Giliran Komunitas Teknologi Protes Soal Pengenalan Wajah

protes pengenalan wajah

Telset.id, Jakarta – Lebih dari 1.000 profesional teknologi, termasuk dari bidang kecerdasan buatan, pembelajaran mesin, peneliti hukum, dan antropologi, protes soal bias rasial dalam program pengenalan wajah atau facial recognition.

Mereka setuju bahwa kriminalitas tidak dapat diprediksi tanpa prasangka, terlepas dari klaim laporan 80 persen akurasi dan tanpa bias rasial.

Para profesional ini protes pengenalan wajah dengan membandingkan metode tersebut dengan ilmu sains ras yang sudah lama dibantah.

Lebih dari 1.000 lebih profesional teknologi yang menandatangani surat itu menyebut diri sebagai Koalisi untuk Teknologi Kritis. Menurut mereka, setiap algoritma baru untuk identifikasi kriminalitas tidak terhindarkan melahirkan bias sistemik.

{Baca juga: IBM Stop Garap Teknologi Pengenalan Wajah, Kenapa?}

Dikutip Telset.id dari New York Post, Kamis (25/6/2020), program pengenalan wajah untuk membantu mengungkap kriminalitas memang mengundang banyak kritik. Bahkan, Amazon dan Microsoft menyetop pemakaian oleh polisi.

Awal Juni 2020, Amazon melarang polisi menggunakan perangkat lunak pengenal wajah buatannya selama satu tahun sambil menunggu kongres untuk mengeluarkan regulasi yang lebih tegas dan terukur. Perangkat lunak itu bernama Rekognition.

Penelitian menunjukkan, Rekognition salah mengidentifikasi orang Afrika-Amerika dan Asia. Dua ras tersebut lebih sering teridentifikasi daripada orang kulit putih. Amazon menyetop pemakaian Rekognition seiring kasus George Floyd.

{Baca juga: Giliran Microsoft Stop Jual Teknologi Pengenalan Wajah ke Polisi}

Microsoft juga tidak akan lagi menjual teknologi pengenalan wajah ke polisi. Perusahaan akan menunggu peraturan federal sebelum menjualnya ke penegak hukum. Hal ini menyusul protes kebrutalan polisi terhadap George Floyd.

George Floyd adalah warga kulit hitam AS yang terbunuh pada akhir Mei 2020 setelah lehernya ditekan menggunakan kaki oleh polisi.

Ia dituduh bertransaksi menggunakan uang palsu. Kematiannya lantas menyulut kerusuhan di berbagai wilayah.

Sebelumnya, sebuah pameran seni yang mengeksplorasi dampak teknologi pengenalan wajah juga pernah dihelat di China.

Pameran ini menawarkan sebuah ruang publik nan langka untuk merefleksikan tentang pengawasan yang semakin luas oleh perusahaan dan pemerintah. [SN/IF]

9 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here