šŸ“‘ Daftar Isi

Kamera lalu lintas NERO R-ONE yang dinonaktifkan Slovakia karena backdoor Rusia

Slovakia Nonaktifkan 279 Kamera Lalu Lintas Berisi Backdoor Rusia

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø5 menit membaca
Bagikan:
  • Slovakia menonaktifkan 279 kamera lalu lintas NERO R-ONE setelah ditemukan backdoor Rusia
  • Kamera diduga rebranding dari CORDON PRO.M buatan perusahaan Rusia Semicon
  • Backdoor diaktifkan melalui SMS dari nomor Rusia yang di-hardcode di sistem
  • Feed kamera dapat diakses siapa saja tanpa password melalui IP perangkat
  • Pengadaan senilai €30 juta dari dana EU dibeli via perusahaan shell di Siprus
  • Pemerintahan Fico awalnya membantah temuan, investigasi didorong oposisi
  • Kroasia dan negara Eropa Timur lain mungkin memiliki masalah serupa
  • Auditor independen akan memverifikasi temuan NBU

Telset.id – Slovakia terpaksa menonaktifkan 279 kamera pengawas lalu lintas NERO R-ONE yang baru dipasang setelah badan keamanan nasionalnya, NBU, menemukan sejumlah celah keamanan serius, termasuk backdoor Rusia yang aktif melalui SMS. Temuan ini menjadi pukulan telak bagi upaya modernisasi sistem kontrol lalu lintas negara tersebut yang menggunakan anggaran dari dana Uni Eropa senilai €30 juta.

Menurut laporan Risky Bulletin Newsletter, kamera yang diyakini merupakan versi rebranding dari kamera lalu lintas Rusia CORDON PRO.M produksi perusahaan Semicon yang berbasis di St. Petersburg ini memiliki dua masalah utama. Pertama, terdapat daftar nomor telepon Rusia yang di-hardcode di dalam sistem, di mana SMS dari nomor-nomor tersebut dapat membuka akses shell dan jaringan. Kedua, feed kamera langsung dapat diakses oleh siapa saja yang mengetahui alamat IP perangkat, tanpa memerlukan kata sandi sama sekali.

Kebijakan pengadaan kamera ini pun menjadi sorotan. Laporan menyebutkan bahwa batch besar kamera tersebut dibeli melalui perusahaan shell yang berbasis di Siprus dengan sertifikasi palsu. Jalur pengadaan yang berbelit-belit ini memicu investigasi lebih lanjut dari NBU, yang diduga juga didorong oleh tekanan dari partai oposisi di Slovakia.

Kerentanan Keamanan yang Ditemukan

Selain backdoor SMS dari nomor Rusia, para peneliti menemukan sejumlah kerentanan keamanan yang lebih luas pada kamera tersebut. Fitur SecureBoot yang seharusnya melindungi perangkat ternyata tidak efektif. Portal manajemen web yang mengekspos siaran langsung juga dapat diakses oleh publik tanpa autentikasi. Kombinasi kerentanan ini menjadikan kamera lalu lintas tersebut sebagai titik lemah yang serius bagi keamanan nasional Slovakia.

Pemerintah Slovakia yang dipimpin oleh perdana menteri populis Robert Fico awalnya membantah laporan bahwa kamera tersebut berasal dari Rusia dan menolak kekhawatiran keamanan yang muncul. Namun, setelah temuan NBU, Kementerian Dalam Negeri Slovakia akhirnya mengambil tindakan tegas dengan menonaktifkan semua kamera yang telah terpasang dan beroperasi. Sebagai langkah due diligence, auditor independen akan dipanggil untuk mengonfirmasi temuan NBU tersebut.

Slovakia discovers Russian backdoors in 279 new traffic cameras

Kekhawatiran kini meluas ke negara-negara lain. Laporan menyebutkan bahwa Kroasia dan beberapa negara Eropa Timur lainnya mungkin memiliki masalah yang belum terdeteksi dengan kamera pengawas lalu lintas yang berasal dari sumber serupa. Situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya keamanan rantai pasokan dalam pengadaan teknologi publik.

Kejadian di Slovakia ini menjadi contoh nyata bagaimana perangkat keras yang tampak normal dapat menyembunyikan lapisan keamanan yang berbahaya. Untuk konteks yang lebih luas tentang keamanan siber, Anda dapat membaca artikel tentang WindRelay Ubah HP menjadi POS skimmer yang mencuri data kartu. Tentu saja, insiden ini juga menyoroti pentingnya tata kelola teknologi yang aman, sebuah topik yang juga relevan dengan aliansi strategis Indonesia-Slovakia dalam tata kelola AI global.

Insiden ini juga menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana negara-negara melakukan pengadaan infrastruktur kritis. Anggaran €30 juta dari dana modernisasi Uni Eropa yang digunakan untuk membeli sistem yang kini tidak beroperasi menjadi kerugian yang signifikan. Proses pengadaan yang tidak transparan, termasuk pembelian melalui perusahaan shell dengan sertifikasi palsu, menjadi celah yang dieksploitasi oleh aktor asing untuk menyusupkan perangkat keras yang berbahaya.

Dari perspektif keamanan, backdoor yang diaktifkan melalui SMS adalah metode yang relatif sederhana namun sangat efektif. Dengan hanya mengirim SMS dari nomor Rusia yang telah di-hardcode, seorang penyerang dapat memperoleh akses shell dan jaringan ke seluruh sistem kamera. Ini berarti akses ke data lalu lintas, potensi manipulasi sistem, dan bahkan kemungkinan digunakan sebagai titik masuk ke jaringan yang lebih luas.

Akses tanpa kata sandi ke portal manajemen web dan feed langsung kamera menambah lapisan kerentanan yang lebih parah. Siapa pun yang mengetahui alamat IP kamera dapat melihat siaran langsung tanpa hambatan, yang merupakan pelanggaran privasi serius dan risiko keamanan yang tidak dapat diterima. Fitur SecureBoot yang tidak efektif juga menunjukkan bahwa keamanan perangkat keras dasar pun gagal diterapkan dengan benar.

Insiden Slovakia ini juga menyoroti bagaimana kepentingan politik dapat mengganggu keamanan nasional. Pemerintahan Fico yang memiliki kecenderungan pro-Rusia awalnya menolak laporan tentang asal usul kamera dan membantah kekhawatiran keamanan. Penolakan awal ini memperlambat respons dan memungkinkan kamera yang terinfeksi tetap beroperasi lebih lama dari yang seharusnya.

Peran partai oposisi dalam mendorong investigasi NBU menunjukkan pentingnya pengawasan politik dalam pengadaan publik. Tanpa tekanan dari oposisi, mungkin saja masalah ini tidak akan terungkap dan kamera berbahaya tersebut akan terus beroperasi tanpa diketahui.

Untuk negara-negara lain, terutama di Eropa Timur, insiden ini menjadi peringatan untuk segera melakukan audit keamanan terhadap infrastruktur serupa. Laporan yang menyebutkan Kroasia dan negara lain mungkin memiliki masalah serupa menunjukkan bahwa masalah ini mungkin lebih luas dari sekadar Slovakia.

Ke depannya, insiden ini menekankan perlunya proses pengadaan yang lebih ketat dan transparan untuk infrastruktur kritis. Verifikasi asal usul perangkat keras, audit keamanan independen, dan pengawasan politik yang kuat menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa. Untuk memahami lebih lanjut tentang bagaimana regulasi teknologi berkembang, Anda dapat membaca tentang regulasi AI Indonesia yang fokus pada etika dan akuntabilitas.

Kasus ini juga menunjukkan bahwa modernisasi infrastruktur tidak boleh mengorbankan keamanan. Anggaran besar yang diinvestasikan untuk sistem baru harus disertai dengan proses verifikasi yang ketat. Penggunaan dana Uni Eropa untuk membeli sistem yang ternyata memiliki backdoor Rusia menjadi ironi yang menyakitkan bagi Slovakia dan menimbulkan pertanyaan tentang pengawasan pengeluaran dana bersama tersebut.

Keamanan rantai pasokan menjadi isu yang semakin penting dalam dunia yang terhubung saat ini. Perangkat keras yang tampaknya tidak berbahaya dapat menjadi vektor serangan yang serius jika tidak diverifikasi dengan benar. Insiden kamera lalu lintas Slovakia ini adalah studi kasus yang jelas tentang bagaimana proses pengadaan yang ceroboh dapat membahayakan keamanan nasional.

Dengan auditor independen yang akan segera memverifikasi temuan NBU, publik Slovakia dan negara-negara lain akan menunggu hasilnya dengan cemas. Sementara itu, 279 kamera yang telah dinonaktifkan menjadi pengingat fisik bahwa keamanan tidak boleh dikorbankan demi modernisasi atau efisiensi biaya.

Bagi Slovakia, langkah selanjutnya adalah memutuskan apakah akan mengganti kamera tersebut dengan sistem yang lebih aman atau mencari solusi lain. Proses ini tentu akan memakan waktu dan biaya tambahan, di luar €30 juta yang telah dihabiskan untuk sistem yang kini tidak beroperasi. Pelajaran yang bisa dipetik dari insiden ini adalah bahwa dalam pengadaan teknologi, terutama untuk infrastruktur kritis, keamanan harus menjadi prioritas utama sejak awal, bukan setelah terjadi masalah.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.