📑 Daftar Isi

Anthony Sistilli, YouTuber Kanada, membuat kamera ALPR bergaya Flock untuk melacak pelat nomor mobil polisi.

YouTuber Kanada Bikin Kamera ALPR untuk Lacak Mobil Polisi

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️3 menit membaca
Bagikan:
  • Anthony Sistilli, software engineer dan YouTuber Kanada, merakit prototipe ALPR untuk melacak mobil polisi
  • Aksi ini dipicu kemarahan publik terhadap Flock Safety di AS dan perluasan jaringan ALPR polisi Kanada
  • Prototipe dibuat dari kamera 4K yang dihubungkan ke laptop dan perangkat lunak buatan AI
  • Dua petugas polisi mendatangi rumah Sistilli pada September 2026 untuk menanyakan niatnya
  • Sistilli menilai kekhawatiran polisi soal privasi sama dengan yang dirasakan warga sipil

Telset.id – Seorang software engineer sekaligus YouTuber asal Kanada, Anthony Sistilli, membuat prototipe automatic license plate reader (ALPR) yang dirancang khusus untuk melacak mobil polisi, bukan warga sipil. Aksi ini berujung pada kunjungan dua petugas polisi ke rumahnya pada September 2026. Peristiwa ini menyoroti ketegangan antara perluasan jaringan kamera pengawasan polisi dan kekhawatiran publik soal privasi.

Sistilli mulai tertarik pada ALPR setelah meledaknya kemarahan publik terhadap perusahaan pengawasan Flock Safety di Amerika Serikat. Meski Kanada tidak memiliki rezim pengawasan korporat tersentralisasi seperti Flock di AS, kepolisian di negara itu telah memperluas jaringan ALPR yang lebih terdesentralisasi dengan kamera yang berfungsi dengan cara serupa. Menanggapi meningkatnya pengawasan pemerintah, Sistilli memutuskan merakit sendiri ALPR-nya.

Dalam sebuah video di YouTube, Sistilli menjelaskan bahwa ia penasaran seberapa sulit membangun perusahaan seperti Flock. Ia kemudian memesan kamera pengawasan 4K yang dapat dipasang di dinding melalui internet, menghubungkannya ke laptop, dan menginstruksikan asisten AI miliknya untuk menulis perangkat lunak pelacak yang hanya menandai mobil patroli polisi.

Cara Kerja Prototipe ALPR Buatan Sistilli

Hasil akhirnya adalah prototipe ALPR yang dipasang Sistilli di dasbor mobilnya untuk diuji di dunia nyata. Ia mengaku rekaman video awalnya sangat lambat karena sistem mencoba menghitung peluang setiap mobil di jalan sebagai mobil polisi dalam resolusi 4K penuh, sekaligus membedakan pelat nomornya.

Setelah menurunkan resolusi dan menginstruksikan sistem AI agar hanya mencoba membaca pelat nomor setelah sebuah kendaraan dipastikan sebagai mobil polisi, prototipe tersebut akhirnya berjalan penuh. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana teknologi pengenalan pelat nomor dapat direplikasi dalam skala kecil dengan perangkat yang mudah diakses.

A screenshot of a YouTuber who created a Flock-style camera that collects police plates.

Sayangnya, polisi setempat segera mengetahui hasil kerja Sistilli dan mendatanginya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Dalam videonya, Sistilli menuturkan bahwa dua petugas polisi berjalan ke jalan masuk rumahnya dan mengetuk pintunya untuk menginterogasinya.

Ia mengaku merasa aneh ketika para petugas menanyakan apa “niatnya”. Salah satu petugas secara khusus menyebut betapa “menakutkannya” situasi itu bagi mereka, karena orang-orang akan bisa mengetahui di mana mereka tinggal, kapan mereka mulai bertugas, dan apa yang mereka lakukan sepanjang hari.

Tanggapan Sistilli sederhana. Menurutnya, itu adalah kekhawatiran yang persis sama dengan yang dimiliki warga sipil. Pernyataan ini menjadi inti dari keseluruhan aksinya, yakni menyoroti asimetri pengawasan antara aparat penegak hukum dan masyarakat umum.

Respons atas Ekspansi Pengawasan Polisi

Kasus Sistilli bukan insiden tunggal dalam perdebatan soal pengawasan berbasis AI. Di Amerika Serikat, Flock Safety menghadapi gelombang kemarahan publik akibat perluasan jaringan kamera ALPR-nya. Sementara itu, di Kanada, kepolisian mengembangkan jaringan serupa dengan pendekatan yang lebih terdesentralisasi namun tetap menggunakan kamera yang fungsinya sama.

Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana teknologi pengenalan pelat nomor yang awalnya diposisikan sebagai alat keamanan kini menjadi sorotan karena potensi penyalahgunaannya. Ketika alat yang sama dapat dirakit sendiri oleh individu dengan kamera 4K dan bantuan AI, garis antara pengawasan negara dan pengawasan sipil menjadi semakin kabur.

Insiden yang melibatkan Sistilli juga menunjukkan bahwa aparat penegak hukum sendiri mulai merasakan implikasi dari teknologi yang mereka gunakan. Kekhawatiran tentang pelacakan lokasi, jadwal kerja, dan aktivitas harian yang disampaikan petugas kepada Sistilli mencerminkan risiko yang selama ini dihadapi warga sipil.

Kejadian ini menambah daftar panjang perdebatan soal penggunaan AI dan kamera pengawasan dalam konteks penegakan hukum. Sebelumnya, sejumlah insiden telah menyoroti bagaimana teknologi serupa dapat disalahgunakan atau menimbulkan kontroversi, termasuk dalam berbagai kasus yang melibatkan aparat dan sistem otomatis.

Hingga kini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai tindak lanjut dari kunjungan polisi ke rumah Sistilli, maupun apakah prototipe ALPR buatannya akan dikembangkan lebih jauh. Yang jelas, eksperimen ini telah memicu diskusi tentang siapa yang sebenarnya diawasi, dan siapa yang berhak merasa diawasi.

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.