šŸ“‘ Daftar Isi

Ilustrasi kebocoran data pada sistem cloud Apollo Global Management dengan ikon kunci dan data pribadi

Apollo Global Management Alami Kebocoran Data Cloud

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
ā±ļø3 menit membaca
Bagikan:
  • Apollo Global Management konfirmasi kebocoran data di sistem cloud perusahaan
  • Serangan social engineering terjadi antara 6-10 Juli, mencuri nama, tanggal lahir, alamat, dan nomor Jaminan Sosial
  • Perusahaan private equity terbesar dengan aset $938 miliar dan sekitar 5.000 karyawan
  • Google sebelumnya memperingatkan kampanye peretasan menargetkan perusahaan private equity
  • Peretas menggunakan taktik berpura-pura menjadi helpdesk IT untuk mencuri kredensial
  • Beberapa serangan menghasilkan tebusan hingga $750.000
  • Apollo belum memberikan komentar resmi atau informasi apakah membayar tebusan

Telset.id – Apollo Global Management, salah satu perusahaan private equity terbesar di dunia, mengonfirmasi telah mengalami kebocoran data yang mencuri informasi pribadi dari sistem cloud perusahaan. Insiden ini terjadi hanya sebulan setelah para peneliti keamanan memperingatkan adanya kampanye peretasan baru yang menargetkan perusahaan keuangan dan private equity besar.

Perusahaan raksasa keuangan ini mengonfirmasi insiden tersebut dalam surat yang diajukan ke jaksa agung California. Matthew Breitfelder, kepala sumber daya manusia Apollo, mengungkapkan bahwa para peretas menggunakan serangan social engineering untuk mendapatkan akses ke lingkungan cloud perusahaan antara 6 Juli hingga 10 Juli.

Data yang dicuri meliputi nama, tanggal lahir, informasi kontak termasuk alamat rumah, dan nomor Jaminan Sosial. Surat tersebut tidak secara spesifik menyebutkan siapa saja yang datanya dicuri, apakah karyawan Apollo atau individu di perusahaan yang dimilikinya.

Apollo adalah salah satu perusahaan private equity terbesar di dunia dengan aset senilai $938 miliar yang dikelola. Saat dihubungi TechCrunch, juru bicara Apollo, Giovanna Falbo, tidak segera memberikan komentar atau menjawab pertanyaan tentang insiden tersebut, termasuk apakah perusahaan membayar tebusan kepada peretas. Apollo memiliki sekitar 5.000 karyawan per Februari 2026, berdasarkan pengajuan peraturan publik perusahaan.

Kampanye Peretasan yang Menargetkan Perusahaan Keuangan

Kebocoran data yang kini terkonfirmasi ini terjadi beberapa minggu setelah peneliti keamanan Google memperingatkan bahwa peretas menargetkan perusahaan private equity dan raksasa keuangan sebagai bagian dari kampanye pemerasan yang meluas. Reuters melaporkan bahwa Apollo adalah salah satu perusahaan yang menjadi sasaran peretas, bersama dengan Blackstone, Bridgewater, Bain Capital, dan lainnya, tetapi tidak jelas apakah perusahaan mana pun telah berhasil dibobol.

Google menyatakan bahwa para peretas, yang menggunakan berbagai nama — Falcon, Helix, Pink, dan Redact — sebagian besar mengandalkan serangan social engineering yang melibatkan panggilan ke karyawan dan berpura-pura menjadi helpdesk IT atau dukungan teknis. Tujuannya adalah untuk mengelabui karyawan agar memasukkan kata sandi dan kode autentikasi multi-faktor mereka di portal login palsu, yang memungkinkan peretas mendapatkan akses ke jaringan perusahaan.

Setelah mencuri data, para peretas kemudian memeras perusahaan untuk membayar tebusan atau mengancam akan mempublikasikan data di situs kebocoran mereka. Beberapa serangan menghasilkan tebusan hingga $750.000, menurut Google.

Insiden kebocoran data di Apollo ini menjadi pengingat penting tentang ancaman keamanan siber yang semakin meningkat di sektor keuangan. Serangan social engineering yang digunakan dalam kasus ini menunjukkan bahwa bahkan perusahaan besar dengan sumber daya keamanan yang kuat pun tidak kebal terhadap taktik manipulasi manusia.

Penting bagi perusahaan untuk meningkatkan kesadaran keamanan siber di kalangan karyawan, terutama dalam mengenali upaya phishing dan serangan social engineering. Pelatihan rutin dan simulasi serangan dapat membantu karyawan mengenali tanda-tanda upaya peretasan sebelum memberikan informasi sensitif.

Untuk pengguna layanan keuangan dan investor, insiden ini menyoroti pentingnya memantau laporan kredit dan aktivitas akun secara teratur. Data pribadi yang dicuri seperti nomor Jaminan Sosial dapat digunakan untuk pencurian identitas jangka panjang.

Apollo Global Management sendiri belum mengumumkan langkah-langkah tambahan yang akan diambil untuk melindungi data karyawan dan mitra bisnisnya pasca insiden ini. Namun, perusahaan diharapkan akan meningkatkan protokol keamanan dan memberikan pemberitahuan kepada semua pihak yang terdampak.

Kasus kebocoran data ini juga menjadi perhatian bagi industri keuangan secara luas. Dengan meningkatnya serangan yang menargetkan perusahaan private equity, kebutuhan akan solusi keamanan yang lebih kuat dan kesadaran karyawan menjadi semakin mendesak.

Hingga berita ini ditulis, belum ada konfirmasi lebih lanjut dari Apollo mengenai jumlah total data yang dicuri atau apakah ada pihak ketiga yang terkena dampak langsung. Perusahaan juga belum merilis pernyataan resmi tentang langkah-langkah remediasi yang akan diambil.

Insiden ini menunjukkan bahwa serangan social engineering tetap menjadi salah satu ancaman paling efektif bagi perusahaan, bahkan dengan teknologi keamanan tercanggih sekalipun. Kombinasi antara faktor manusia dan kerentanan teknis menciptakan celah yang dapat dieksploitasi oleh peretas yang gigih.

Bagi perusahaan lain di sektor keuangan, kasus ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya berbagi informasi tentang taktik serangan dan meningkatkan kolaborasi dalam menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.