📑 Daftar Isi

Ilustrasi perbandingan laptop Nvidia RTX Spark dengan AMD Ryzen AI Max

AMD Tantang Nvidia RTX Spark: Klaim Ryzen AI Max 400 Ungguli Arm

Penulis:Nur Hamzah
Terbit:
Diperbarui:
⏱️4 menit membaca
Bagikan:
  • AMD klaim Strix Halo lebih dulu hadir pada awal 2025 dibanding Nvidia RTX Spark
  • RTX Spark dibatasi 128GB unified memory, AMD Gorgon Halo mencapai 192GB
  • Kapasitas lebih besar memungkinkan model AI hingga 300 miliar parameter
  • AMD soroti arsitektur x86 tanpa emulasi untuk kompatibilitas aplikasi dan game
  • Nordquist sebut kata "Arm" nyaris tak disebut di keynote RTX Spark
  • AMD klaim pengalaman 30 tahun di pasar laptop jadi keunggulan

Telset.id – AMD merespons peluncuran Nvidia RTX Spark dengan klaim bahwa arsitektur x86 miliknya masih unggul untuk laptop, menegaskan bahwa kategori laptop dengan unified memory bukanlah inovasi baru yang diciptakan Nvidia. Mike Nordquist, CVP of Client Product Marketing AMD, menyatakan bahwa perusahaannya telah memulai arsitektur tersebut melalui Strix Halo pada awal 2025, jauh sebelum Nvidia memperkenalkan RTX Spark bersama Microsoft Surface Laptop Ultra.

Pernyataan ini muncul langsung setelah sesi pengungkapan RTX Spark. Nordquist menyampaikan argumen pragmatis mengapa AMD menilai generasi kedua Ryzen AI Max 400 series dengan codename Gorgon Point Halo meninggalkan produk baru Nvidia tersebut. Ia menilai masuknya Nvidia ke kategori ini sebagai validasi pasar, bukan sebagai penemuan kategori yang benar-benar baru.

“Bagian yang menarik adalah perkembangan kategorinya. Kami memperkenalkan produk serupa pada awal 2025, jadi semakin banyak pihak yang masuk dan memvalidasi hal itu, dan Anda melihat Microsoft memperkuat diri, saya pikir itu bagus secara keseluruhan. Kompetisi bagus secara keseluruhan,” kata Nordquist.

Keunggulan Kapasitas Memori dan Arsitektur x86

Inti dari argumen AMD terletak pada kapasitas memori. RTX Spark dibatasi pada 128GB unified memory, sementara Gorgon Halo mendorong batas tersebut hingga 192GB. Menurut Nordquist, kapasitas lebih besar itu memungkinkan pengguna menjalankan model AI yang lebih besar hingga 300 miliar parameter, yang menjamin kualitas lebih tinggi.

“Kami berada di generasi kedua yang baru kami umumkan bulan lalu, yang menghadirkan kapasitas 50% lebih besar [dibanding RTX Spark]. Jadi Anda bisa mendapatkan model [AI] dengan kemampuan lebih tinggi daripada yang mungkin Anda lihat hari ini,” ujar Nordquist.

Selain kapasitas memori, AMD menyoroti arsitektur x86 yang telah digunakan PC Windows selama lebih dari 30 tahun. Nordquist menegaskan bahwa seluruh aplikasi berjalan native di produk AMD, tanpa emulasi, sehingga game dapat berjalan langsung tanpa khawatir kompatibilitas. Ia mempertanyakan bagaimana pengalaman CPU pada RTX Spark yang menggunakan arsitektur Arm.

Ia juga menepis anggapan keunggulan arsitektur Arm. “Saya tidak berpikir ada yang ajaib dari beralih ke Arm—bahwa itu akan lebih hemat daya atau atribut lain di luar sana. Saya tidak berpikir kami pernah mempercayai itu, dan saya tidak berpikir Intel mungkin juga mempercayai itu,” jelas Nordquist.

Nordquist menyoroti bahwa dalam seluruh sesi keynote peluncuran RTX Spark, kata “Arm” nyaris tidak disebutkan sama sekali. Menurutnya, hal itu menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab terkait pengalaman penggunaan produk tersebut. Ia menyebut bahwa pihaknya belum mengetahui seberapa baik kinerja CPU pada perangkat itu.

Ia menambahkan bahwa pengguna yang memilih produk AMD membeli sesuatu yang sudah pasti bekerja tanpa perlu mengkhawatirkan potensi masalah kompatibilitas. Menurutnya, pendekatan ini memberikan kepastian bagi pengguna dibandingkan harus berurusan dengan lapisan emulasi.

Pengalaman 30 Tahun di Pasar Laptop

AMD juga menekankan rekam jejaknya di pasar laptop. Nordquist menyatakan bahwa Nvidia relatif baru di pasar laptop secara umum, sementara AMD telah berkecimpung di ruang ini selama lebih dari 30 tahun. Pengalaman itu, menurutnya, membuat AMD memahami cara menjalankan Windows dengan baik, termasuk menghadapi tantangan thermal throttling, kurva baterai, status sleep, dan perangkat lunak legacy.

Nordquist menjelaskan bahwa membangun platform laptop standalone adalah hal yang berbeda dari membuat GPU diskrit. Menurutnya, AMD telah melalui 12 bulan untuk mengumpulkan umpan balik konsumen dan menyempurnakan silikon generasi keduanya. Ia menilai Nvidia memang membawa daya tarik besar, tetapi AMD tidak akan mundur dari persaingan ini.

Perdebatan ini menyoroti beberapa hambatan Arm yang menjadi tantangan Nvidia. Pertama, biaya kompatibilitas: Microsoft telah mengerjakan lapisan Windows Prism Emulation untuk menerjemahkan aplikasi x86 ke Arm, namun proses terjemahan itu masih berisiko menimbulkan penurunan performa pada kasus tertentu. Sebaliknya, arsitektur x86 AMD menjamin tidak ada overhead terjemahan untuk perangkat lunak berat dan gaming PC native.

Kedua, batas memori: kapasitas 128GB unified memory Nvidia memang mengesankan, tetapi plafon 192GB AMD memberi ruang 50% lebih besar untuk AI lokal dengan lebih banyak agen yang berjalan bersamaan. Ketiga, realitas kategori: Nvidia baru bergabung ke ajang yang sudah dimasuki AMD setahun sebelumnya.

Menariknya, topik ini juga bersinggungan dengan isu lain di industri, seperti langkah Anthropic Larang Perilaku yang menunjukkan perhatian industri terhadap tata kelola AI. Sementara itu, di sektor otomotif, Tekanan Tesla ke Regulator menandakan bahwa adopsi teknologi baru selalu menghadapi pertanyaan kesiapan dan regulasi.

AMD dan Nvidia kini berada di jalur yang berbeda untuk laptop AI. Nvidia mengandalkan arsitektur Arm dengan efisiensi daya, sementara AMD bertahan pada x86 dengan jaminan kompatibilitas dan kapasitas memori lebih besar. Nordquist menegaskan bahwa pertanyaan seputar pengalaman Arm pada RTX Spark masih belum terjawab.

Ia menutup dengan nada percaya diri bahwa produk AMD siap bekerja sejak awal tanpa perlu kekhawatiran. “Tidak ada emulasi; game akan berjalan native. Anda membeli sesuatu yang akan bekerja, dan tidak perlu khawatir apakah ada yang rusak. Anda pada dasarnya terlindungi dengan apa yang kami miliki,” pungkasnya.

Dengan kedua kubu yang sama-sama yakin, penentu akhirnya bukan lagi klaim di atas panggung, melainkan hasil pengujian di dunia nyata. Pertanyaannya kini apakah silikon Arm Nvidia mampu menandingi kekuatan x86 AMD yang sudah teruji. Bagi konsumen, persaingan ini berpotensi menghadirkan pilihan laptop AI dengan kapasitas memori lebih besar dan ekosistem yang lebih matang.

[IMAGE_PLACEHOLDER]
Nvidia RTX Spark vs AMD Ryzen AI MAX

Ikuti Telset.id di Google NewsFollow

Komentar

Belum ada komentar.