Ilustrasi foto Elon Musk dengan latar belakang grafik saham SpaceX yang menurun

Short Seller SpaceX Raup Rp 60 Triliun, Saham Anjlok 29%

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Short seller SpaceX mencatat keuntungan kertas USD 3,88 miliar (Rp 60 triliun) setelah saham ambles di bawah harga IPO.
  • 185 juta saham SpaceX dalam posisi short, setara 29% dari total saham publik, naik drastis dari 5-7% tiga pekan lalu.
  • Harga saham saat ini USD 131, turun dari harga IPO USD 135 dan kehilangan sepertiga nilai sejak puncak.
  • Investor mempertanyakan visi Elon Musk termasuk pivot ke pusat data AI orbital dan merger dengan xAI.
  • SpaceX merugi hampir USD 5 miliar tahun lalu dan menghadapi periode volatilitas tinggi akibat pembukaan kunci saham.

Telset.id – Short seller SpaceX menikmati keuntungan kertas fantastis sebesar USD 3,88 miliar atau sekitar Rp 60 triliun setelah saham perusahaan antariksa milik Elon Musk itu ambles di bawah harga IPO. Kondisi ini menjadi cerminan langsung dari menurunnya kepercayaan investor terhadap visi bisnis Musk.

Saham SpaceX saat ini diperdagangkan di level USD 131, turun signifikan dari harga IPO USD 135. Data dari S3 Partners menunjukkan bahwa 185 juta saham SpaceX kini dalam posisi short, atau hampir 29 persen dari total saham yang diperdagangkan secara publik. Angka ini melonjak drastis dari hanya lima hingga tujuh persen tiga pekan lalu.

Ihor Dusaniwsky, managing director di S3, mengungkapkan kepada Bloomberg bahwa pelemahan harga saham baru-baru ini memicu aksi short selling. “Pelemahan harga baru-baru ini telah mendorong short selling, begitu juga dengan antisipasi akan segera berakhirnya masa lockup,” jelasnya. Masa lockup merujuk pada periode di mana pemegang saham internal dilarang menjual saham mereka.

SpaceX melantai di bursa dengan harga IPO USD 135 per saham. Pada hari pertama perdagangan, harga sempat melonjak ke USD 150 dan bahkan menembus USD 200 pada hari-hari berikutnya. Namun, keuntungan besar itu hanya bertahan sebentar. Harga saham terus menurun selama sebulan terakhir, kehilangan sepertiga nilainya sejak puncak.

Investor mulai mempertanyakan visi Musk untuk perusahaan yang mencakup pivot ambisius menuju pembangunan pusat data AI orbital. Sementara itu, jalur menuju profitabilitas SpaceX masih belum jelas. Tahun lalu, perusahaan tercatat merugi hampir USD 5 miliar.

Keputusan Musk untuk menggabungkan SpaceX dengan startup AI miliknya, xAI, sebelum IPO juga membuat perusahaan roket itu terekspos pada berbagai kontroversi xAI. Salah satunya adalah chatbot Grok yang digunakan untuk menghasilkan jutaan gambar seksual nonkonsensual dari orang sungguhan. Sebelumnya, daya tarik publik seputar eksplorasi antariksa sempat melindungi SpaceX dari sentimen negatif terhadap Musk.

Di tengah memudarnya antusiasme publik, para short seller mencatat keuntungan kertas yang melonjak menjadi USD 3,88 miliar, seperti dilaporkan Bloomberg pada Rabu. Namun, beberapa bulan ke depan bisa menjadi titik balik krusial bagi kinerja saham—atau justru semakin menenggelamkan harapannya.

Hanya sebagian kecil saham SpaceX yang tersedia saat perusahaan go public sebagai langkah untuk mencegah orang dalam segera mencairkan saham dan menjatuhkan harga. Namun, sekitar setengah dari total saham akan terbuka kuncinya mulai sekarang hingga Desember, jumlah yang jauh melampaui volume yang saat ini tersedia di pasar. Jika investor melepas saham yang baru terbuka kunci tersebut, harga saham SpaceX bisa terperosok lebih dalam.

Para ahli telah memperingatkan bahwa periode pembukaan kunci saham secara bertahap ini bisa sangat volatil. Hal ini tentu tidak melegakan mengingat kinerja saham perusahaan yang terus memburuk. Situasi ini mengingatkan pada pola serupa yang pernah terjadi pada perusahaan teknologi lain yang baru melantai di bursa. Investor yang sebelumnya optimistis kini mulai merasakan dampak dari keputusan investasi mereka.

SpaceX, yang dulunya dianggap sebagai primadona di sektor antariksa, kini menghadapi ujian terbesarnya di pasar modal. Kombinasi antara kerugian besar, visi bisnis yang dipertanyakan, dan kontroversi dari perusahaan afiliasi membuat sentimen investor berbalik arah. Para short seller memanfaatkan momentum ini untuk meraup keuntungan besar dengan bertaruh pada penurunan harga saham lebih lanjut.

Ke depan, nasib saham SpaceX akan sangat bergantung pada kemampuan perusahaan untuk meyakinkan investor tentang prospek bisnisnya. Tanpa kejelasan soal profitabilitas dan strategi yang solid, tekanan jual diperkirakan akan terus berlanjut. Para analis pasar akan mencermati dengan ketat pergerakan saham SpaceX dalam beberapa bulan mendatang, terutama saat periode pembukaan kunci saham dimulai.

Fenomena ini menunjukkan bahwa euforia IPO tidak selalu berkelanjutan. SpaceX menjadi contoh nyata bagaimana sentimen pasar bisa berubah drastis ketika fundamental bisnis mulai dipertanyakan. Investor ritel dan institusi kini harus menanggung konsekuensi dari volatilitas yang terjadi, sementara short seller menikmati keuntungan dari situasi ini.

Dengan valuasi yang terus terkoreksi, SpaceX harus segera menunjukkan hasil nyata dari strategi bisnisnya. Jika tidak, bukan tidak mungkin harga saham akan terus merosot dan semakin memperburuk posisi perusahaan di mata investor. Masa depan SpaceX di bursa saham kini berada di persimpangan jalan yang penuh ketidakpastian.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.