πŸ“‘ Daftar Isi

Kumpulan kabel tembaga bekas yang siap didaur ulang oleh BT dan EMR

BT Raup Rp43 Triliun dari Daur Ulang Kabel Tembaga Bekas

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • BT menandatangani kerja sama dengan EMR untuk memulihkan 200.000 ton tembaga dalam empat tahun
  • EMR telah membayar lebih dari USD 134 juta untuk beberapa ribu ton tembaga yang sudah diserahkan
  • BT dan Openreach telah memulihkan lebih dari 22.000 metrik ton tembaga sejak memulai upgrade jaringan
  • Harga tembaga mencapai rekor tertinggi lebih dari USD 14.000 per metrik ton akibat permintaan AI
  • Potensi pendapatan BT dari penjualan kabel bekas mencapai USD 2,7-2,8 miliar
  • Data center AI diprediksi menggunakan 194 gigawatt daya pada 2035 yang membutuhkan kabel tembaga

Telset.id – BT, penyedia telekomunikasi terbesar di Inggris, berpotensi meraup pendapatan hingga USD 2,8 miliar atau sekitar Rp43 triliun dari penjualan kabel tembaga bekas hasil upgrade jaringan fiber optiknya. Pendapatan besar ini muncul di tengah melonjaknya harga tembaga yang didorong permintaan besar dari industri data center AI.

Perusahaan menandatangani kerja sama dengan EMR, salah satu perusahaan daur ulang kabel terbesar di Inggris, untuk memulihkan sekitar 200.000 ton tembaga dalam kurun waktu empat tahun. Meski nilai total kesepakatan tidak diungkapkan, EMR telah membayar lebih dari USD 134 juta (GBP 99 juta) kepada BT untuk beberapa ribu ton tembaga yang sudah diserahkan.

Lonjakan harga tembaga ini tidak lepas dari meningkatnya kebutuhan listrik data center AI yang diprediksi mencapai 194 gigawatt pada 2035. Seluruh daya tersebut hanya bisa ditransfer melalui kabel logam, dan tembaga menjadi pilihan utama karena stabilitas, konduktivitas listrik yang lebih baik, daya tahan, serta performa termal yang unggul dibandingkan aluminium.

a bundle of wires for recycling

Daur Ulang Kabel Tembaga BT dan Openreach

BT bersama anak perusahaannya, Openreach, tengah melakukan upgrade menyeluruh jaringan telekomunikasi dari tembaga ke fiber optik. Proses migrasi ini membuat ribuan ton kabel tembaga bekas tidak lagi terpakai dan siap didaur ulang. Sejak memulai upgrade jaringan, BT telah memulihkan lebih dari 22.000 metrik ton tembaga dari sistemnya.

Jika seluruh material tersebut dijual di pasar terbuka, BT akan memperoleh pendapatan sekitar USD 187 juta. Namun, harga tembaga yang terus meroket akibat dorongan permintaan AI membuat potensi pendapatannya jauh lebih besar. Harga tembaga di pasar saat ini telah mencapai rekor tertinggi lebih dari USD 14.000 per metrik ton.

Pekerjaan upgrade jaringan ini diperkirakan akan berlanjut hingga tahun 2030-an. Openreach memperkirakan masih bisa memulihkan hingga 200.000 metrik ton material kabel tembaga. Dengan harga tembaga yang tinggi, perusahaan bisa menghasilkan estimasi pendapatan USD 2,7 hingga 2,8 miliar hanya dari penjualan kabel jaringan lama tersebut.

Selain kerja sama dengan EMR, BT dan Openreach juga berpeluang menjual tembaga hasil daur ulang secara langsung di pasar spot. Ini memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk memaksimalkan keuntungan dari material bekas yang mereka miliki.

Permintaan Tembaga dari Data Center AI

Booms AI mendorong permintaan besar di berbagai sektor industri, mulai dari produk berteknologi tinggi seperti chip memori dan penyimpanan, mesin jet, hingga material β€œeksotis” seperti elemen tanah jarang dan serat kain kaca. Namun, banyak orang tidak mengaitkan tembaga dengan data center AI, terutama karena PCB yang digunakan di server sering kali mengandung sangat sedikit logam ini.

Data center AI juga mulai beralih ke interkoneksi optik dan silikon fotonik, yang berarti jaringan internal data center semakin mengandalkan serat optik. Meski demikian, kebutuhan daya yang sangat besar tetap membutuhkan kabel tembaga untuk transfer listrik.

Seiring ekspansi para hyperscaler AI yang membangun lebih banyak data center, permintaan kabel tembaga akan meningkat. Penyedia utilitas juga perlu membeli lebih banyak kabel saat mereka meningkatkan jaringan listrik untuk memasok kebutuhan daya infrastruktur AI.

Kondisi ini menjadi situasi yang saling menguntungkan bagi BT, Openreach, dan pelanggannya. Masyarakat akan mendapatkan koneksi fiber end-to-end di rumah mereka dengan kecepatan dan keandalan yang lebih baik, sementara penyedia layanan mendapatkan diskon efektif untuk biaya upgrade jaringan yang mereka lakukan.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana transformasi digital dan pengembangan infrastruktur AI menciptakan nilai ekonomi baru dari aset yang sebelumnya dianggap usang. Kabel tembaga bekas yang tadinya hanya menjadi limbah elektronik kini berubah menjadi komoditas berharga di tengah lonjakan permintaan global.

[CONTENT_END]

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.