Iklan Spacex di layar Times Square New York setelah IPO Juni 2026

Spacex Saham Anjlok Habis, Gain IPO Ludes dalam 11 Hari

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Saham Spacex anjlok drastis dalam 11 hari setelah IPO, menghapus seluruh keuntungan yang diraih sejak harga pembukaan.
  • Harga saham sempat menyentuh level tertinggi USD 225, lalu jatuh ke level terendah di bawah USD 147.
  • Penurunan hampir 17% dalam satu hari menjadi kinerja harian terburuk Spacex sejak IPO.
  • Kejatuhan terjadi bersamaan dengan aksi jual besar di sektor teknologi global akibat kekhawatiran gelembung AI.
  • Analis menyebut volatilitas disebabkan ketidaksesuaian valuasi dengan fundamental bisnis Spacex yang masih membakar uang.
  • Investor diperingatkan akan perjalanan penuh gejolak karena antusiasme terhadap visi Elon Musk belum didukung fundamental kuat.

Telset.id – Hanya dalam 11 hari setelah pencatatan saham perdana (IPO) pada 12 Juni 2026, Spacex saham anjlok drastis hingga menghapus seluruh keuntungan yang sempat diraih. Saham perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut jatuh ke level terendah sepanjang masa di bawah harga pembukaan IPO, mencerminkan volatilitas ekstrem yang memicu kekhawatiran investor.

Spacex memulai debutnya di bursa dengan harga pembukaan USD 150 per saham. Harga tersebut kemudian meroket ke level tertinggi sepanjang masa di kisaran USD 225, mendorong kapitalisasi pasar perusahaan mendekati angka USD 3 triliun. Namun, euforia itu tidak bertahan lama. Dalam hitungan hari, aksi ambil untung besar-besaran terjadi, menghapus nilai ratusan miliar dolar dari valuasi perusahaan.

Pada Senin lalu, saham Spacex mengalami penurunan hampir 17 persen dalam satu hari, menjadikannya kinerja harian terburuk sejak IPO. Penurunan ini berlanjut hingga Selasa pagi, di mana harga saham sempat menyentuh level terendah di angka USD 147, atau di bawah harga pembukaan IPO. Meskipun kemudian sempat pulih ke kisaran pertengahan USD 150, level ini merupakan titik terendah yang tidak terbayangkan hanya beberapa hari sebelumnya.

Kejatuhan harga saham Spacex terjadi bersamaan dengan aksi jual besar-besaran di sektor teknologi global. Kekhawatiran akan adanya gelembung kecerdasan buatan (AI bubble) menjadi pemicu utama. Raksasa teknologi seperti AMD turun hampir lima persen pada Selasa siang, sementara raja chip AI, Nvidia, ambles lebih dari 2,6 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa sentimen negatif tidak hanya menghantam Spacex, tetapi juga melanda seluruh ekosistem teknologi.

Analis pasar menilai volatilitas Spacex yang ekstrem ini disebabkan oleh ketidaksesuaian antara valuasi saham dengan fundamental bisnis perusahaan. Spacex disebut masih membakar miliaran dolar kas setiap tahunnya, namun berencana mengumpulkan puluhan miliar dolar tambahan dari investor untuk mendanai ambisi pusat data orbital yang belum terbukti. Strategi ini mengingatkan banyak pihak pada pola serupa yang terjadi pada produsen kendaraan listrik milik Musk, Tesla, yang juga memiliki rasio harga terhadap laba (price-to-earnings gap) yang sangat lebar.

Peter Boockvar, Chief Investment Officer One Point BFG Wealth Partners, dalam wawancaranya dengan CNBC pekan lalu menyatakan, investor saat ini “memperdagangkan cerita, mereka memperdagangkan aksi, mereka memperdagangkan kegembiraan, mereka memperdagangkan Elon Musk, tetapi pada suatu titik, fundamental harus sejalan dengan kegembiraan itu.” Pernyataan ini menekankan bahwa euforia pasar terhadap visi besar Musk belum tentu didukung oleh kinerja keuangan yang solid.

Iklan Spacex di Times Square New York setelah IPO pada Juni 2026

Beberapa analis memperkirakan volatilitas saham Spacex mungkin akan mereda setelah lebih banyak saham dibuka kuncinya (unlock) dalam beberapa bulan mendatang. Namun, mengingat kinerja pekan lalu, investor diprediksi akan menghadapi perjalanan yang penuh gejolak saat mereka mencoba mengukur sisa antusiasme terhadap ambisi besar Musk.

Investor yang membeli saham Spacex di puncak harga kini mengalami kerugian signifikan. Kasus ini menjadi pengingat bahwa IPO yang sukses tidak menjamin kinerja jangka panjang, terutama jika valuasi saham tidak didukung oleh fundamental bisnis yang kuat. Pasar saham teknologi, yang sempat bergairah oleh narasi AI dan inovasi, kini mulai mempertanyakan realitas di balik cerita-cerita besar tersebut.

Spacex sendiri belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai fluktuasi harga saham yang ekstrem ini. Sementara itu, para investor dan analis pasar akan terus memantau pergerakan saham perusahaan antariksa tersebut, serta perkembangan fundamental bisnisnya, untuk menentukan apakah ini adalah koreksi wajar atau awal dari tren penurunan yang lebih panjang.

Fenomena ini juga berdampak pada sektor terkait, termasuk perusahaan-perusahaan yang bergantung pada kontrak atau kemitraan dengan Spacex. Reflection AI yang baru-baru ini membayar Rp 105 triliun ke Spacex untuk chip GB300, misalnya, mungkin akan menghadapi tekanan jika valuasi Spacex terus menurun. Hal ini menunjukkan bagaimana volatilitas satu perusahaan besar dapat merambat ke ekosistem bisnis yang lebih luas.

Kisah Spacex ini menjadi pelajaran berharga bagi investor ritel maupun institusi tentang risiko berinvestasi di perusahaan dengan valuasi tinggi namun fundamental yang belum matang. Pasar modal, pada akhirnya, akan selalu menguji realitas di balik setiap narasi, termasuk narasi ambisius Elon Musk tentang pusat data di orbit.

Komentar

Belum ada komentar.