📑 Daftar Isi

Ilustrasi seorang bodyguard bersenjata dari belakang yang sedang mengawal, menggambarkan meningkatnya ancaman keamanan bagi eksekutif AI

Ancaman Fisik Makin Nyata, Eksekutif AI Kini Dikawal Bodyguard Bersenjata

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Eksekutif puncak perusahaan AI meningkatkan keamanan drastis karena ancaman fisik yang nyata
  • Beberapa CEO AI kini bepergian dengan pengawal bersenjata, sebuah fenomena baru di industri teknologi
  • Seorang aktivis anti-AI berusia 20 tahun mencoba membakar rumah CEO OpenAI Sam Altman dengan bom molotov
  • Pria bersenjata menyusup ke markas Anthropic dan mengancam akan membunuh seorang eksekutif
  • Aktivis anti-AI juga melakukan aksi tutup paksa pusat data, rusak kamera AI, dan protes di markas perusahaan
  • Survei menunjukkan popularitas AI di AS lebih rendah dibandingkan lembaga imigrasi ICE
  • Kekhawatiran publik meliputi PHK massal, konsentrasi kekuasaan, dan skenario apokaliptik

Telset.id – Gelombang sentimen anti-AI yang semakin agresif kini berubah menjadi ancaman fisik nyata. Para eksekutif puncak perusahaan AI terkemuka dilaporkan meningkatkan sistem keamanan mereka secara drastis, dengan beberapa di antaranya bahkan bepergian menggunakan pengawal bersenjata.

Laporan dari Wall Street Journal yang dikutip oleh Futurism mengungkapkan bahwa eskalasi ancaman dan percobaan kekerasan terhadap individu serta perusahaan yang mengembangkan model AI terdepan kini mencapai titik kritis. Situasi ini memaksa para pemimpin industri untuk mengambil langkah keamanan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

“Tech CEOs, a few years ago, definitely did not have security,” ujar Dakota Dominguez, seorang eksekutif dari perusahaan keamanan berbasis di Silicon Valley, JPT Security, kepada WSJ. “A lot of tech companies now are incorporating that into their budgets.”

Pernyataan ini menegaskan perubahan besar dalam lanskap keamanan di industri teknologi. Anggaran untuk perlindungan fisik kini menjadi prioritas utama, menggantikan era di mana para pemimpin teknologi dianggap tidak memerlukan pengamanan khusus. Fenomena ini juga menjadi perhatian serius di kalangan investor, seperti yang terlihat dalam kekhawatiran investor terhadap dinamika industri teknologi tinggi.

Insiden Kekerasan yang Mengguncang Industri

Puncak dari eskalasi ancaman ini terjadi pada awal tahun ini ketika seorang aktivis anti-AI berusia 20 tahun bernama Daniel Moreno-Gama mencoba menyerang kediaman CEO OpenAI, Sam Altman. Moreno-Gama datang dengan membawa senjata api dan bom molotov dalam upaya yang gagal untuk membakar rumah Altman. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.

Namun, kejadian ini bukanlah yang pertama. Laporan menyebutkan bahwa serangkaian ancaman kekerasan telah terjadi sebelumnya, termasuk setidaknya satu kali insiden penguncian (lockdown) di kantor OpenAI. Keamanan di lingkungan perusahaan AI kini menjadi isu yang sangat krusial.

Tidak hanya OpenAI, rival mereka, Anthropic, juga mengalami kejadian serupa. Menurut laporan WSJ, sekitar waktu yang sama dengan penargetan rumah Sam Altman, seorang pria berhasil menyusup ke markas besar Anthropic dengan mengikuti seorang karyawan. Pria tersebut membawa amplop berisi nama salah satu eksekutif perusahaan.

“Pria itu kemudian memberi tahu seorang petugas keamanan bahwa eksekutif tersebut ‘akan dibunuh’,” demikian isi laporan. Beruntung, pelaku berhasil dihentikan sebelum ada yang terluka. Insiden-insiden ini jelas menunjukkan betapa seriusnya ancaman yang dihadapi oleh para pemimpin industri AI saat ini.

Beragam Bentuk Aksi Anti-AI

Tidak semua sentimen anti-AI berujung pada percobaan kekerasan fisik. Para aktivis juga telah melakukan berbagai aksi lain yang tidak kalah mengganggu. Beberapa di antaranya termasuk menutup paksa pusat data, merusak kamera pengawas bertenaga AI, dan melakukan protes di luar markas perusahaan AI.

Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap perkembangan AI semakin terorganisir. Masyarakat memiliki kekhawatiran yang mendalam terhadap dampak teknologi ini. Beberapa survei bahkan menunjukkan bahwa popularitas AI di kalangan warga Amerika Serikat lebih rendah dibandingkan dengan lembaga imigrasi dan bea cukai (ICE).

Kekhawatiran publik terutama berpusat pada potensi PHK massal, konsentrasi kekayaan dan kekuasaan yang semakin timpang, serta skenario apokaliptik yang mengerikan. Menariknya, kekhawatiran ini juga kerap disuarakan oleh para pemimpin industri AI itu sendiri.

“That’s why people are setting warehouses on fire,” ujar Bonnie Kate Wolf, mantan karyawan Pinterest yang di-PHK saat restrukturisasi yang berfokus pada AI, kepada WSJ. “You can’t go back to serfdom. It really feels like the people in power want to be kings. Historically, that doesn’t work out for kings.”

Pernyataan Wolf mencerminkan keresahan kelas pekerja yang merasa terancam oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan. Sentimen ini diperkuat dengan berbagai riset terkait pengembangan teknologi AI, termasuk riset POSTECH yang berhasil menumpuk chip memori empat kali lebih padat untuk kebutuhan AI.

Semua perkembangan ini menunjukkan bahwa ketegangan antara kemajuan teknologi AI dan reaksi publik akan terus memanas. Para eksekutif perusahaan AI kini harus hidup dengan bayang-bayang ancaman, sementara industri terus bergerak maju dengan inovasi-inovasi barunya.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.