Telset.id â Apple sempat menghapus Telegram dari App Store selama kurang lebih satu jam pekan ini akibat adanya konten pelecehan seksual anak (CSAM). Namun, keputusan tersebut memicu pertanyaan besar: mengapa platform milik Elon Musk, X, tetap dipertahankan meski menghadapi kontroversi serupa?
Telegram, aplikasi pesan dengan lebih dari 1 miliar pengguna di seluruh dunia, dikembalikan ke App Store setelah konten ilegal tersebut dihapus. Apple kemudian mengonfirmasi bahwa penghapusan dilakukan karena pelanggaran kebijakan moderasi konten terkait CSAM. Insiden ini menjadi sorotan karena menghadirkan perbandingan yang kontras dengan perlakuan Apple terhadap X.
Perbedaan penegakan kebijakan ini memunculkan spekulasi bahwa faktor politik lebih berperan dibandingkan faktor teknis. Anupam Chander, profesor hukum dan teknologi di Georgetown, menyatakan bahwa ketika sebuah perusahaan menegakkan kebijakan moderasi terhadap seluruh platform, mereka harus siap menghadapi dampak balik yang terjadi.
Kontroversi Telegram dan X
Telegram yang berkantor pusat di Dubai memiliki reputasi moderasi konten yang longgar. Pemerintah lokal mulai menekan aplikasi ini untuk menghapus konten dan memberlakukan pembatasan baru. Pada 2017, Telegram mulai menghapus konten terkait terorisme setelah mendapat tekanan dari Indonesia. Jerman sempat mempertimbangkan larangan pada 2022 atas tuduhan memfasilitasi ujaran kebencian.
Puncaknya terjadi pada 2024 ketika otoritas Prancis menangkap Pavel Durov, CEO sekaligus pendiri Telegram yang lahir di Rusia, atas tuduhan keterlibatan dalam transaksi ilegal dan CSAM. Penyelidikan Prancis terhadap Durov masih berlangsung hingga tahun lalu. Bulan lalu, Rusia menuduh Durov memfasilitasi terorisme karena diduga mengizinkan mata-mata Ukraina menggunakan Telegram untuk merencanakan serangan.
Menanggapi berbagai tekanan tersebut, Telegram mulai memperketat kebijakan moderasi kontennya. Perusahaan mengubah sikap terhadap moderasi pesan pribadi, menghentikan beberapa fitur yang âdisalahgunakanâ, termasuk fitur yang memungkinkan pengguna menemukan dan menghubungi orang di sekitar, serta mematuhi perintah pengadilan untuk memberikan informasi pengguna yang diduga melakukan aktivitas kriminal. Telegram juga meningkatkan deteksi materi ilegal di platformnya.
Sementara itu, X menghadapi kontroversi besar terkait fitur Grok AI yang diluncurkan akhir tahun lalu. Fitur ini memungkinkan pengguna mengedit gambar menggunakan chatbot AI, yang kemudian memicu penyebaran deepfake seksual terhadap orang dewasa dan anak-anak. Mantan perdana menteri Inggris mengutuk insiden ini dan mengajukan undang-undang deepfake, sementara Uni Eropa membuka penyelidikan terhadap platform tersebut.
Kelompok advokasi menyerukan penghapusan X dari App Store dan Google Play, namun Apple tidak pernah melakukannya. Ashley St. Clair, ibu dari salah satu anak Musk, bahkan menggugat X karena Grok menghasilkan gambar seksual non-konsensual terhadap dirinya. Sekelompok remaja juga menggugat xAI, perusahaan Musk yang menangani Grok, atas tuduhan chatbot menghasilkan gambar seksual mereka saat masih di bawah umur.
Baca Juga:
Perlakuan Berbeda Apple
Meskipun menghadapi tekanan besar, Apple justru berkomunikasi di belakang layar dengan tim X dan Grok. Apple meminta pengembang untuk âmembuat rencana meningkatkan moderasi kontenâ setelah menerima keluhan dan melihat liputan berita tentang skandal tersebut. Apple kemudian menemukan bahwa X âsecara substansial menyelesaikan pelanggarannyaâ, namun tim Grok diminta melakukan perubahan tambahan atau aplikasi bisa dihapus dari App Store.
Musk mengeluarkan pernyataan pada Januari bahwa siapa pun yang menggunakan Grok untuk membuat konten ilegal akan menghadapi konsekuensi yang sama seperti mengunggah konten ilegal. xAI kemudian menggugat seorang pria yang diduga menggunakan Grok untuk menghasilkan dan mendistribusikan CSAM. Selama periode ini, Apple tidak pernah menghapus X maupun Grok dari App Store.
âMenghapus X harus menjadi keputusan di tingkat tertinggi, keputusan yang mau menanggung konsekuensi politik, termasuk menghadapi Elon Musk yang sangat marah,â kata Chander. Apple tentu menyadari risiko tersebut. Pada 2022, Musk secara terbuka mengeluh bahwa Apple mencoba membatasi aplikasi Twitter, dan perselisihan itu berakhir dengan tur kantor Apple yang diberikan Tim Cook kepada Musk untuk menyelesaikan âkesalahpahamanâ tersebut.
Sebaliknya, Durov mengklaim bahwa Apple menghapus Telegram tanpa menghubungi perusahaannya terlebih dahulu. Apple menolak berkomentar mengenai perbedaan moderasi antara kedua aplikasi tersebut. Ini bukan pertama kalinya Apple menghapus Telegram; sebelumnya perusahaan juga pernah menghapus aplikasi tersebut pada 2018 karena pelanggaran CSAM yang serupa dalam periode singkat.
Apple sangat menjaga kerahasiaan proses pengambilan keputusan moderasinya, sehingga sulit untuk mengetahui secara pasti bagaimana perusahaan bekerja sama dengan pengembang di balik layar. Namun, tindakan Apple baru-baru ini menunjukkan bahwa aturan tersebut memiliki fleksibilitas, setidaknya ketika melibatkan miliarder terkaya di dunia.
Perbedaan perlakuan ini menyoroti kompleksitas moderasi konten di platform besar. Satu insiden konten ilegal bisa cukup untuk menghapus aplikasi dari toko aplikasi, namun X tetap bertahan meskipun chatbot AI di dalamnya menghasilkan gambar telanjang anak di bawah umur. Wajah Palsu AI dan Real World AI menjadi isu yang terus berkembang di industri teknologi.
Kasus ini menunjukkan bahwa kebijakan moderasi konten Apple tidak selalu konsisten. Faktor politik, pengaruh, dan hubungan personal tampaknya memengaruhi keputusan yang diambil. Bagi pengguna, situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang keadilan dan transparansi dalam penegakan kebijakan di platform digital besar.





Komentar
Belum ada komentar.