📑 Daftar Isi

Layar mobil BMW menampilkan aplikasi Apple CarPlay di dashboard

Apple CarPlay Ditinggalkan Pabrikan Mobil di 2026, Ini Alasannya

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️5 menit membaca
Bagikan:
  • General Motors mulai menghapus CarPlay dan Android Auto dari mobil listrik terbaru, termasuk Chevrolet Blazer EV
  • Mobil berbahan bakar bensin diperkirakan kehilangan dukungan saat platform komputasi GM rilis sekitar 2028
  • CarPlay kini mendukung lebih dari 800 model mobil, dengan 79 persen pembeli menolak model tanpa CarPlay
  • GM beralih ke Android Automotive yang menjalankan aplikasi langsung di mobil tanpa perlu ponsel
  • CarPlay Ultra jadi jawaban Apple, tapi baru tersedia di Aston Martin

Telset.id – Sejumlah pabrikan mobil besar mulai meninggalkan Apple CarPlay pada 2026. General Motors (GM) menjadi yang paling agresif dengan menghapus dukungan CarPlay dan Android Auto dari mobil listrik terbarunya, termasuk Chevrolet Blazer EV. Langkah ini mengubah pengalaman berkendara bagi pengguna iPhone yang selama ini mengandalkan CarPlay sebagai antarmuka utama di dashboard.

Keputusan tersebut menandai pergeseran besar dalam industri otomotif. Selama lebih dari satu dekade, CarPlay menjadi cara mudah menghubungkan iPhone ke sistem infotainment mobil. Namun, sebagian pabrikan kini menilai penyerahan kendali dashboard kepada Apple tidak lagi sejalan dengan strategi mereka, terutama untuk kendaraan listrik yang membutuhkan integrasi lebih dalam antara perangkat lunak dan kendaraan itu sendiri.

GM berencana menghapus dukungan CarPlay sepenuhnya. Setelah mobil listrik, perusahaan diperkirakan mulai mencabut dukungan dari mobil berbahan bakar bensin begitu platform komputasi terpusat mereka dirilis sekitar 2028. Mobil yang sudah ada tidak akan kehilangan dukungan secara mendadak, tetapi model-model baru hanya akan menyisakan alternatif buatan GM sendiri.

Kenapa Pabrikan Mulai Meninggalkan CarPlay

CarPlay menawarkan konsistensi sebagai kekuatan utamanya. Pengemudi bisa masuk ke mobil kompatibel mana pun dan melihat antarmuka yang sama, tanpa perlu memindahkan data atau membuat akun baru. Aplikasi di ponsel, termasuk kontak, langsung dapat diakses. Sebelum era CarPlay dan Android Auto, pengemudi terpaku pada sistem infotainment bawaan pabrikan yang tidak konsisten dan tidak tahan lama. MyFord Touch pada mobil Ford dan Lincoln hanya bertahan lima tahun, sementara BMW pernah mencoba menarik biaya 80 dolar AS per tahun untuk akses CarPlay.

Namun, bagi pabrikan, menyerahkan dashboard kepada Apple justru menjadi masalah. Mobil listrik membutuhkan integrasi lebih besar antara perangkat lunak dashboard dan kendaraan. Sejumlah fitur tidak cocok dengan CarPlay standar, termasuk pemanasan baterai (battery preconditioning) dan kontrol pengisian khusus pabrikan. CarPlay standar berjalan di atas perangkat lunak mobil dan berfungsi sebagai aplikasi mirroring ponsel, sehingga pengemudi harus keluar dari CarPlay saat membutuhkan fitur yang tidak didukung.

CarPlay sendiri kini mendukung lebih dari 800 model berbeda. Apple mengklaim pada WWDC 2022 bahwa 79 persen pembeli mobil tidak akan memilih model tanpa dukungan CarPlay, sementara survei yang lebih baru menyebut kehilangan CarPlay menjadi “deal breaker” bagi 55 persen penggunanya. Data ini menunjukkan bahwa dukungan CarPlay tetap penting bagi konsumen, meski pabrikan punya pertimbangan berbeda.

A BMW car screen showing CarPlay apps.

Bagi pabrikan, Apple yang mengendalikan bagian pengalaman di layar yang paling sering dilihat dan digunakan membuat mereka kehilangan kendali dan kekuatan. Sebagian perusahaan memutuskan kompromi ini tidak lagi menguntungkan. Dinamika ini juga terlihat di pasar otomotif global yang bergerak cepat, sebagaimana tercermin dari ekspor BYD melonjak dan persaingan kendaraan listrik yang memanas sepanjang 2026.

Strategi GM dan Tantangan CarPlay Ultra

GM menjadi pabrikan yang paling jauh mengubah arah terkait CarPlay. Mereka sudah mulai menghapus dukungan CarPlay dan Android Auto dari model listrik terbaru. Alternatif yang dibangun GM justru berbasis Android Automotive, sistem operasi mobil mandiri milik Google, bukan Android Auto. Alih-alih memindahkan aplikasi ponsel, Android Automotive menjalankan aplikasi langsung di mobil sehingga pengemudi tidak perlu menghubungkan smartphone sama sekali.

GM berargumen pendekatan ini memberi perangkat lunak pemahaman lebih dalam terhadap kendaraan. Navigasi menjadi contoh jelas: saat menjalankan sistem berbasis Android Automotive, Google Maps dapat memperhitungkan sisa daya dan estimasi jangkauan mobil listrik ke dalam perencanaan rute, termasuk menyarankan lokasi pengisian yang sesuai. Eksekutif GM Mike Hichme dalam wawancara 2023 menyebut ia tidak ingin sistem infotainment GM “bergantung pada seseorang yang memiliki ponsel” seperti saat ini.

Konsekuensinya, GM memiliki kendali lebih besar atas data saat pengemudi menggunakan layanan tersebut. Perusahaan dapat mempelajari lebih banyak tentang cara pengemudi memakai mobil, terutama saat merencanakan rute atau mengisi daya. Jika aplikasi bawaan mengandalkan koneksi data mobil alih-alih paket seluler ponsel, sebagian layanan bisa memerlukan langganan setelah masa gratis berakhir. Peluang menjual layanan terhubung di kemudian hari pun terbuka lebih lebar.

Namun, kendali tersebut membawa masalah kepercayaan. Pada Januari, FTC melarang General Motors menjual data pengemudi selama lima tahun setelah perusahaan diduga mengumpulkan dan menjual data perilaku tanpa persetujuan yang jelas.

Apple memiliki jawaban atas kritik bahwa CarPlay standar terlalu membatasi, yaitu CarPlay Ultra. Solusi ini jauh melampaui mirroring aplikasi iPhone ke layar mobil. CarPlay Ultra mencakup seluruh mobil, termasuk klaster instrumen, tempat ia dapat menampilkan kecepatan dan tekanan ban mobil bersama petunjuk Apple Maps. CarPlay Ultra mengelola sistem yang diakses pengemudi, termasuk radio dan kontrol iklim, sehingga pengemudi tidak perlu berpindah antarmuka. Pabrikan dapat membuat tema sendiri agar sesuai estetika mobil.

A mockup of CarPlay Ultra running on the instrument cluster inside an Aston Martin car.

Kekurangannya, pengemudi tetap membutuhkan iPhone. Keluhan GM soal ketergantungan pada iPhone tidak terpecahkan oleh CarPlay Ultra karena solusi ini masih mengandalkan daya pemrosesan ponsel. CarPlay Ultra juga tidak menyelesaikan masalah Apple itu sendiri; pabrikan harus berbagi data kendaraan dan bekerja sama erat dengan Apple untuk mengintegrasikan sistem. Bagi perusahaan seperti GM yang ingin memiliki seluruh pengalaman perangkat lunak, CarPlay Ultra justru dianggap langkah ke arah yang salah.

Itu mungkin alasan adopsi CarPlay Ultra berjalan lambat untuk saat ini. Aston Martin menjadi satu-satunya pabrikan yang menawarkannya, meski merek seperti Hyundai dan Kia menyatakan akan menyusul pada tanggal yang belum dikonfirmasi. Sementara itu, Tesla dan Rivian tidak pernah menawarkan dukungan CarPlay, walau Tesla dilaporkan pernah mengujinya.

Perkembangan ini terjadi di tengah lanskap otomotif yang terus berubah, termasuk ekspansi produksi dan tenaga kerja di sektor kendaraan listrik seperti yang terlihat dari lowongan kerja baru yang dibuka sejumlah produsen. Persaingan dan strategi perangkat lunak pun menjadi medan pertarungan baru di industri ini.

Yang jelas, CarPlay masih tersedia di ratusan model mobil. Bagi pengguna iPhone, pengalaman membawa ekosistem Apple ke dalam mobil masih bisa dinikmati selama beberapa tahun ke depan. Namun, arah yang diambil GM dan beberapa pabrikan lain menunjukkan bahwa pertarungan soal siapa yang mengendalikan dashboard baru saja dimulai, dan pengemudi berada di tengah tarik-menarik antara kenyamanan dan kendali data.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.