cukup banyak” pelanggan dari jaringan seluler yang ada.
Namun, dalam wawancara dengan Financial Times, Srini Gopalan memberikan pandangan berbeda. “Anda harus bertanya, ‘apa celah di pasar yang ingin mereka layani?'” ujar Gopalan. “Saya selalu lebih suka memulai percakapan ini dari sisi pelanggan: mengapa pelanggan membeli layanan seluler baru? Ke mana mereka pergi? Apa diferensiasi mereka? Jelas bukan memiliki jaringan yang luas.”
Pernyataan Gopalan ini menjadi kontras dengan optimisme Musk. Meski demikian, Musk sebenarnya telah menjawab pertanyaan tentang diferensiasi tersebut dengan klaim Starlink memiliki bandwidth lebih tinggi dan konektivitas lebih baik. Menariknya, T-Mobile sendiri telah menjalin kemitraan dengan Starlink untuk memanfaatkan satelit guna meningkatkan jangkauan di area pedesaan.

Gopalan justru menyarankan bahwa kemitraan semacam ini adalah cara yang seharusnya berjalan. Menurutnya, konektivitas satelit bersifat “komplementer” terhadap jaringan yang sudah ada, bukan pengganti. Pandangan ini menunjukkan bahwa operator seluler tradisional melihat satelit sebagai pelengkap, bukan pesaing utama.
Perseteruan wacana ini terjadi di tengah persiapan SpaceX untuk meluncurkan layanan Starlink Mobile yang dijadwalkan rilis pada akhir 2027. Layanan seluler berbasis satelit ini diharapkan menjadi alternatif bagi pengguna di area yang tidak terjangkau jaringan konvensional. Namun, jadwal peluncuran yang masih cukup jauh memberikan waktu bagi operator seluler seperti T-Mobile untuk memperkuat daya saing mereka.
Banyak hal pada akhirnya akan bergantung pada harga layanan dan keputusan Starlink untuk terus memberikan akses satelitnya kepada T-Mobile setelah layanan rivalnya diluncurkan. Jika Starlink menarik akses tersebut, operator seluler konvensional bisa kehilangan salah satu cara untuk memperluas jangkauan mereka di area terpencil.
Baca Juga:
Kemitraan yang Sudah Berjalan
T-Mobile dan Starlink sebenarnya sudah memiliki hubungan kerja sama yang erat. Operator seluler tersebut telah memanfaatkan satelit Starlink untuk memperluas jangkauan sinyal di wilayah pedesaan Amerika Serikat yang selama ini sulit dijangkau menara seluler konvensional. Kemitraan ini menjadi bukti bahwa teknologi satelit dan jaringan seluler tradisional dapat berjalan beriringan.

Gopalan menekankan bahwa pendekatan komplementer ini adalah masa depan industri telekomunikasi. Alih-alih saling mengancam, operator seluler dan penyedia layanan satelit justru bisa saling melengkapi untuk memberikan layanan terbaik bagi pelanggan. Pandangan ini tentu bertolak belakang dengan visi Musk yang lebih ambisius.
Musk sebelumnya juga menyatakan bahwa Starlink akan menjadi pemain dominan di industri internet global. Ambisi ini sejalan dengan laporan keuangan SpaceX yang menunjukkan dominasi pendapatan dari bisnis Starlink. Pertumbuhan pendapatan SpaceX yang signifikan, termasuk kenaikan 92 persen, sebagian besar ditopang oleh layanan internet satelit ini.
Waktu yang Masih Panjang
Layanan Starlink Mobile yang digadang-gadang menjadi pesaing serius operator seluler belum akan hadir hingga akhir 2027. Ini berarti T-Mobile, Verizon, AT&T, dan operator lainnya masih memiliki waktu untuk mempersiapkan strategi agar tetap kompetitif di pasar.
Pertanyaan besar yang belum terjawab adalah apakah Starlink akan terus memberikan akses satelitnya kepada T-Mobile setelah layanan rivalnya diluncurkan. Jika tidak, operator seluler konvensional mungkin perlu mencari alternatif lain untuk memperluas jangkauan mereka di area yang sulit dijangkau infrastruktur darat.
Sementara itu, persaingan di industri telekomunikasi semakin menarik untuk disaksikan. Di satu sisi, ada visi ambisius Musk yang ingin mendominasi internet global. Di sisi lain, ada operator seluler yang percaya bahwa kolaborasi adalah kunci masa depan industri ini. Hanya waktu yang akan menjawab siapa yang benar dalam perdebatan ini.





Komentar
Belum ada komentar.