πŸ“‘ Daftar Isi

Grafik saham T-Mobile yang anjlok setelah rilis laporan pendapatan Q2 2026

T-Mobile Q2 2026: Penambahan Akun Anjlok 13%, Saham Ambruk

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • Saham T-Mobile anjlok 6,85% setelah laporan Q2 2026 dirilis
  • Penambahan akun pascabayar bersih turun 13% YoY menjadi hanya 277.000
  • Churn pascabayar naik dari 0,92% menjadi 0,99% YoY
  • Pendapatan total naik 7,9% menjadi $22,79 miliar
  • Laba per saham naik 5,3% menjadi $2,99
  • Kebijakan wajib aplikasi T-Life mulai 1 Agustus diduga jadi pemicu churn
  • Proyeksi penambahan akun 2026 stagnan di 950.000-1,05 juta

Telset.id – Saham T-Mobile ambruk lebih dari 6% pada perdagangan siang hari setelah operator seluler AS itu merilis laporan pendapatan kuartal kedua 2026 yang mengecewakan. Penambahan akun pascabayar bersih (postpaid net account additions) anjlok 13% secara tahunan (year-over-year), memicu aksi jual besar-besaran oleh investor.

T-Mobile melaporkan bahwa selama periode April hingga Juni 2026, perusahaan hanya mencatatkan 277.000 penambahan akun pascabayar bersih. Angka ini turun signifikan dari periode yang sama tahun lalu. Sebagai informasi, T-Mobile baru memperkenalkan metrik ini pada laporan Q1 2026, menggantikan metrik sebelumnya yaitu postpaid phone net additions yang selama ini dianggap sebagai angka terpenting setiap kuartal. Perusahaan beralasan bahwa mayoritas akunnya bersifat multi-line dan menggunakan berbagai perangkat selain smartphone.

Meskipun penambahan akun menurun, pendapatan rata-rata per akun pascabayar (Postpaid Average Revenue Per Account/ARPA) justru tumbuh 2% secara tahunan menjadi $152,91. Hingga akhir kuartal, T-Mobile memiliki total 34,7 juta akun pascabayar.

Namun, ada sinyal negatif lain yang tak bisa diabaikan. Tingkat churn pascabayar, atau persentase pelanggan yang berhenti berlangganan, naik menjadi 0,99% dari 0,92% pada Q2 2025. Meskipun angka ini lebih baik dari churn kuartal sebelumnya yang sebesar 1,04%, tren kenaikan tahunan ini patut diwaspadai.

Penyebab Meningkatnya Churn Pelanggan

Meningkatnya churn bisa menjadi indikasi bahwa pelanggan T-Mobile mulai frustrasi dengan transformasi operator menuju merek digital-first. T-Mobile kini semakin bergantung pada aplikasi T-Life untuk menangani transaksi pelanggan. Mulai 1 Agustus 2026, setiap transaksi upgrade perangkat konsumen dan penambahan lini (add-a-line), baik yang dilakukan di toko T-Mobile, melalui telepon, atau secara mandiri oleh pelanggan, WAJIB dilakukan melalui aplikasi T-Life.

Kebijakan ini menuai kontroversi. Banyak pelanggan yang mengeluhkan hilangnya lini gratis dan munculnya biaya tersembunyi, seperti yang diulas dalam artikel Pelanggan T-Mobile Kehilangan Lini Gratis dan Kena Biaya Tersembunyi. Situasi ini memperburuk persepsi pelanggan dan berkontribusi pada keputusan mereka untuk beralih ke operator lain.

Fenomena ini juga sejalan dengan laporan sebelumnya tentang Kebangkitan Verizon dan Kemerosotan T-Mobile di 2026, di mana persaingan ketat di pasar telekomunikasi AS mulai menunjukkan dampaknya. T-Mobile, yang selama ini menjadi pemimpin dalam pertumbuhan pelanggan, kini mulai merasakan tekanan dari para pesaingnya.

Kinerja Keuangan dan Proyeksi ke Depan

Terlepas dari masalah penambahan pelanggan, kinerja keuangan T-Mobile secara keseluruhan masih menunjukkan pertumbuhan. Perusahaan melaporkan total pendapatan Q2 sebesar $22,79 miliar, naik 7,9% dari $21,13 miliar pada Q2 2025. Laba bersih mencapai $3,24 miliar, meningkat 0,5% year-over-year. Laba per saham terdilusi (diluted EPS) naik 5,3% menjadi $2,99, dari $2,84 pada periode yang sama tahun lalu.

Untuk tahun 2026, T-Mobile memproyeksikan penambahan akun pascabayar bersih antara 950.000 hingga 1,05 juta. Angka ini sama dengan estimasi yang dibuat perusahaan setelah merilis laporan Q1 2026. Proyeksi ini menunjukkan bahwa manajemen T-Mobile belum melihat perbaikan signifikan dalam waktu dekat.

Reaksi pasar sangat cepat dan keras. Hingga pukul 12:30 siang waktu setempat, saham T-Mobile jatuh $13,07 atau 6,85% menjadi $177,87. Aksi jual ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap prospek pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Untuk konteks yang lebih luas, T-Mobile sebelumnya telah memimpin dalam adopsi jaringan otonom AI untuk pengalaman pelanggan. Namun, tampaknya inovasi teknologi ini belum cukup untuk mempertahankan loyalitas pelanggan di tengah kebijakan baru yang kontroversial.

T-Mobile store wth painted rainbow display in front window.

Kebijakan digital-first T-Mobile yang mewajibkan penggunaan aplikasi T-Life untuk upgrade perangkat dan penambahan lini mulai 1 Agustus 2026 menjadi sorotan utama. Langkah ini dianggap terlalu memaksakan transformasi digital tanpa mempertimbangkan preferensi pelanggan yang mungkin masih menginginkan layanan tatap muka atau melalui telepon. Dampaknya mulai terlihat dari meningkatnya churn dan menurunnya minat investor.

Ke depannya, T-Mobile harus menghadapi tantangan berat untuk mengembalikan kepercayaan pelanggan dan investor. Dengan proyeksi penambahan akun yang stagnan dan tekanan dari kompetitor seperti Verizon, operator yang dijuluki β€œUn-carrier” ini perlu mencari strategi baru untuk membalikkan tren negatif. Salah satu langkah yang mungkin diambil adalah mengevaluasi kembali kebijakan aplikasi T-Life atau memberikan insentif lebih besar bagi pelanggan yang bertahan.

Bagi para pengamat industri, penurunan ini menjadi pengingat bahwa inovasi digital tanpa mempertimbangkan pengalaman pelanggan secara holistik bisa menjadi bumerang. T-Mobile, yang dulu dikenal dengan pendekatan pro-pelanggan, kini harus belajar dari kesalahan ini. Sementara itu, para pelanggan yang menggunakan perangkat tertentu mungkin juga akan terpengaruh oleh kebijakan operator lain, seperti yang dibahas dalam artikel iPhone 18 Pro Terkunci untuk Pelanggan T-Mobile dan Verizon.

Situasi T-Mobile saat ini menunjukkan bahwa di industri telekomunikasi yang kompetitif, kepuasan pelanggan tetap menjadi faktor paling krusial. Kebijakan yang mempersulit pelanggan, sekalipun untuk efisiensi digital, berisiko tinggi menggerus basis pelanggan yang sudah susah payah dibangun.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.