Sistem Pengawasan Massal di China Ancam Kebebasan Global

Sistem Pengawasan Massal China

Telset.id, Jakarta  – Sistem pengawasan massal di China dituding mengancam kebebasan global. Menurut Biro Keamanan Umum Beijing, setiap milimeter pergerakan warga dipantau oleh kamera pengintai canggih.

Algoritma pengenalan wajah yang dicocokkan dengan gambar di database rahasia Beijing dapat membuat setiap orang mengalami masalah hukum. Obrolan semi-politik bisa membuat Anda jadi penganggiran.

Cara yang dilakukan oleh China mungkin efektif untuk mencegah kejahatan. Namun demikian, penerapan pengawasan massal yang ketat membuat setiap warga kehilangan privasi secara substansial dan merusak kebebasan.

{Baca juga: IBM Stop Garap Teknologi Pengenalan Wajah, Kenapa?}

“Partai Komunis China berkomitmen untuk memproduksi dan menggunakan teknologi yang mengontrol dan mengawasi populasi,” kata perwakilan Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan Amerika-China.

Sialnya, seperti dikutip Telset.id dari New York Post, Selasa (11/8/2020), apa yang terjadi di China juga berlaku bagi mereka yang berada di luar negeri.  Pengawasan  atau sekadar memata-matai jadi  bisnis di China.

Praktik itu semakin berkembang seiring permintaan pasar terhadap  alat maupun perangkat buatan perusahaan China yang bergerak di bidang teknologi. Tapi, aktivis hak asasi manusia menyebutnya sebagai pelanggaran.

Menurut mereka, Beijing telah berusaha selama beberapa dekade untuk menghancurkan populasi Muslim Uighur di Xinjiang dan dalam beberapa tahun terakhir membawa jutaan orang ke dalam kamp konsentrasi.

Sistem pengawasan massal yang dijalankan diam-diam memiliki kemampuan untuk mengaudit seluruh populasi. Dari sana, ia dapat dengan cepat menghasilkan nama orang-orang yang diklasifikasikan sebagai “mencurigakan”.

Sebelumnya, lebih dari 1.000 profesional teknologi, termasuk dari bidang kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, peneliti hukum, dan antropologi, protes soal bias rasial dalam program pengenalan wajah atau facial recognition.

Mereka setuju bahwa kriminalitas tidak dapat diprediksi tanpa prasangka, terlepas dari klaim laporan 80 persen akurasi dan tanpa bias rasial.

{Baca juga: Giliran Komunitas Teknologi Protes Soal Pengenalan Wajah}

Para profesional ini protes pengenalan wajah dengan membandingkan metode tersebut dengan ilmu sains ras yang sudah lama dibantah.

Lebih dari 1.000 lebih profesional teknologi yang menandatangani surat itu menyebut diri sebagai Koalisi untuk Teknologi Kritis. Menurut mereka, setiap algoritma baru untuk identifikasi kriminalitas tidak terhindarkan melahirkan bias sistemik. [SN/HBS]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here